Fenomena Double Income di Bali: Antara Kebutuhan dan Realitas Hidup

Pasangan suami istri di Bali sedang bekerja di tempat terpisah, menggambarkan kehidupan modern dengan dua sumber penghasilan.
Double income, suami dan istri yang sama-sama harus bekerja, kini menjadi salah satu realitas kehidupan di Bali (Foto: Dokumentasi)

Laporan terbaru Roy Morgan menunjukkan bahwa hampir semua pasangan suami istri di Indonesia kini harus bekerja untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga mereka.

Lebih dari 60% pasangan di hampir seluruh provinsi tercatat memiliki pendapatan ganda (double income).

Fenomena ini mencerminkan bahwa bekerja bagi kedua pasangan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang tak terelakkan.

Tekanan Kebutuhan Finansial

Hasil laporan tersebut mengungkapkan bahwa mayoritas keluarga di Indonesia memerlukan dua sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari.

Hanya beberapa provinsi yang masih menunjukkan dominasi keluarga dengan satu sumber penghasilan (single income), seperti Banten (28%), Sulawesi Selatan (30%), dan Sulawesi Utara (29%).

Sementara itu, Pulau Bali mencatat angka cukup tinggi yaitu 75% pasangan suami istri memiliki pendapatan ganda, menandakan tekanan finansial yang cukup besar di pulau ini.

Baca juga:
🔗 Tren Konsumsi Instan di Bali: Antara Efisiensi Waktu dan Kesehatan Keluarga

Kisah Ngurah dan Nyoman: Bekerja Bersama Demi Keluarga

Salah satu pasangan yang mencerminkan fenomena ini adalah Ngurah dan Nyoman, suami istri yang tinggal di Denpasar. Keduanya bekerja di perusahaan yang sama.

Ngurah memegang tanggung jawab besar sebagai sekretaris direktur, sementara sang istri, Nyoman, bertugas di bagian hospitality dengan jam kerja yang lebih fleksibel.

“Bagaimana lagi? Situasi ini harus dijalani karena kebutuhan semakin meningkat. Kami punya 4 anak, dan selain kebutuhan sehari-hari, biaya untuk upacara serta sembahyang juga cukup besar,” ujar Ngurah.

Akan tetapi dengan istri bekerja sangat membantu kami dalam menjalani situasi kami saat ini antara kewajiban keluarga dan adat budaya tradisi bali yang harus dijalani . 

Nyoman menambahkan hal serupa. “Di Bali, biaya hidup terus naik, belum lagi kebutuhan untuk kegiatan adat dan agama. Mau tak mau, kami berdua harus bekerja. Kadang saat saya libur, saya mengurus anak-anak sendiri, tapi sering juga dibantu babysitter dan mertua,” tuturnya.

Realitas Sosial di Pulau Bali

Kisah Ngurah dan Nyoman mencerminkan realitas yang dihadapi banyak keluarga di Bali. Selain tingginya biaya hidup dan pendidikan, kebutuhan spiritual seperti upacara dan persembahyangan juga menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Hal ini menjadikan double income sebagai fenomena yang semakin umum dan bahkan dianggap wajib bagi banyak pasangan.

Baca juga:
🔗 Perempuan Bali: Penjaga Harmoni di Balik Setiap Upacara Adat

Fenomena ini bukan hanya mencerminkan perubahan gaya hidup, tetapi juga menunjukkan tantangan sosial dan ekonomi baru yang dihadapi keluarga modern di Bali.

Antara tanggung jawab pekerjaan, keluarga, dan adat, banyak pasangan kini belajar menyeimbangkan kehidupan dengan kesadaran bahwa bekerja berdua adalah bagian dari perjuangan untuk tetap bertahan dan berbahagia di tengah realitas yang terus berubah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *