“Kadang saya jenuh, ingin rasanya berhenti dari dunia jurnalis,” ujar seorang wartawan senior yang sudah lama akrab di kalangan pewarta Bali, khususnya di desk hukum dan kriminal.
Di balik ucapannya yang sederhana, tersimpan kisah panjang seorang lelaki yang telah lebih dari dua dekade mengabdikan diri di dunia penuh dinamika: jurnalistik.
Dua puluh tahun bukanlah waktu singkat. Sejak pertama kali menapaki profesi wartawan, ia sudah ditempa oleh beragam pengalaman pahit maupun manis.
Ia merasakan kerasnya kejar deadline, panasnya lapangan liputan, hingga tegangnya berhadapan dengan narasumber yang enggan berbicara.
“Wartawan itu kadang dianggap teman, kadang dianggap musuh,” katanya sambil tersenyum tipis.
Dari situlah ia belajar bahwa jurnalis bukan sekadar penulis berita. Lebih dari itu, ia harus mampu membangun kepercayaan, menjaga integritas, dan memahami sisi manusia dari berbagai sudut pandang.
Baca juga:
🔗 Gino Franki Hadi: Melihat Peristiwa dari Lensa Pengalaman
Kini wajah jurnalistik tak lagi sama. Jika dahulu wartawan menjadi sumber utama informasi, kini media sosial sering kali lebih cepat menyebarkan kabar, meski belum tentu benar.
“Dulu kita kejar fakta, data, dan narasumber. Sekarang, isu viral kadang lebih dipercaya ketimbang laporan wartawan. Padahal kebenarannya belum jelas,” ujarnya.
Bagi dirinya, kondisi ini adalah tantangan. Di satu sisi, media dituntut mengikuti derasnya arus informasi digital.
Namun di sisi lain, nilai utama jurnalisme keakuratan, verifikasi, dan kejujuran tidak boleh dikorbankan.
Meski perubahan zaman kerap membuatnya lelah, ia tetap bertahan. Baginya, jurnalisme bukan sekadar profesi, melainkan jalan hidup.
“Saya sudah terlalu lama berada di jalan ini. Kalau berhenti, rasanya ada bagian diri yang hilang. Karena itu saya memilih tetap jadi wartawan dengan hati,” katanya mantap.
Di tengah derasnya arus media digital, ia berusaha menjaga api idealisme. Menurutnya, wartawan sejati bukan soal siapa yang tercepat, melainkan siapa yang mampu memberi makna melalui informasi yang benar.
Baca juga:
🔗 Hiduplah dengan Percaya Diri, Seperti Merak yang Membuka Sayapnya
Ia percaya bahwa hidup adalah perjalanan penuh misteri.
“Kita tidak pernah tahu seperti apa ke depan. Saya hanya bisa menjalani sesuai jalan yang sudah dituliskan di telapak tangan. Itu keyakinan yang saya pegang,” tuturnya dengan nada filosofis.
Filosofi itu membuatnya lebih tenang menghadapi kerasnya profesi. Ia tak lagi mengejar prestise atau pujian.
Baginya, yang terpenting adalah setia pada nurani: menuliskan kebenaran dan memberi manfaat bagi orang lain.
Selama dua dekade, ia menjadi saksi perubahan Bali dari geliat pariwisata, hingga dinamika sosial dan politik.
Setiap liputan yang ia hasilkan bukan sekadar berita, melainkan catatan sejarah yang bisa menjadi jejak untuk generasi berikutnya.
“Kadang kita tidak sadar, liputan kecil yang kita tulis hari ini bisa jadi bagian penting dari sejarah besok. Dan itu yang membuat saya bertahan, meski sering lelah,” ucapnya.
Bagi banyak jurnalis muda, ia adalah sosok rendah hati, mau berbagi pengalaman, dan konsisten menjalani profesinya.
Meski kerap berseloroh ingin berhenti, semangatnya menulis berita tak pernah benar-benar padam.
Baca juga:
🔗 Setiap Orang adalah Guru, Setiap Tempat adalah Sekolah
Perjalanan wartawan senior ini menjadi cermin bahwa profesi jurnalis bukan sekadar pekerjaan untuk mencari nafkah. Ia adalah panggilan hidup yang menuntut dedikasi, kesabaran, dan keberanian.
Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, ia tetap teguh pada keyakinan: jurnalisme harus dijalani dengan hati.
Dan mungkin, itulah yang membuatnya tetap bertahan hingga kini sebagai saksi, penulis, sekaligus penjaga cerita tentang Bali dan kehidupan di dalamnya.