Kombes Pol. Febryanto Siagian: Langkah yang Berawal dari Ketaatan, Berlabuh di Korps Brimob

Penyerahan Panji Pataka Dhuaja Satbrimobda Polda Bali kepada Kombes Pol. Febryanto Siagian.
Panji Pataka Dhuaja satuan di lingkungan Satbrimobda Polda Bali diserahkan kepada Kombes Pol. Febryanto Siagian, S.H., S.I.K., M.Si., selaku Dansat Brimob Polda Bali saat ini. (Foto: Dokumentasi)

Belum lama sejak resmi menerima tongkat komando sebagai Dansat Brimob Polda Bali, Kombes Pol. Febryanto Siagian, S.H., S.I.K., M.Si., terlihat langsung disibukkan dengan berbagai agenda kedinasan.

Beragam kegiatan, baik internal maupun eksternal, menjadi bagian dari tanggung jawab barunya dalam memimpin salah satu satuan elite Polri di Pulau Dewata.

Namun, di balik jabatan tersebut, perjalanan Febryanto menuju Korps Brimob bukanlah sesuatu yang sejak awal ia rencanakan.

Ia justru sampai pada titik ini melalui serangkaian keputusan yang berawal dari nasihat orang tua, sebuah perenungan, serta dorongan hati yang muncul pada waktu yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

Berawal dari Nasihat Orang Tua

Pria kelahiran 1978, yang berasal dari keluarga Batak, Sumatera Utara, dan dibesarkan di Jakarta, merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1999.

Sebagai anak pertama dari lima bersaudara, keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sempat harus dipertimbangkan kembali, terutama karena kondisi keluarga saat itu.

Sebuah seminar kerohanian kemudian menjadi salah satu momen yang mengubah arah hidupnya.

Dalam perenungan tersebut, ia kembali mengingat pesan sederhana dari orang tuanya: jika sesuatu diyakini sebagai pilihan yang terbaik, maka sebaiknya dijalani dengan sungguh-sungguh.

Pesan itulah yang kemudian mendorongnya untuk mengikuti seleksi taruna Akabri. Menariknya, ketika memasuki pendidikan, Korps Brimob sama sekali bukan pilihan awal dalam benaknya.

Saat proses penentuan matra, ia justru sempat memiliki ketertarikan untuk bergabung dengan Angkatan Udara.

Namun, perjalanan hidup ternyata membawanya ke arah yang berbeda. Pilihan yang semula tidak pernah ia rencanakan justru kelak menjadi bagian penting dalam perjalanan pengabdiannya di kepolisian, hingga akhirnya membawanya berlabuh di Korps Brimob.

Baca juga:
🔗 Dari Komando ke Kehidupan Biasa: Ketika Jabatan Hanya Titipan

Sebuah Kursi yang Mengubah Jalan Pengabdian

Ada satu momen sederhana yang kemudian menjadi titik penting dalam perjalanan pengabdiannya.

Ketika proses pemilihan penempatan di lingkungan kepolisian berlangsung, sejumlah Pejabat Utama Korps Brimob datang menawarkan kesempatan kepada para Perwira Remaja Akpol yang berminat bergabung dengan Korps Brimob.

Saat itu, Brimob belum pernah menjadi pilihan dalam pikirannya. Ia justru sebelumnya lebih membayangkan dirinya bertugas di bidang Lalu Lintas.

Namun, di tengah situasi tersebut, tiba-tiba muncul dorongan kuat dari dalam dirinya untuk maju. Tanpa banyak pertimbangan, ia melangkah dan bergabung ke dalam barisan yang ditawarkan.

Keputusan yang mungkin hanya berlangsung dalam hitungan detik itu ternyata menjadi awal dari perjalanan panjangnya bersama Korps Brimob.

Selama menjalani pendidikan di Akademi Kepolisian bakat kepemimpinannya pun mulai terlihat. Ia aktif dalam berbagai kegiatan, salah satunya Drum Band Pelopor Cendrawasih, dan dipercaya mengemban tugas sebagai Pemimpin atau Dankie Drum Band tersebut.

Kemampuan tersebut kemudian mendapat perhatian dari para senior yang melihat adanya potensi kepemimpinan dalam dirinya.

Dari pengalaman-pengalaman sederhana selama masa pendidikan itulah, langkah pengabdiannya perlahan terbentuk.

Pilihan yang awalnya tidak pernah ia rencanakan justru menjadi jalan panjang yang kemudian membawanya semakin dekat dengan Korps Brimob.

Bagi Febryanto, perjalanan tersebut bukan semata-mata hasil dari sebuah rencana manusia. Ada keyakinan bahwa setiap langkah, kesempatan, dan penugasan memiliki alasan serta jalan yang telah digariskan Tuhan.

Ia memegang satu prinsip yang terus dibawanya dalam menjalani kehidupan:

“Hidup ini hanyalah anugerah dan kasih karunia Tuhan.”

Kalimat sederhana itu menjadi cara pandangnya dalam memaknai setiap kesempatan, penugasan, hingga amanah yang hadir sepanjang perjalanan kariernya.

Sebab, baginya, tidak semua jalan harus direncanakan sejak awal. Ada kalanya seseorang hanya perlu berani melangkah ketika sebuah kesempatan datang, lalu menjalani setiap proses dengan penuh ketaatan dan tanggung jawab.

Baca juga:
🔗 Ditempa Waktu, Diuji Tekanan: Empat Belas Tahun yang Membentuk Ketepatan

Menapaki Jalan Pengabdian: Dari Brimob hingga Memimpin di Bali

Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1999 ini mengawali perjalanan pengabdiannya di Korps Brimob Polri pada tahun 2000. Sejak awal, ia banyak ditempa melalui berbagai penugasan operasional yang membentuk pengalaman sekaligus karakter kepemimpinannya.

Di lingkungan Brimob, Febryanto pernah dipercaya sebagai Komandan Pleton (Danton) di Yon C Resimen 3 Pelopor, kemudian menjabat Wakil Komandan Kompi (Wadanki) dan Komandan Kompi 5 Yon C Pelopor. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK).

Usai menyelesaikan pendidikan PTIK pada 2006, ia ditempatkan di Polda Riau dan dipercaya mengemban tugas sebagai Komandan Kompi (Danki) III Sat Brimob.

Pada periode yang sama, ia juga mendapat pengalaman penugasan di kewilayahan sebagai Kapolsek Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Hilir, Riau.

Semangat untuk terus mengembangkan diri kemudian membawanya memperoleh beasiswa melanjutkan pendidikan S-2 di Universitas Indonesia pada 2008, melalui Program Kajian Ilmu Kepolisian.

Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, pada 2010 ia kembali bertugas di Korbrimob Polri sebagai Paur Lat Ops Bag Ops Mako Korbrimob Polri. Perjalanan kariernya kemudian berlanjut sebagai Kasi Ops Sat Gegana Korbrimob Polri.

Dalam perjalanan berikutnya, ia dipercaya mengemban sejumlah tugas strategis di lingkungan Korbrimob, termasuk sebagai Komandan Detasemen (Danden) Lawan Teror Sat I Gegana serta sejumlah penugasan pada beberapa Operasi Kepolisian.

Kariernya kemudian berlanjut di Polda Kalimantan Timur sebagai Danden Gegana, sebelum dipercaya memimpin satuan Pelopor di Samarinda.

Berbagai penugasan tersebut semakin memperkaya pengalaman Febryanto, baik dalam aspek operasional maupun kepemimpinan.

Pada 2020, ia mengikuti pendidikan Sespimen Polri. Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, pada November 2020 ia mendapat penugasan di Polda Sulawesi Barat dan mengemban tugas di bidang operasi.

Sekitar sembilan bulan kemudian, pada Agustus 2021, ia dipercaya menjabat sebagai Kapolres Majene.

Perjalanan pengabdiannya kemudian berlanjut ke Polda Kalimantan Utara sebagai Kabag terkait di lingkungan kepolisian daerah tersebut. Setelah itu, ia mendapat penugasan sebagai penata kebijakan Kapolri tingkat III di Bali.

Hingga akhirnya, perjalanan panjang tersebut membawanya kembali ke lingkungan yang sejak awal menjadi bagian penting dalam kariernya. Febryanto dipercaya mengemban amanah sebagai Dansat Brimob Polda Bali.

Jika ditarik ke belakang, perjalanan kariernya memperlihatkan satu benang merah: dari Brimob, beranjak ke berbagai penugasan kewilayahan, memperkaya diri melalui pendidikan, kemudian kembali lagi ke Korps Brimob dengan pengalaman yang jauh lebih luas.

Bali dan Amanah yang Baru

Sebelum dipercaya menjadi Dansat Brimob Polda Bali, Febryanto mendapat penugasan di Bali dalam kapasitas sebagai penata kebijakan Kapolri tingkat III.

Kini, perjalanan panjang tersebut membawanya kembali lebih dekat dengan Korps Brimob. Sejak lulus Akpol pada 1999 dan melewati berbagai penugasan, inilah untuk pertama kalinya ia dipercaya menjadi Dansat Brimob pada tingkat Polda.

Penunjukan sebagai Dansat Brimob Polda Bali menjadi babak baru dalam perjalanan pengabdiannya.

Pengalaman panjang di Korbrimob, Gegana, operasi, kepemimpinan satuan, hingga tugas kewilayahan menjadi bekal yang dibawanya ke Pulau Dewata.

Pengalaman selama bertugas di Kalimantan Utara juga menjadi salah satu bagian yang ia pandang sebagai pelajaran hidup.

Karena itu, ketika akhirnya mendapat amanah bertugas di Bali, ia tidak melihatnya sekadar sebagai sebuah jabatan, melainkan sebagai anugerah yang patut disyukuri.

Kini, di tengah kesibukan menjalankan tugas barunya, Kombes Pol. Febryanto Siagian membawa sebuah keyakinan yang sederhana: perjalanan hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana manusia.

Kadang, sebuah keputusan kecil, sebuah nasihat orang tua, bahkan sebuah langkah spontan menuju sebuah kursi, dapat menjadi awal dari perjalanan panjang yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Dari sebuah pilihan yang awalnya bukan tujuan, ia akhirnya berlabuh di Korps Brimob, menjalani pengabdian dengan keyakinan bahwa setiap langkah adalah bagian dari anugerah dan kasih karunia Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *