Festival Penglipuran XIII 2026, Harmoni Budaya Menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan, dan Regeneratif

Kawasan Tugu Pahlawan Penglipuran sebagai lokasi Festival Harmoni Bhumi Penglipuran 2026.
Harmoni Bhumi Penglipuran: Menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan, dan Regeneratif. Festival ini akan berlangsung pada 9–11 Juli 2026 di kawasan Tugu Pahlawan Penglipuran. (Foto: Moonstar)

Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali, yang dikenal sebagai salah satu desa terbersih di dunia, kembali menggelar Festival Penglipuran XIII 2026.

Mengusung tema “Harmoni Bhumi Penglipuran: Menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan, dan Regeneratif”, festival ini akan berlangsung pada 9–11 Juli 2026 di kawasan Tugu Pahlawan Penglipuran.

Festival tahunan ini menjadi salah satu upaya masyarakat Desa Penglipuran dalam menjaga kelestarian budaya, tradisi, dan lingkungan yang selama ini menjadi identitas desa wisata tersebut.

Tidak hanya menghadirkan berbagai pertunjukan seni dan budaya, festival juga dimeriahkan dengan hiburan musik dari musisi dan penyanyi lokal Bali.

Baca juga:
🔗 Desa Penglipuran, Harmoni Tradisi dan Kebersihan yang Mendunia

Hari Pertama: Perayaan Tradisi dan Budaya

Rangkaian acara pembukaan dimulai pada 9 Juli 2026 pukul 08.30–12.00 WITA dengan Opening Ceremony yang menampilkan berbagai pertunjukan budaya.

Seperti Tari Pendet, Parade Gebogan, Tari Gabor, peluncuran logo festival, pemutaran video sejarah Desa Penglipuran, pelepasan burung sebagai simbol keharmonisan alam, pertunjukan Legong Mesatya, persembahan tari dari anak-anak pasraman, serta penampilan musik dari CAN Band.

Pada siang hari, pukul 13.00–14.30 WITA, dilaksanakan penilaian Lomba Gebogan dan Lomba Penjor yang menjadi bagian dari pelestarian tradisi masyarakat Bali.

Memasuki malam hari, suasana festival semakin semarak dengan penampilan kesenian dan hiburan musik oleh warga lokal, serta pertunjukan Bondres BBO yang siap menghibur para pengunjung.

Baca juga:
🔗 Filosofi Tersembunyi di Balik Megahnya Gebogan Bali

Hari Kedua: Edukasi dan Kreativitas Budaya

Memasuki hari kedua, festival menghadirkan kegiatan Talk Show yang membahas berbagai isu mengenai budaya dan pariwisata berkelanjutan.

Selain itu, digelar pula Lomba Fashion Show Busana Tempo Doeloe yang mengangkat kembali keindahan busana tradisional sebagai bagian dari warisan budaya Bali.

Pada malam harinya, panggung hiburan akan diisi oleh penampilan musisi Bali, di antaranya Bagus Parijata, Gek ray, dan Ray Peni, yang siap menghibur masyarakat dan wisatawan.

Baca juga:
🔗 Penjor Era Modern, Tradisi Bali yang Tetap Bersinar di Tengah Perkembangan Zaman

Hari Ketiga: Penutup yang Penuh Semangat

Hari terakhir festival diawali dengan kegiatan Yoga Ketawa pada pukul 06.30–09.00 WITA, mengajak masyarakat memulai hari dengan semangat positif dan gaya hidup sehat.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan hadiah bagi para pemenang berbagai lomba yang telah digelar selama festival.

Sebagai penutup, panggung hiburan akan menghadirkan musisi lokal Bali seperti Tri Puspa, XXX Band, serta Kiss Band featuring Yessy Diana, yang akan menutup Festival Penglipuran XIII 2026 dengan penuh kemeriahan.

Menjaga Warisan untuk Generasi Mendatang

Festival Penglipuran XIII 2026 bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan wujud nyata komitmen masyarakat dalam menjaga Desa Penglipuran sebagai destinasi wisata berbasis budaya yang tetap lestari.

Melalui perpaduan tradisi, seni, edukasi, dan hiburan, festival ini diharapkan mampu memperkuat identitas Desa Penglipuran sebagai salah satu ikon pariwisata Bali yang mengedepankan nilai-nilai budaya, pelestarian lingkungan, serta keberlanjutan bagi generasi mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *