Jejak Pengabdian di Usia Senja: Kisah I Nyoman Ardhana dan Aksi Bersih Pantai Batu Belig

I Nyoman Ardhana mengikuti kegiatan bersih pantai sebagai bentuk kepedulian sosial dan lingkungan.
I Nyoman Ardhana tetap aktif dalam kegiatan sosial, salah satunya melalui aksi bersih pantai. (Foto: Mahendra)

Hari tua sering dimaknai sebagai masa setelah seseorang melewati fase kerja produktif, masa pensiun yang membutuhkan kesiapan fisik, mental, dan sosial.

Namun bagi seorang purnawirawan Polri seperti I Nyoman Ardhana, masa tua bukanlah akhir dari pengabdian. Justru inilah babak baru untuk meninggalkan jejak kebaikan bagi generasi selanjutnya.

Perayaan Ulang Tahun yang Penuh Makna

Hari ini, 2 Desember 2025, menjadi momen yang istimewa. Bertepatan dengan ulang tahun I Nyoman Ardhana yang ke-78, para relawan dan sahabat lingkungan berkumpul di Pantai Batu Belig untuk merayakannya dengan cara yang paling beliau cintai: aksi bersih pantai.

Terima kasih kepada semua yang hadir dan ikut mengambil bagian. Semoga kita senantiasa diberkahi kesehatan, ketenangan, dan Rahayu.

Baca juga:
🔗 Aksi Bersih Pantai Kuta: Kolaborasi Komunitas dan Pelaku Pariwisata Menyambut Akhir Tahun

Meski memasuki usia senja, semangat Ardhana menjaga lingkungan tidak pernah surut. Beberapa tahun lalu ia bergabung dengan Yayasan BumiKita Nuswantara, sebuah gerakan sosial yang fokus pada edukasi dan aksi pelestarian lingkungan, terutama pengelolaan sampah.

Di bawah chapter Pantai Legian, ia ikut menyalakan gerakan kecil yang kini tumbuh menjadi kekuatan besar: kampanye peduli pantai, pengurangan plastik sekali pakai, dan pembangunan budaya hidup berkelanjutan.

Bagi Ardhana, BumiKita bukan sekadar komunitas. Ini adalah ruang bertemunya jiwa-jiwa yang memiliki tujuan sama, merawat bumi dengan cinta.

“Waktu lihat komunitas peduli sampah, saya langsung ingin ikut. Dari situ saya sadar, menjaga lingkungan itu tidak bisa sendiri, harus bersama-sama,” ujarnya mengenang langkah awalnya.

Rutinitas dengan Hati yang Ringan

Tinggal di Denpasar Barat tidak menghalanginya untuk rutin turun ke Pantai Legian. Setiap Jumat dan Minggu ia selalu tiba lebih awal, menyiapkan sarung tangan, karung, dan perlengkapan sederhana untuk dipakai para relawan. Ketika kegiatan bertambah, ia bahkan bisa turun ke lapangan lima kali dalam seminggu.

“Kalau sudah niat, jarak itu bukan masalah. Saya jalanin dengan happy,” katanya sambil tersenyum.

Kedisiplinan yang ia bangun selama bertugas di kepolisian kini menjadi energi yang menggerakkan langkah-langkah kecilnya memungut sampah satu per satu. Bagi sebagian orang itu pekerjaan sederhana; bagi Ardhana, itu adalah bentuk kasih.

Sejak kecil, Ardhana dibesarkan dalam budaya Bali yang sarat nilai. Ajaran Tri Hita Karana, harmoni dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam, menjadi pedoman hidupnya.

Karena itu, bergabung dengan BumiKita adalah bagian dari yadnya: persembahan tulus untuk alam. Setiap sampah yang ia pungut adalah doa kecil, wujud syukur atas udara, air, dan kehidupan yang ia terima.

“Alam itu titipan. Kita wajib merawatnya,” ucapnya pelan namun penuh kekuatan batin.

Baginya, pantai bukan sekadar objek wisata, tapi ruang sakral yang harus dihormati.

Perubahan Dimulai dari Langkah Kecil

Ardhana percaya bahwa menjaga lingkungan bukan hanya soal fisik, tetapi perubahan pola pikir.

“Mengubah mindset itu sulit. Tapi tetap harus mulai dari diri sendiri,” tegasnya.

Ia mempraktikannya melalui kebiasaan sehari-hari:

  • Membawa botol minum sendiri,
  • Mengurangi plastik sekali pakai,
  • Memilih produk ramah lingkungan,
  • Mengajak orang-orang di sekitarnya melakukan hal sama.

Ia menjelaskan pentingnya menjaga pantai dengan cara lembut, ramah, dan tidak menggurui, bahkan ketika berbicara dengan pedagang, wisatawan, atau anak muda yang baru pertama kali ikut aksi.

Baca juga:
🔗 Menjaga Warisan Hijau Bali

Warisan untuk Generasi Selanjutnya

Di usia 78 tahun, Ardhana tidak hanya menyumbangkan tenaga, tetapi membangun warisan nilai. Ia ingin anak-anak muda memahami bahwa menjaga bumi bukanlah tren sesaat, melainkan karakter, gaya hidup, dan kewajiban moral.

Baginya, tidak ada hadiah ulang tahun yang lebih indah selain melihat pantai semakin bersih dan semakin banyak orang sadar bahwa bumi memerlukan uluran tangan kita.

Perayaan ulang tahun I Nyoman Ardhana hari ini bukan hanya tentang bertambahnya usia, tetapi pengingat bahwa siapa pun, tanpa memandang umur, dapat menjadi agen perubahan.

Semoga semangat beliau menginspirasi banyak orang untuk bergerak, menggerakkan hati, dan menjaga bumi dengan lebih sungguh, dimulai dari langkah paling sederhana.

Rahayu. Semoga bumi terus melindungi kita, sebagaimana kita berusaha menjaganya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *