Jejak Majapahit yang Masih Berdiri Tegak

Tampak Candi Bajang Ratu berdiri kokoh dengan detail arsitektur kuno yang masih terjaga.
Candi Bajang Ratu bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa sejarah tidak pernah benar-benar pergi. (Foto: Moonstar)

Salah satu peninggalan besar Kerajaan Majapahit yang hingga kini masih dapat dinikmati adalah Candi Bajang Ratu.

Terletak di Jl. Candi Tikus No.9, Pelem, Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, candi ini berdiri anggun sebagai saksi kejayaan masa lalu.

Dari kejauhan, bangunan tinggi berbahan bata merah ini langsung memikat perhatian. Bentuknya yang menjulang ramping dengan detail relief yang halus menghadirkan kesan megah sekaligus artistik.

Warna bata merah yang khas menjadi identitas kuat arsitektur Majapahit, menghadirkan nuansa hangat dan historis dalam satu pandangan.

Baca juga:
🔗 Membaca Peradaban dari Relief yang Terlupakan

Jejak Sejarah dan Makna

Gapura Bajang Ratu, sebagaimana namanya, merupakan sebuah gapura paduraksa peninggalan Majapahit yang berada di Desa Temon, Kecamatan Trowulan.

Para ahli memperkirakan bahwa bangunan ini didirikan untuk menghormati Raja Jayanegara, raja kedua Majapahit.

Perkiraan tersebut didasarkan pada adanya relief Sri Tanjung di bagian kaki gapura yang menggambarkan kisah peruwatan, ritual penyucian diri.

Relief bertema serupa juga ditemukan di Candi Surawana, yang diduga dibangun berkaitan dengan wafatnya Bhre Wengker.

Kehadiran relief tersebut memperkuat dugaan bahwa Bajang Ratu memiliki fungsi simbolis sebagai penghormatan sekaligus tempat ritual yang berkaitan dengan kematian bangsawan Majapahit.

Lebih dari sekadar bangunan, Bajang Ratu adalah narasi yang dipahat dalam bata dan relief, tentang kekuasaan, kehilangan, dan penghormatan.

Keindahan Arsitektur Bata Merah

Keunikan utama Candi Bajang Ratu terletak pada struktur gapuranya yang tinggi dan ramping. Ornamen-ornamen halus menghiasi bagian atap dan tubuh candi, memperlihatkan kematangan seni bangunan era Majapahit.

Detail ukiran yang masih terlihat hingga kini menunjukkan betapa tingginya peradaban arsitektur pada masa itu.

Bagi pecinta sejarah dan budaya, tempat ini bukan hanya destinasi wisata, melainkan ruang refleksi tentang perjalanan panjang Nusantara.

Baca juga:
🔗 Ukiran yang Tak Pernah Bicara, Namun Selalu Mengingatkan

Waktu Terbaik untuk Berkunjung

Salah satu waktu terbaik menikmati keindahan Bajang Ratu adalah di pagi hari. Cahaya matahari yang lembut menyinari permukaan bata merah, menciptakan bayangan dramatis dan suasana yang magis.

Bagi pecinta fotografi, momen pagi menjadi saat yang ideal untuk menangkap keindahan arsitektur dengan pencahayaan alami yang spektakuler.

Udara yang masih segar dan suasana yang relatif tenang membuat pengalaman berkunjung terasa lebih khusyuk dan mendalam.

Informasi Kunjungan

  • Jam Operasional: Setiap hari, pukul 07.00 – 16.45 WIB
  • Harga Tiket Masuk: Rp3.000 per orang (serta mengisi daftar tamu)


Dengan biaya yang sangat terjangkau, pengunjung dapat menyaksikan langsung salah satu warisan penting Majapahit yang masih berdiri kokoh hingga kini.

Candi Bajang Ratu bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa sejarah tidak pernah benar-benar pergi, ia tetap berdiri, menunggu untuk kembali dipahami dan dihargai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *