“Semua yang berwujud benda dapat hilang dari dirimu, tetapi kebaikan, kebijaksanaan, dan keberanian akan selalu ada dalam dirimu.”
Kalimat itu terlontar dari seorang purnawirawan jenderal bintang dua, Irjen Pol. (P) Drs. Waris Agono, M.Si.
Bagi sosok yang menghabiskan 36 tahun pengabdiannya di Kepolisian Negara Republik Indonesia, termasuk di Korps Brimob, kalimat tersebut bukan sekadar nasihat. Ia merupakan prinsip yang tumbuh dari perjalanan panjang sebuah pengabdian.
Waris Agono pernah dipercaya menduduki sejumlah posisi penting dalam kepolisian, termasuk sebagai kepala kepolisian daerah.
Namun, seluruh jabatan tersebut pada akhirnya hanya menjadi bagian dari perjalanan hidup. Ketika masa dinas selesai, yang tersisa bukan lagi pangkat, jabatan, ataupun seragam, melainkan karakter dan nilai yang dibangun selama menjalani kehidupan.
Kini, ia menikmati kehidupan sebagai orang biasa. Tidak lagi disibukkan dengan rutinitas kedinasan, ia menjalani hari bersama sang istri dan menekuni usaha yang telah dipersiapkan sejak masih aktif berdinas.
Bagi Waris, persiapan menghadapi masa purna tugas bukan sesuatu yang baru dipikirkan ketika masa jabatan berakhir.
Sejak jauh hari, ia telah membangun kehidupan yang kelak dapat dijalani tanpa harus bergantung pada kedinasan.
Ada kesadaran bahwa setiap jabatan memiliki batas waktu. Karena itu, kehidupan setelah pensiun pun perlu dipersiapkan. Ketika seragam akhirnya dilepas, seseorang harus tetap memiliki kehidupan, keluarga, aktivitas, dan nilai yang membuat dirinya tetap berarti.
Baca juga:
🔗 Dari Pengabdian ke Babak Baru: Jejak 35 Tahun 9 Bulan Waris Agono di Polri
Puluhan tahun mengabdi di lingkungan Kepolisian, termasuk di Korps Brimob dan pernah dipercaya menjadi Kapolda Maluku Utara, membentuk cara pandang Waris Agono terhadap kehidupan. Dari perjalanan panjang yang penuh tanggung jawab, keputusan, dan risiko, ia memahami bahwa keberanian tidak selalu berarti menghadapi situasi berbahaya.
Keberanian juga berarti berani mengambil keputusan, bertanggung jawab atas pilihan yang diambil, serta menerima kenyataan bahwa setiap perjalanan pada akhirnya memiliki batas.
Begitu pula dengan kebijaksanaan. Ia tidak semata-mata lahir dari pendidikan atau pengalaman formal, tetapi tumbuh dari berbagai peristiwa, tantangan, dan proses panjang yang dilewati selama puluhan tahun pengabdian.
Sementara kebaikan tidak mengenal batas jabatan. Pangkat, posisi, fasilitas, dan berbagai atribut kedinasan pada akhirnya akan ditinggalkan ketika masa tugas berakhir. Namun, ada sesuatu yang seharusnya tetap melekat, karakter.
Baca juga:
🔗 Dari Komando ke Kehidupan Biasa: Ketika Jabatan Hanya Titipan
Hari-hari Waris Agono kini terasa berbeda. Tidak ada lagi tuntutan kedinasan yang mengatur setiap langkah. Ia memiliki ruang yang lebih luas untuk menikmati kehidupan bersama keluarga dan menjalankan usaha yang telah disiapkan.
Perubahan dari seorang pejabat kepolisian menjadi masyarakat biasa bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Justru di fase inilah seseorang dapat melihat kembali dirinya tanpa atribut yang melekat pada jabatan.
Di tengah kehidupan yang lebih sederhana itu, nilai-nilai yang dibawanya selama bertugas tetap menjadi pegangan.
Baginya, masa pensiun bukan akhir dari pengabdian kepada kehidupan. Ini adalah babak baru, ketika pengalaman dan karakter yang telah dibentuk selama puluhan tahun dapat diterjemahkan dalam bentuk kehidupan yang lebih tenang.
Baca juga:
🔗 Menolak Post Power Syndrome: Memilih Hidup Sederhana dan Bermakna
Perjalanan panjang Waris Agono mengingatkan bahwa jabatan pada akhirnya adalah amanah yang memiliki batas waktu. Seragam akan dilepas, ruang kerja akan ditinggalkan, dan posisi akan digantikan oleh orang lain.
Namun ada hal yang tidak semestinya ikut pensiun: kebaikan, kebijaksanaan, dan keberanian. Tiga hal itu menjadi bekal yang tidak membutuhkan pangkat maupun jabatan.
Sebab pada akhirnya, ukuran seseorang bukan hanya tentang setinggi apa posisi yang pernah didudukinya, tetapi tentang karakter seperti apa yang tetap ia bawa ketika semua atribut itu sudah tidak lagi melekat.
Dan kini, setelah 36 tahun mengabdi, Waris Agono sedang menjalani bagian lain dari perjalanannya, menjadi dirinya sendiri, bersama keluarga, dengan kehidupan yang telah dipersiapkan jauh sebelum seragam itu akhirnya dilepas.