Di bawah kepemimpinan Irjen Pol Drs. Waris Agono, M.Si., berbagai program yang menyentuh langsung lingkungan internal dan masyarakat sekitar mulai dijalankan dengan pendekatan yang humanis dan membumi. Salah satu program yang paling terasa dampaknya adalah Jumat Berkah.
Program ini sederhana, namun sarat makna. Setiap hari Jumat, disiapkan makan siang bagi jamaah dan masyarakat.
Bukan hanya anggota kepolisian, tetapi juga warga sekitar yang berada di lingkungan Mapolda turut merasakan manfaatnya.
Di tengah dinamika tugas dan tanggung jawab institusi, hadirnya ruang berbagi seperti ini menjadi simbol kepedulian nyata dari seorang pemimpin.
Baca juga:
🔗 Irjen Pol Waris Agono: Menuntaskan Tonggak Sejarah dengan Memindahkan Mako Polda Malut ke Sofifi
Program Jumat Berkah pertama kali digulirkan saat Mapolda masih berlokasi di Ternate. Saat itu, belum genap satu bulan menjabat, Kapolda sudah memulai langkah konkret sebagai bagian dari visi kepemimpinannya, membangun dari lingkungan terdekat terlebih dahulu.
Masjid Mapolda bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan. Setelah salat Jumat, jamaah duduk bersama menikmati hidangan sederhana.
Tidak ada sekat jabatan. Tidak ada jarak antara pimpinan dan anggota. Semua menyatu dalam suasana kebersamaan.
Dari ruang kecil inilah nilai kepemimpinan ditanamkan, bahwa perhatian terhadap hal-hal mendasar seperti makan bersama dapat menciptakan kedekatan emosional dan memperkuat solidaritas internal.
Dalam institusi sebesar kepolisian, sentuhan humanis seperti ini sering kali menjadi fondasi yang menguatkan moral dan semangat kerja.
Baca juga:
🔗 Prinsip dan Integritas, Warisan Seorang Pemimpin
Ketika markas Polda dipindahkan ke Sofifi, banyak hal yang berubah secara fisik: gedung, lingkungan, dan dinamika kerja. Namun satu hal yang tidak berubah adalah komitmen terhadap Jumat Berkah.
Program ini tetap berjalan di masjid Mapolda yang baru. Perpindahan lokasi tidak menghentikan semangat berbagi.
Justru keberlanjutan program ini menjadi penegas bahwa nilai yang dipegang tidak bergantung pada tempat.
Hingga Jumat, 13 Februari 2026, hampir satu tahun program ini konsisten dilaksanakan. Dari Ternate hingga Sofifi, dari masjid lama hingga masjid baru, Jumat Berkah tetap hadir sebagai simbol kepedulian dan keberlanjutan.
Konsistensi inilah yang membedakan program seremonial dengan program berkelanjutan. Banyak inisiatif lahir dengan semangat tinggi di awal, namun meredup seiring waktu.
Jumat Berkah justru menunjukkan sebaliknya, ia bertahan karena menjadi bagian dari komitmen, bukan sekadar agenda.
Baca juga:
🔗 Pemerintah Percepat Pembangunan Jembatan, Maluku Utara Petakan Titik Prioritas
Jumat Berkah bukan sekadar tentang penyediaan makan siang. Ia adalah pesan yang lebih dalam, bahwa kepemimpinan visioner dimulai dari perhatian terhadap lingkungan kecil terlebih dahulu. Dari internal organisasi, lalu meluas kepada masyarakat sekitar.
Dalam konteks kepemimpinan, langkah ini menunjukkan beberapa hal penting:
Di tengah berbagai tantangan institusi, pendekatan humanis seperti ini menjadi pengingat bahwa kekuatan kepemimpinan tidak hanya terletak pada kebijakan besar, tetapi juga pada ketekunan menjaga hal-hal kecil yang memberi dampak nyata.
Pada akhirnya, Jumat Berkah adalah cerminan bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang arah strategis, tetapi juga tentang hati.
Dari sepiring makan siang di hari Jumat, tumbuh nilai kebersamaan, rasa saling menghargai, dan energi positif yang menguatkan organisasi. Dari Ternate ke Sofifi, dari masjid lama ke masjid baru, konsistensi itu tetap hidup.