Pemerintah Kabupaten Jembrana, Bali, pada akhir November 2025 kembali menggelar tradisi Makepung Lampit, perlombaan pacu kerbau di persawahan berlumpur yang telah menjadi ikon budaya masyarakat Jembrana.
Diselenggarakan sekali setiap tahun, tradisi ini tidak hanya menjaga warisan leluhur tetap hidup, tetapi juga berhasil menarik minat wisatawan dari berbagai daerah.
Setiap pelaksanaan Makepung Lampit, area persawahan di Kecamatan Mendoyo mendadak berubah menjadi sirkuit tanah berlumpur.
Suasana yang biasanya tenang berubah hiruk pikuk oleh suara sorak penonton, dentuman musik tradisional, dan teriakan para joki memotivasi kerbau mereka.
Sekitar empat puluh pasang kerbau tampil gagah dengan hiasan warna-warni di tanduk mereka.
Di bagian belakang, tengala atau alat bajak sawah khas Jembrana dipasang, menjadi tempat berdiri joki yang bertugas mengendalikan arah dan kecepatan kerbau.
Keahlian joki diuji di sini. Mereka harus menjaga keseimbangan, mengendalikan dua kerbau sekaligus, dan memacu mereka agar tetap berlari lurus di tengah lumpur yang licin, sebuah tantangan yang memadukan kekuatan, teknik, dan keberanian.
Baca juga:
🔗 Generasi Muda Bali Menjaga Warisan Budaya
Agar tradisi ini tidak hilang tergerus modernisasi, Pemerintah Kabupaten Jembrana menjadikan Makepung Lampit sebagai agenda tahunan resmi.
Hadiah bernilai jutaan rupiah disediakan untuk para pemenang, menjadi motivasi bagi para peternak dan joki untuk terus merawat kerbau terbaik mereka.
Tak hanya itu, pelaksanaannya juga semakin tertata sehingga menarik perhatian wisatawan. Banyak pengunjung datang bukan hanya untuk menonton, tetapi juga untuk mengenal lebih dekat budaya agraris masyarakat Jembrana.
Kesuksesan acara ini tidak terlepas dari dukungan penuh masyarakat. Bagi warga setempat, Makepung Lampit bukan sekadar lomba, tetapi bagian dari identitas, kebanggaan, dan bentuk penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan oleh leluhur mereka.
Baca juga:
🔗 Suasana Desa Selepas Galungan: Penjor Tetap Berdiri Menjaga Kehidupan Masyarakat
Makepung Lampit lahir dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jembrana. Pada masa lalu, para petani membajak sawah menggunakan kerbau sebelum memasuki musim tanam padi.
Di sela-sela pekerjaan, mereka sering mengadu kecepatan kerbau sebagai hiburan dan pengukur kekuatan.
Lama-kelamaan, kebiasaan tersebut berkembang menjadi tradisi komunal yang dinantikan. Makepung Lampit kemudian dilembagakan agar memiliki aturan, jadwal, dan bentuk penyelenggaraan yang lebih teratur.
Kini, tradisi ini bukan hanya permainan rakyat. Ia telah menjelma menjadi simbol kekuatan, gotong royong, dan kekayaan budaya Jembrana, sekaligus daya tarik wisata yang memperkenalkan sisi lain Bali yang jarang tersorot.
Dengan pelestarian yang konsisten dan dukungan masyarakat, Makepung Lampit menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat tetap hidup dan relevan di tengah arus modernisasi, sekaligus memberi warna baru bagi pariwisata di Bali Barat.
Makepung Lampit bukan sekadar perlombaan pacu kerbau, ia adalah cermin kehidupan masyarakat Jembrana yang menjaga keharmonisan antara tradisi, alam, dan kebersamaan.
Di tengah perubahan zaman dan modernisasi, tradisi ini tetap bertahan karena ada cinta yang besar dari masyarakat serta komitmen pemerintah untuk melestarikannya.
Semoga Makepung Lampit terus menjadi warisan budaya yang menginspirasi generasi berikutnya, sekaligus menjadi kebanggaan Jembrana yang dikenal dunia.