Ada masa ketika perjalanan hidup membawa kita bertemu dengan orang-orang yang mungkin hanya hadir sesaat, tetapi meninggalkan kenangan yang bertahan begitu lama.
Tahun 2015, di sebuah beranda kayu di Desa Setulang, Kalimantan Utara, saya mengabadikan sebuah momen sederhana bersama seorang ibu Dayak.
Tidak ada kemewahan dalam pertemuan itu. Hanya sebuah rumah, suasana yang hangat, percakapan ringan, dan tawa yang mengalir begitu saja.
Namun, dari senyumnya, saya melihat sesuatu yang lebih dalam. Ada ketenangan, ketulusan, dan jejak tradisi yang masih begitu kuat.
Kehidupan masyarakat Dayak di Desa Setulang mengajarkan bahwa warisan budaya tidak selalu hadir dalam bentuk upacara besar atau benda-benda bersejarah.
Kadang, ia hidup dalam cara seseorang tersenyum, berbicara, menghormati alam, dan menjalani kehidupan dengan sederhana.
Saat itu saya belum tahu, bahwa sebelas tahun kemudian, foto tersebut akan terasa seperti bagian dari perjalanan hidup saya sendiri.
Baca juga:
🔗 Filosofi Bahagia dalam Kesederhanaan: Senyum yang Mengajarkan Ketulusan
Sebelas tahun berlalu. Perjalanan membawa saya meninggalkan banyak tempat dan mempertemukan saya dengan begitu banyak cerita. Hingga akhirnya, langkah kehidupan membawa saya ke Bali.
Di pulau inilah cerita baru tumbuh. Kehidupan berubah, lingkungan berubah, dan saya pun berubah. Namun, ada satu hal yang tetap sama, keluarga menjadi tempat di mana kebahagiaan menemukan maknanya. Kini, kebahagiaan itu hadir dalam wajah mungil putri pertama saya.
Ketika melihat senyumnya, terkadang saya teringat pada sebuah senyum yang pernah saya abadikan sebelas tahun lalu di Kalimantan.
Dua wajah dari dua generasi yang berbeda. Dua tempat yang berjauhan. Dua cerita yang tidak pernah saya bayangkan akan memiliki hubungan emosional dalam perjalanan hidup saya.
Jika dulu saya melihat kehangatan seorang ibu dalam kesederhanaan sebuah rumah kayu, kini saya menemukan kehangatan yang sama dalam pelukan dan senyum anak saya.
Baca juga:
🔗 Ketika Orang Tua Tenang, Anak Pun Bahagia: Menikmati Waktu di Hanza Café
Waktu memang memiliki caranya sendiri untuk mengubah kehidupan. Ia mengubah tempat yang kita tinggali, mempertemukan kita dengan orang-orang baru, membawa kita jauh dari tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari perjalanan, bahkan mengubah wajah kita sendiri.
Tetapi tidak semua hal ikut berubah. Cinta tetap diwariskan. Nilai-nilai kehidupan tetap dibawa. Kenangan tetap tinggal. Dan keluarga menjadi benang yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.
Foto tahun 2015 dan foto tahun 2026 akhirnya bukan sekadar dua gambar dari dua masa yang berbeda. Keduanya seperti dua halaman dalam sebuah buku perjalanan hidup.
Satu halaman bercerita tentang perjumpaan dengan seorang ibu Dayak di tanah Borneo. Halaman berikutnya bercerita tentang kehidupan saya sebagai seorang ayah di Bali.
Sebelas tahun telah berlalu, tetapi perjalanan itu seolah mengajarkan satu hal sederhana, kita mungkin terus berjalan jauh, tetapi pada akhirnya, kebahagiaan selalu menemukan jalan untuk membawa kita pulang.
Dan mungkin, rumah yang sesungguhnya bukanlah tentang di mana kita tinggal, melainkan tentang siapa yang membuat hati kita merasa pulang.