Perjalanan, Pertanyaan, dan Sebuah Pesan di Bawah Bulan Purnama

Dua orang dalam sebuah pertemuan yang menghadirkan suasana tenang dan penuh makna.
Dalam sebuah pertemuan, kadang hadir pesan tentang kesadaran diri bagi mereka yang mau mendengar dan memahami. (Foto: Moonstar)

Perjalanan tidak selalu berisi pemandangan yang menenangkan, pertemuan yang menyenangkan, atau orang-orang yang datang tepat pada waktunya.

Ada perjalanan yang justru terasa sunyi, melelahkan, bahkan membingungkan, seperti berjalan di tepian kabut, di mana arah samar dan langkah terasa berat.

Namun justru di sanalah, di dalam ruang yang kosong dan tak terencana itu, maknanya tumbuh. Seperti benih yang membutuhkan kegelapan tanah sebelum akhirnya menembus cahaya.

Kadang kita harus melangkah jauh, menyeberangi kota, budaya, dan keyakinan hanya untuk berani mengajukan pertanyaan paling mendasar dalam hidup:

Siapa saya? Mengapa saya ada di dunia ini?

Dan untuk apa semua ini dijalani?.

Pertanyaan-pertanyaan itu jarang muncul di tempat yang nyaman. Ia hadir saat kita tersesat, berhenti sejenak, dan membiarkan diri mendengar suara dari dalam, suara yang seringkali tertutup oleh rutinitas dan harapan orang lain.

Baca juga:
🔗 Cahaya dan Bayangan: Menemukan Makna di Ruang Antara

Mencari Purnama, Menemukan Manusia

Pada bulan purnama yang lalu, di Gorontalo, seorang kawan mencoba mencari tahu di mana upacara purnama bisa dilaksanakan.

Ia menghubungi kawan-kawan di Mapala, bertanya ke sana kemari, mencari jalan dan izin agar dapat memotret sebuah peristiwa sakral.

Pencarian itu sendiri adalah sebuah perjalanan kecil: penuh ketidakpastian, mengandalkan petunjuk lisan, dan kepercayaan pada kebaikan orang asing.

Dari percakapan itulah muncul satu nama: Pak Mangku Komang. Patokannya terdengar sederhana, sebuah rumah dengan kandang bebek di sekitarnya.

Namun kesederhanaan itu justru membawa kami pada sebuah kesalahan yang indah. Kami sempat terlewat. Yang terlihat justru kandang angsa, sebuah gambaran yang hampir benar tapi belum tepat.

Setelah memastikan kembali, akhirnya kami tiba di rumah yang dimaksud. Pak Mangku belum ada di rumah.

Istrinya menyambut kami dengan ramah, menjelaskan bahwa beliau baru saja pergi ke gudang.

Setelah kami menyampaikan maksud untuk meminta izin memotret purnama, sang istri pun menghubungi Pak Mangku melalui telepon dengan suara yang hangat, seolah kami adalah tamu yang sudah lama dinantikan.

Tak sampai tiga puluh menit, Pak Mangku tiba. Ia menyapa dengan senyum dan berkata, “Saya kira tadi yang datang teman-teman media.”.

Dari perkenalan sederhana itu, percakapan pun mengalir panjang, tanpa sekat, tanpa tergesa. Kami disuguhi teh hangat dan duduk di beranda yang terbuka, di mana angin malam mulai berembus pelan.

Baca juga:
🔗 Keberanian untuk Berangkat: Langkah Sunyi Mengubah Hidup

Percakapan Panjang dan Sebuah Pesan

Hampir tiga jam waktu berlalu tanpa terasa. Pak Mangku bercerita tentang latar belakangnya sebagai lulusan seni, tentang kegemarannya membuat patung dari kayu dan batu, dan tentang perjalanan hidup yang membawanya menetap di Gorontalo, jauh dari tanah kelahiran Bali.

Wawasannya luas, ia bukan hanya memahami budaya lokal Gorontalo dengan sangat baik, tetapi juga mampu merangkulnya tanpa kehilangan jati diri sebagai orang Bali.

Ia bicara tentang cara leluhur membaca alam, tentang upacara dan makna di balik setiap ritual, dan bagaimana langit, bumi, dan manusia seharusnya berjalan beriringan.

Ia bercerita tentang leluhur, tentang akar, dan tentang bagaimana identitas tidak pernah benar-benar hilang meski jarak memisahkan.

Kita seperti pohon,” katanya suatu saat, “akarnya mungkin di Bali, tapi dahannya bisa tumbuh di mana saja, asalkan kita tidak lupa dari mana kita berasal.”

Di balik kata-katanya, terselip kerinduan yang tenang, sekaligus penerimaan yang damai atas pilihan hidupnya.

Baca juga:
🔗 Penerimaan: Jembatan Sunyi dalam Sebuah Hubungan

Ketenangan Dalam Perencanaan

Di akhir pertemuan, Pak Mangku membuka kalender Bali yang sudah usang di sampingnya. Tangannya membalik halaman dengan hormat, seolah setiap tanggal menyimpan memorinya sendiri.

Kemudian, dengan suara yang lembut tapi menembus, ia menyampaikan sebuah pesan yang sederhana namun dalam maknanya.

Ia berkata bahwa hidup tidak selalu menuntut kita untuk berlari. Ada kalanya yang paling dibutuhkan hanyalah ketenangan, duduk, merenung, mendengar bisik angin atau suara hati sendiri.

Intinya, pesan itu tertinggal kuat dalam ingatan, bagai ukiran di batu:

Semuanya akan baik-baik saja, jika kamu tenang dalam merencanakan.

Bukan berarti tanpa usaha, bukan pula pasrah begitu saja. Namun tenang di sini adalah keadaan pikiran yang jernih, yang memungkinkan kita melihat jalan dengan lebih terang, mengambil keputusan tanpa dikelabui kepanikan, dan melangkah dengan keyakinan yang dalam.

Malam itu, di bawah cahaya purnama yang memancar lembut dari langit Gorontalo, kami tidak hanya menemukan ruang untuk memotret sebuah ritual.

Kami menemukan percakapan yang hangat, kebijaksanaan yang turun dari seorang yang telah melewati banyak musim, dan pengingat bahwa perjalanan, seberat apa pun, selalu punya cara sendiri untuk menenangkan.

Melalui pertemuan tak terduga, melalui senyum orang asing yang menjadi sahabat sejenak, melalui pesan sederhana yang ternyata adalah jawaban dari keresahan yang kita bawa dari jauh.

Terima kasih, semesta, atas pertemuan yang tidak direncanakan, namun terasa sangat diperlukan, seperti purnama yang hadir tepat pada waktunya, menyinari gelapnya langit dan juga gelap di dalam diri.

Mengingatkan bahwa kadang kita harus tersesat dulu untuk sampai pada tempat yang tepat, dan bertanya dahulu untuk menemukan jawaban yang sudah lama menunggu di sudut-sudut sunyi perjalanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *