Banyak orang melakukan perjalanan untuk mencari pemandangan indah, menikmati tempat-tempat yang sedang viral, atau mengejar pengalaman baru yang bisa dibagikan di media sosial.
Tidak sedikit pula yang menjadikan perjalanan sebagai pelarian dari rutinitas hidup sehari-hari. Namun semakin jauh saya berjalan, semakin saya memahami bahwa perjalanan ternyata bukan sekadar soal lokasi.
Keindahan alam memang memukau. Laut yang biru, pegunungan yang dingin, langit senja di tepi pantai, semuanya mampu membuat seseorang jatuh cinta pada sebuah tempat.
Tetapi waktu perlahan mengubah semuanya. Tempat bisa berubah menjadi ramai, suasana bisa berbeda, bahkan kenangan tentang lokasi perlahan memudar.
Saya menyadari, ada satu hal yang justru tetap tinggal di ingatan lebih lama dibandingkan pemandangan: manusia-manusia yang pernah ditemui di sepanjang perjalanan.
Saya mungkin lupa nama pantai yang pernah saya datangi bertahun-tahun lalu. Saya juga mungkin lupa jalan kecil menuju sebuah kampung yang pernah saya singgahi.
Namun saya tidak pernah lupa wajah-wajah orang yang pernah membantu, menerima, dan memperlakukan saya dengan baik ketika menjadi orang asing di tempat mereka.
Dari situlah cara pandang saya tentang perjalanan berubah. Perjalanan bukan lagi tentang seberapa banyak tempat yang berhasil dikunjungi, tetapi tentang seberapa dalam hubungan yang tercipta dengan manusia-manusia yang ditemui di sepanjang jalan.
Baca juga:
🔗 Perjalanan yang Mengajarkan Makna Tuntas
Tahun 2015, saya pernah berada dalam fase hidup yang benar-benar mengalir tanpa banyak rencana.
Saya bepergian dengan cara sederhana, mengikuti arah perjalanan tanpa tahu pasti akan berakhir di mana. Saat itu saya berada di kapal dari Sorong menuju Ternate.
Di atas kapal itulah saya bertemu seseorang yang kemudian mengajak saya singgah ke kampungnya di Halmahera.
Sebuah pertemuan yang awalnya terasa biasa, tetapi ternyata menjadi bagian penting dalam hidup saya hingga hari ini.
Saya datang sebagai orang asing. Tidak punya keluarga, tidak punya kenalan, dan tidak mengenal daerah itu sama sekali.
Namun di Kampung Beringin, saya justru diterima dengan hangat. Saya tinggal lebih dari seminggu di rumah keluarga mereka.
Hal-hal sederhana yang mereka lakukan masih saya ingat sampai sekarang. Makan bersama, berbincang di malam hari, duduk santai di rumah kayu, hingga rasa nyaman ketika diperlakukan bukan sebagai tamu, melainkan seperti keluarga sendiri.
Bagi orang lain, kampung itu mungkin hanyalah sebuah titik kecil di peta Indonesia. Tidak terkenal, tidak ramai wisatawan, dan mungkin tidak dianggap istimewa.
Tetapi bagi saya, tempat itu memiliki nilai yang jauh lebih besar dibandingkan destinasi wisata mana pun.
Karena di sanalah saya belajar bahwa Indonesia bukan hanya tentang alamnya yang indah, melainkan tentang manusianya yang masih memiliki ketulusan menerima orang lain tanpa banyak syarat.
Baca juga:
🔗 Antara Pergi dan Pulang: Kisah Tentang Bertumbuh
Sebelas tahun berlalu, akhirnya saya memiliki kesempatan kembali datang ke kampung tersebut.
Waktunya memang singkat, tetapi ada satu hal yang sejak lama ingin saya lakukan: menyambung kembali komunikasi dan mengucapkan terima kasih.
Saya datang membawa sedikit oleh-oleh dari Bali, tempat saya tinggal sekarang. Bukan tentang seberapa mahal barang yang dibawa, tetapi tentang menjaga hubungan baik dengan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.
Semakin sering bepergian, saya semakin percaya bahwa yang membuat seseorang ingin kembali ke suatu tempat bukan hanya pemandangannya, melainkan kenangan tentang orang-orang di dalamnya. Tempat hanyalah latar. Manusialah yang memberi makna.
Sebuah pantai akan tetap menjadi pantai jika tidak ada cerita di dalamnya. Sebuah kota hanya menjadi kumpulan bangunan tanpa kehangatan orang-orang yang pernah kita temui di sana.
Bahkan perjalanan terjauh sekalipun akan terasa kosong jika tidak ada hubungan manusia yang tercipta selama perjalanan itu berlangsung.
Saya bersyukur pernah dipertemukan dengan banyak orang baik dari Sabang hingga Merauke.
Ada yang hanya bertemu sehari, ada yang memberi tumpangan, ada yang mengajak makan, ada yang mempersilakan saya tinggal di rumah mereka. Hal-hal sederhana seperti itulah yang justru paling lama bertahan dalam ingatan.
Kini saya memahami bahwa perjalanan bukan hanya tentang datang lalu pergi. Perjalanan adalah tentang menjaga silaturahmi, mengingat kebaikan, dan menyadari bahwa hidup kita pernah dipermudah oleh orang-orang yang mungkin awalnya hanyalah orang asing.
Pada akhirnya, saya mungkin akan lupa banyak nama tempat yang pernah saya datangi. Tetapi saya tidak ingin lupa orang-orang yang pernah menerima saya dengan tulus di sepanjang perjalanan hidup ini.
Karena dari Sabang hingga Merauke, yang tetap saya ingat bukanlah tempat-tempatnya. Melainkan orang-orangnya.