Ketika Ibu Pergi, Yang Tertinggal Adalah Memori

Seorang ibu sebagai simbol doa, kasih sayang, dan kenangan yang abadi.
Seorang ibu sering kali meninggalkan sesuatu yang jauh lebih sederhana sekaligus dalam, doa, kasih sayang, dan kenangan yang tidak mudah hilang. (Foto: Dokumentasi)

Ada dua hal dalam kehidupan yang tidak pernah membutuhkan persetujuan manusia: ketika kita dilahirkan dan ketika kematian datang.

Keduanya adalah bagian dari perjalanan yang tidak bisa ditawar. Kita hadir ke dunia, menjalani kehidupan dengan segala cerita di dalamnya, kemudian suatu saat harus meninggalkan dunia.

Dari perjalanan panjang itu, salah satu hal yang kemudian tertinggal adalah memori—ingatan yang hidup di dalam diri orang-orang yang pernah berjalan bersama kita.

Bagi seorang anak, sosok ibu memiliki tempat yang begitu dalam. Ketika seorang ibu pergi, yang tersisa bukan hanya kehilangan, tetapi juga potongan-potongan kenangan yang tiba-tiba menjadi begitu berharga.

Cara berbicara, kebiasaan kecil, tawa, nasihat, hingga momen sederhana yang dahulu terasa biasa, perlahan berubah menjadi sesuatu yang ingin terus diingat.

Hal itulah yang belakangan dirasakan oleh konten kreator asal Bali, Puja Astawa, setelah sang ibu berpulang.

Baca juga:
🔗 Di Ujung Jalan, Semua Akan Berpulang

Memori Ibu yang Selalu Hadir dalam Karya

Bagi Puja Astawa, hubungan dengan sang ibu bukan hanya hubungan antara anak dan orang tua. Keduanya juga pernah berbagi ruang dalam berkarya.

Sang ibu merupakan seorang seniman. Dalam sejumlah video yang dibuat Puja, sosok ibunya kerap hadir dan menjadi bagian dari cerita. Interaksi ibu dan anak itu kemudian menjadi memori yang tidak hanya tersimpan bagi keluarga, tetapi juga pernah dinikmati banyak orang melalui media sosial.

Salah satu video yang sempat ramai diperbincangkan memperlihatkan gaya hidup dengan logat Bali yang khas dari sang ibu.

Dengan cara yang sederhana dan apa adanya, ia menggambarkan kehidupan sehari-hari, tentang penghasilan yang tidak selalu besar, kebutuhan yang terus berjalan, hingga cicilan yang harus dibayar setiap bulan.

Humor hadir dalam cerita tersebut. Namun di balik kelucuan dan gaya bicaranya, ada gambaran tentang kehidupan banyak orang: menjalani hari dengan segala keterbatasan, tetapi tetap berusaha menjalaninya dengan penuh syukur.

Baca juga:
🔗 Puja Astawa: Menjaga Budaya Bali Lewat Karya Kreatif

“Ibu Saya Rajin Sekali Sembahyang”

Di tengah kenangan tentang sang ibu, ada satu hal yang justru menjadi pesan paling dalam bagi Puja Astawa.

“Ibu saya rajin sekali sembahyang.”

Kalimat sederhana itu memiliki makna yang jauh lebih besar setelah sang ibu tiada. Puja kemudian mengenang bagaimana anak-anaknya pernah bertanya mengapa sang nenek begitu rajin sembahyang.

Jawaban sang ibu juga sederhana. Agar anak-anaknya dan cucu-cucunya memiliki jalan kehidupan yang baik.

Tidak ada kalimat yang panjang. Tidak ada nasihat yang rumit. Hanya sebuah kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang dalam kehidupan sehari-hari: sembahyang dan mendoakan keluarganya.

Kini, ketika sang ibu telah pergi, kebiasaan itu justru menjadi salah satu memori yang paling kuat bagi Puja.

Baca juga:
🔗 Warisan Kesederhanaan dan Cinta Budaya Seorang Ibu

Doa yang Tetap Tinggal Setelah Kepergian

Kematian mungkin mengakhiri pertemuan secara fisik, tetapi tidak selalu mengakhiri hubungan dalam ingatan.

Seorang ibu bisa pergi, tetapi doa-doanya tetap hidup dalam perjalanan anak-anaknya. Kebiasaan kecilnya menjadi cerita.


Ucapannya menjadi nasihat. Dan kehidupannya menjadi bagian dari cara anak-anak mengenang siapa dirinya.

Mungkin pada akhirnya, kehidupan bukan hanya tentang berapa lama seseorang tinggal di dunia, tetapi tentang apa yang tertinggal setelah ia pergi.

Seperti seorang ibu yang setiap hari sembahyang untuk anak dan cucunya. Ketika tubuhnya sudah tidak lagi bersama mereka, doanya justru menjadi salah satu warisan paling panjang.

Sebab ada manusia yang meninggalkan harta, ada yang meninggalkan karya, tetapi seorang ibu sering kali meninggalkan sesuatu yang jauh lebih sederhana sekaligus dalam: doa, kasih sayang, dan kenangan yang tidak mudah hilang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *