Ada masa dalam hidup ketika seseorang benar-benar ditempa oleh keadaan. Bagi saya, masa itu terjadi pada tahun 2013 hingga 2015, ketika usia masih muda dan hidup masih berjalan sendiri.
Saat itu saya bekerja di ibu kota Jakarta sebagai editor foto di sebuah majalah bernama Info Kawasan.
Tanggung jawab yang saya pegang tidak kecil, delapan majalah sekaligus dengan delapan fotografer yang harus saya koordinasikan.
Di sanalah saya mulai memahami bahwa dunia kerja bukan hanya tentang foto yang bagus atau halaman majalah yang tertata rapi.
Lebih dari itu, saya belajar berurusan dengan manusia dengan berbagai karakter, ego, cara berpikir, dan ritme kerja yang berbeda-beda.
Waktu itu Jakarta terasa seperti mesin besar yang tidak pernah berhenti bergerak. Setiap hari memiliki ritmenya sendiri.
Deadline majalah datang silih berganti, sementara koordinasi dengan para fotografer harus tetap berjalan rapi agar semuanya tidak berantakan.
Baca juga:
🔗 Hidup Adalah Memori: Sebuah Catatan dari Langit Pangkalpinang
Memegang delapan fotografer sekaligus membuat saya cepat belajar satu hal penting: tanpa aturan yang jelas, ritme kerja akan mudah kacau.
Setiap fotografer memiliki gaya dan karakter masing-masing. Ada yang sangat disiplin dengan waktu, ada yang lebih santai tetapi memiliki mata fotografi yang luar biasa.
Ada yang cepat bekerja di lapangan, ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menghasilkan satu foto yang benar-benar kuat.
Sebagai editor foto, saya harus menemukan cara agar semua karakter itu bisa berjalan dalam satu ritme yang sama.
Perlahan saya mulai membangun pondasi aturan sederhana. Bukan aturan yang kaku seperti di ruang militer, tetapi aturan yang menjaga alur kerja tetap stabil.
Hal-hal kecil seperti jadwal pengiriman foto, komunikasi setelah liputan, hingga proses seleksi gambar menjadi bagian penting dari ritme tersebut.
Di situlah saya mulai memahami bahwa memimpin orang bukan hanya soal memberi perintah. Lebih dari itu, tentang memahami cara berpikir mereka.
Jika kita mengerti cara seseorang bekerja, kita juga akan mengerti bagaimana mengarahkan potensinya. Dan itu adalah pelajaran yang sangat berharga dalam hidup saya.
Di tengah kesibukan kerja, ada satu kebiasaan kecil yang akhirnya menjadi semacam tradisi di antara kami.
Ketika para fotografer selesai melakukan liputan dan ingin membahas hasil foto mereka, kami sering bertemu di luar jam kerja.
Diskusi itu biasanya berlangsung santai, kadang sampai larut malam. Aturannya sederhana.
Jika ingin berdiskusi santai, biasanya ada minuman yang menemani obrolan. Minuman yang sering hadir di meja saat itu adalah Beer Bintang.
Namun itu bukan kewajiban. Tidak ada paksaan. Siapa yang berkenan saja. Yang terpenting sebenarnya bukan minumannya, tetapi ruang dialog yang tercipta.
Di meja kecil itu kami berbicara tentang banyak hal, tentang komposisi foto, momen yang terlewat di lapangan, teknik pengambilan gambar, hingga cerita-cerita lucu atau menegangkan saat liputan. Anehnya, justru dari obrolan santai seperti itu banyak hal bisa dipelajari.
Baca juga:
🔗 Bir Dingin dan Cerita yang Baru Mulai Ditulis
Saya bisa memahami bagaimana seorang fotografer melihat dunia melalui kameranya. Sementara mereka juga mulai memahami bagaimana seorang editor membaca sebuah foto dari sisi cerita dan kebutuhan halaman majalah.
Diskusi malam itu bukan hanya tentang pekerjaan. Itu adalah proses saling memahami.
Di sela-sela kesibukan kerja yang padat, ada satu tempat sederhana yang sering menjadi ruang untuk menenangkan diri.
Bagian atas kantor. Sebuah spot kecil yang menghadap ke pemandangan gedung-gedung di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Di sana, setelah hari kerja yang panjang, saya kadang duduk sendiri. Melihat lampu-lampu kota yang mulai menyala satu per satu.
Jalanan yang tetap ramai oleh kendaraan. Dan langit Jakarta yang sesekali memperlihatkan bulan dengan jelas.
Saya masih ingat satu malam ketika bulan purnama muncul begitu terang di antara gedung-gedung tinggi. Malam itu terasa berbeda.
Angin pelan berhembus, kota tetap sibuk di bawah sana, sementara saya hanya duduk menikmati suasana dengan sebotol minuman di tangan dan pandangan yang sesekali mengarah ke langit.
Tidak ada percakapan. Tidak ada deadline. Hanya saya, kota Jakarta, dan bulan purnama. Saat itu saya tidak pernah berpikir bahwa momen sederhana seperti itu suatu hari akan menjadi memori yang begitu jelas dalam ingatan.
Baca juga:
🔗 Kisah dari Nusa Dua: Menyaksikan Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026
Waktu berjalan. Hidup berubah. Tempat, pekerjaan, dan ritme kehidupan pun tidak lagi sama seperti masa di Jakarta.
Kini kehidupan saya berada di pulau Bali dengan ritme yang sangat berbeda. Jika dulu saya mengelola delapan fotografer dan delapan majalah, sekarang ritme hidup saya diwarnai oleh manajemen dua anak yang berusia enam dan lima tahun.
Dunia yang dulu dipenuhi deadline majalah kini berganti dengan dunia yang dipenuhi suara tawa anak-anak.
Jika dulu malam-malam di Jakarta diisi diskusi foto, kini malam lebih sering diisi cerita sebelum tidur.
Dan anehnya, justru di fase ini saya kembali memahami satu hal penting tentang hidup. Bahwa setiap fase kehidupan memiliki tantangannya sendiri.
Tidak ada yang benar-benar sama. Namun semua fase itu memiliki satu kesamaan, mereka datang untuk membentuk kita menjadi manusia yang berbeda dari sebelumnya.
Baca juga:
🔗 Bermain adalah Bahasa Dunia Anak: Bukan Sekadar Mengisi Waktu
Kini memori tentang Jakarta hanya sesekali saya bagikan di media sosial. Bukan untuk bernostalgia berlebihan, tetapi sebagai pengingat bahwa hidup selalu bergerak.
Selalu berubah. Dan selalu meminta kita untuk bertumbuh. Pada akhirnya pertanyaannya sederhana, Apakah kita mau berubah bersama waktu, atau justru tertinggal di masa yang sudah lewat.