Persoalan sampah di Bali hingga kini masih menjadi perhatian serius. Di berbagai sudut jalan, kawasan wisata, hingga sejumlah ruang publik, tumpukan sampah yang berserakan masih mudah dijumpai.
Kondisi ini menjadi ironi bagi Pulau Dewata yang dikenal dunia sebagai destinasi wisata dengan keindahan alam dan budaya yang khas.
Berbagai pihak terus mengajak masyarakat untuk tidak hanya menjadikan persoalan sampah sebagai tanggung jawab pemerintah semata, tetapi sebagai tanggung jawab bersama.
Kesadaran individu, dukungan komunitas, dunia usaha, serta kebijakan yang konsisten dinilai menjadi kunci dalam mewujudkan Bali yang lebih bersih dan lestari.
Baca juga:
🔗 Di Balik Isu Sampah, Sudut Lain Wajah Bali
Salah satu tokoh yang aktif menyuarakan isu tersebut adalah I Wayan Aksara, Ketua Yayasan Bumi Kita Nuswantara.
Sebagai putra asli Bali, ia terus mengampanyekan pentingnya kesadaran dalam mengelola sampah sebagai wujud kecintaan terhadap tanah kelahirannya.
Melalui berbagai kegiatan edukasi dan aksi lingkungan, ia mengajak masyarakat untuk mulai melakukan perubahan dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam dialog ini juga hadir Ketut Gede Dharma Putra, pemerhati lingkungan Bali, yang akan menyampaikan pandangannya mengenai kondisi lingkungan di Bali serta pentingnya kolaborasi seluruh elemen masyarakat dalam mengatasi persoalan sampah.
Baca juga:
🔗 Wayan Aksara: Sampah, Budaya, dan Tanggung Jawab Moral
Upaya membangun kesadaran publik akan diwujudkan melalui dialog interaktif yang diselenggarakan oleh RRI Pro 1 Denpasar 105,2 FM dalam program Denpasar Pagi Ini, pada Rabu, 8 Juli 2026, pukul 09.00–10.00 WITA.
Forum ini diharapkan menjadi ruang diskusi yang mampu membangun kesadaran publik sekaligus mendorong aksi nyata dari seluruh pemangku kepentingan.
Persoalan sampah bukan hanya menyangkut kebersihan lingkungan, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat, kelestarian alam, serta citra Bali sebagai destinasi wisata dunia.
Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan semakin banyak pihak yang terlibat aktif sehingga penanganan sampah tidak berhenti sebagai wacana, melainkan menjadi gerakan bersama.
Dengan komitmen dan kerja sama seluruh stakeholder, Bali dapat terus menjaga keindahan alam dan budayanya untuk generasi mendatang.