Ogoh-ogoh merupakan simbol Bhuta Kala, representasi energi negatif atau sisi gelap dalam diri manusia yang diarak pada malam Pengerupukan, sehari sebelum Hari Raya Nyepi.
Tradisi ini tumbuh dan hidup kuat di Bali sebagai bagian dari rangkaian menyambut Nyepi, hari penyucian diri yang dijalani dalam keheningan total.
Di balik wujudnya yang besar dan menyeramkan, ogoh-ogoh menyimpan pesan filosofis yang dalam, manusia diajak mengenali, menghadapi, lalu melepaskan sisi gelap dalam dirinya sebelum memasuki hari suci yang penuh sunyi.
Baca juga:
π Barong Tidak Pernah Berdiri Sendiri
Pembuatan ogoh-ogoh biasanya digarap oleh para pemuda banjar selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.
Prosesnya bukan hanya soal merangkai bambu, membentuk styrofoam, atau mengecat detail wajah yang garang. Lebih dari itu, ia adalah proses belajar kebersamaan.
Setiap malam, bale banjar menjadi ruang kreativitas. Ide-ide lahir dari diskusi panjang, ada yang mengusung kisah pewayangan, ada yang menyentil isu sosial, bahkan ada yang menjadi refleksi keadaan zaman. Dari sana tumbuh rasa memiliki, tanggung jawab, dan kebanggaan kolektif.
Setelah rampung, ogoh-ogoh diarak keliling desa dengan iringan gamelan dan obor. Dentuman kendang dan sorak warga menciptakan suasana magis sekaligus meriah.
Pada akhirnya, sebagian ogoh-ogoh dibakar sebagai simbol pelepasan sifat buruk dan pembersihan alam semesta (Bhuwana Agung) serta diri manusia (Bhuwana Alit).
Baca juga:
π Gotong Royong: Ketika Beban Berat Menjadi Lebih Ringan Karena Dikerjakan Bersama
Menjelang Pengerupukan, di beberapa banjar di Bali ogoh-ogoh sudah tampak berdiri megah di pinggir jalan. Kehadirannya menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
Banyak keluarga datang sekadar melihat, berfoto, atau mengajak anak-anak mengenal makna tradisi ini.
Salah satunya terjadi di Banjar Bualu. Ayu mengajak anak-anaknya melihat ogoh-ogoh yang sedang dibuat di sana.
Beberapa minggu sebelumnya mereka sempat datang, namun karya tersebut masih dalam tahap pengerjaan dan belum dibuka untuk umum. Rasa penasaran anak-anak pun tertunda.
Ketika kembali berkunjung, ogoh-ogoh itu telah selesai dan dipamerkan. Detail ukirannya tampak begitu hidup, ekspresinya kuat, dan ukurannya menjulang.
Momen itu bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan pengalaman budaya yang membekas bagi anak-anak, bahwa tradisi bukan hanya cerita, tetapi sesuatu yang bisa dilihat, disentuh, dan dirasakan.
Baca juga:
π Pantai sebagai Ruang Belajar Anak: Tanpa Membendung Rasa Ingin Tahu
Ogoh-ogoh Banjar Bualu yang dinilai sangat artistik ternyata tidak lolos untuk diarak di Pusat Pemerintahan Badung.
Berdasarkan penilaian panitia, ukurannya melebihi batas yang telah ditentukan. Aturan tersebut dibuat demi keamanan dan ketertiban saat pawai berlangsung.
Meski demikian, hal itu tidak menyurutkan semangat warga. Justru di situlah terlihat bahwa nilai ogoh-ogoh tidak semata pada panggung besar atau kompetisi, melainkan pada proses dan maknanya.
Di tengah arus modernitas dan pariwisata, ogoh-ogoh tetap bertahan sebagai identitas budaya Bali. Beberapa desa adat bahkan memperketat aturan agar esensi spiritualnya tidak hilang oleh euforia atau sekadar perlombaan gengsi.
Tradisi ini terus beradaptasi, tetapi tetap berpijak pada akar nilai yang sama: keseimbangan (Rwa Bhineda) dan kesadaran diri.
Pada akhirnya, ogoh-ogoh bukan hanya patung raksasa yang diarak dan dibakar. Ia adalah cermin. Sebelum Bali benar-benar sunyi dalam Nyepi, manusia diajak untuk lebih dulu βmengarakβ dan melepaskan sisi gelap dalam dirinya.
Karena setelah hiruk-pikuk itu reda, yang tersisa hanyalah keheningan dan di sanalah ruang perenungan dimulai.