Pariwisata Bali Disebut Sepi di Media Sosial, Pemerintah Tegaskan Data Kunjungan Tetap Tinggi

Wisatawan domestik memadati pintu kedatangan Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali.
Ramai wisatawan domestik berjalan keluar dari pintu kedatangan Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, pada 24 Desember 2025. (Foto: Moonstar)

Isu sepinya pariwisata Bali pada musim liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025 ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial.

Sejumlah unggahan menampilkan kondisi kawasan wisata yang tampak lengang, disertai keluhan pelaku usaha pariwisata yang mengaku mengalami penurunan jumlah tamu.

Narasi tersebut dengan cepat menyebar dan membentuk persepsi bahwa Bali yang selama ini dikenal sebagai destinasi utama liburan tidak seramai biasanya, bahkan di periode yang kerap disebut sebagai high season.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran, terutama di kalangan pelaku usaha kecil dan menengah yang sangat bergantung pada lonjakan kunjungan wisatawan saat libur akhir tahun.

Namun, Pemerintah Provinsi Bali menegaskan bahwa narasi “Bali sepi” yang beredar di media sosial tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil pariwisata di Pulau Dewata.

Pemerintah Tegaskan Data Kunjungan Tetap Tinggi

Gubernur Bali Wayan Koster secara tegas membantah anggapan tersebut. Ia menyatakan bahwa klaim Bali sepi tidak sejalan dengan data resmi yang dimiliki pemerintah daerah.

Berdasarkan catatan otoritas terkait, jumlah kedatangan wisatawan ke Bali pada 19, 20, dan 21 Desember 2025 tercatat berada di atas 20.000 orang per hari.

Meski data tersebut belum dirinci secara spesifik antara wisatawan domestik dan mancanegara, pemerintah menilai angka itu menunjukkan aktivitas pariwisata yang masih berjalan dan relatif stabil.

“Berita di media sosial yang menyebut Bali sepi itu hoaks. Bali tidak sepi,” tegas Koster dalam keterangan pers saat melakukan kunjungan ke Pelabuhan Benoa, Bali.

Ia menekankan pentingnya masyarakat untuk tidak serta-merta mempercayai narasi visual di media sosial tanpa melihat data secara menyeluruh.

Lebih lanjut, Koster mengungkapkan bahwa hingga 31 Desember 2025, total kunjungan wisatawan ke Bali diproyeksikan mencapai 7 juta orang.

Angka tersebut meningkat dibandingkan capaian sebelumnya yang berada di kisaran 6,3 juta wisatawan.

Pemerintah Provinsi Bali menyebut target ini sebagai langkah ambisius namun realistis, seiring dengan pemulihan sektor pariwisata pascapandemi serta peningkatan konektivitas dan promosi destinasi.

Baca juga:
🔗 Bali, Panggung Dunia yang Teruji oleh Waktu dan Budaya

Pelaku Pariwisata Akui Ada Pergeseran Pasar

Meski data makro menunjukkan tren positif, sebagian pelaku pariwisata di lapangan mengakui bahwa situasi tidak sepenuhnya terasa merata.

Ida Made Putra, pelaku usaha transportasi wisata yang telah puluhan tahun berkecimpung di industri pariwisata Bali, menyampaikan bahwa saat ini memang terjadi perubahan pola kunjungan wisatawan.

“Untuk tamu Eropa memang sepi, tapi tamu domestik mulai ada,” ujarnya. Menurutnya, wisatawan Eropa yang selama ini menjadi salah satu pasar utama Bali belum menunjukkan pergerakan signifikan seperti pada tahun-tahun sebelum pandemi.

Padahal, pada masa lalu, musim dingin di Eropa kerap berbanding lurus dengan lonjakan kunjungan wisatawan ke Bali.

Tahun ini, pola tersebut belum sepenuhnya kembali. Faktor ekonomi global, perubahan kebiasaan bepergian, hingga pilihan destinasi alternatif diduga turut memengaruhi pergerakan pasar Eropa.

Namun demikian, Made Putra menilai kondisi ini tidak serta-merta mencerminkan kemerosotan pariwisata Bali secara keseluruhan.

Ia melihat adanya pergeseran pasar, di mana wisatawan domestik mulai mengisi ruang yang sebelumnya lebih banyak ditempati wisatawan mancanegara.

Meski kontribusinya belum sepenuhnya menutup penurunan dari pasar Eropa, pergerakan wisatawan domestik dinilai memberi napas bagi sebagian sektor pariwisata.

Antara Data dan Persepsi

Perbedaan antara data resmi pemerintah dan pengalaman sebagian pelaku usaha di lapangan menunjukkan bahwa kondisi pariwisata Bali tidak bisa dilihat secara hitam-putih.

Secara makro, angka kunjungan masih tergolong tinggi dan menunjukkan tren pemulihan yang positif.

Namun secara mikro, distribusi wisatawan belum merata di semua wilayah, jenis usaha, dan segmen pasar.

Kawasan tertentu mungkin masih ramai, sementara area lain terasa lebih lengang. Sektor tertentu merasakan peningkatan, sementara sektor lainnya belum sepenuhnya pulih.

Di ruang inilah persepsi “Bali sepi” kemudian muncul dan diperkuat oleh potongan-potongan visual di media sosial.

Dengan demikian, narasi Bali sepi yang viral lebih tepat dipahami sebagai refleksi dari sebagian realitas di lapangan, bukan gambaran utuh kondisi pariwisata Bali.

Tantangan ke depan bukan hanya soal meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga memastikan distribusi manfaat pariwisata yang lebih merata agar pemulihan benar-benar dirasakan oleh seluruh pelaku di industri pariwisata Bali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *