Setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda. Ada yang hidupnya berjalan lurus dan teratur, ada pula yang dipenuhi perpindahan, perjalanan, dan perubahan yang datang perlahan tanpa disadari.
Saya termasuk orang yang merasakan bagaimana waktu mengubah cara hidup, cara berpikir, bahkan cara memandang perjalanan itu sendiri.
Jika mengingat kembali tahun-tahun yang sudah lewat, rasanya seperti melihat potongan kehidupan yang saling terhubung satu sama lain.
Dari Danau Toba, Fakfak, Pulau Ugar, Pulau Seram, hingga kini menjalani hidup di Bali, semuanya menghadirkan pengalaman yang berbeda.
Tidak selalu mudah, tidak selalu nyaman, tetapi justru dari perjalanan itulah saya belajar memahami arti kehidupan.
Dulu saya berpikir perjalanan hanya soal berpindah tempat dan mencari pengalaman baru. Namun semakin lama berjalan, saya mulai sadar bahwa perjalanan sebenarnya adalah proses panjang yang membentuk seseorang dari waktu ke waktu.
Baca juga:
🔗 Tentang Bertahan di Tengah Perubahan
Tahun 2013 menjadi salah satu fase yang masih sangat membekas dalam ingatan saya. Saat itu saya berada di Pulau Samosir, Danau Toba, untuk menjalankan pekerjaan liputan.
Masa itu adalah masa ketika hidup masih terasa ringan karena saya belum memiliki banyak tanggungan. Saya masih berjalan sebagai seorang bujangan yang bebas menentukan arah perjalanan tanpa terlalu banyak pertimbangan.
Perjalanan menuju Danau Toba saat itu memberi pengalaman tersendiri. Jalan panjang, suasana pegunungan, udara dingin, hingga pemandangan danau yang begitu luas membuat perjalanan terasa berbeda dibanding tempat-tempat lain yang pernah saya datangi.
Ada ketenangan yang sulit dijelaskan ketika melihat air Danau Toba membentang di antara perbukitan besar.
Karena akomodasi ditanggung perusahaan, persoalan ekonomi bukan menjadi hambatan utama pada masa itu.
Saya bisa lebih fokus pada pekerjaan dan perjalanan yang dijalani. Namun di balik itu, ada tantangan lain yang justru sering menjadi tekanan, yaitu waktu.
Dalam pekerjaan liputan, waktu sering berjalan sangat cepat. Kadang harus berpindah lokasi dalam waktu singkat, mengejar momen tertentu, menyesuaikan agenda pekerjaan, lalu kembali melanjutkan perjalanan berikutnya.
Di fase itu saya mulai memahami bahwa dunia kerja dan perjalanan tidak selalu berjalan santai seperti yang dibayangkan orang lain.
Meski demikian, masa-masa itu tetap terasa menyenangkan. Hidup masih penuh rasa penasaran, semangat menjelajah masih sangat besar, dan rasa lelah sering kalah oleh keinginan untuk terus melihat tempat-tempat baru.
Baca juga:
🔗 Perjalanan yang Mengajarkan Makna Tuntas
Tahun 2015 perjalanan membawa saya ke Fakfak, Papua Barat, bersama salah satu NGO untuk mendokumentasikan kegiatan mereka.
Perjalanan kali ini terasa berbeda karena saya tidak datang sebagai wisatawan, melainkan mengikuti alur kegiatan sosial yang sudah tersusun.
Saya mengikuti ke mana agenda membawa langkah. Dari satu lokasi ke lokasi lain, dari kegiatan satu menuju kegiatan berikutnya.
Dalam perjalanan seperti itu, saya belajar melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Banyak daerah yang masih sederhana, jauh dari hiruk-pikuk kota, namun memiliki ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Setelah seluruh kegiatan selesai, saya sempat mengunjungi Pulau Ugar. Tempat itu menjadi salah satu kenangan yang sampai sekarang masih tersimpan jelas di kepala saya.
Lautnya tenang, suasananya alami, dan kehidupan masyarakat berjalan dengan sederhana. Tidak banyak kebisingan, tidak banyak keramaian, hanya suara alam dan kehidupan yang berjalan perlahan.
Di tempat seperti itu saya mulai menyadari bahwa perjalanan bukan sekadar soal lokasi yang dikunjungi. Ada banyak pengalaman hidup yang sebenarnya jauh lebih berharga dibanding foto atau cerita perjalanan itu sendiri.
Kadang perjalanan mempertemukan kita dengan orang-orang baru yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya.
Kadang perjalanan juga mengajarkan bahwa hidup tidak selalu harus berjalan terburu-buru. Ada momen ketika manusia hanya perlu diam sejenak, menikmati suasana, lalu memahami bahwa dunia ternyata jauh lebih luas dari yang selama ini dipikirkan.
Fakfak dan Pulau Ugar mengajarkan saya tentang ketenangan, kesederhanaan, dan pentingnya menikmati proses kehidupan.
Baca juga:
🔗 Tidak Semua Perjalanan Harus Berlayar
Jika tahun-tahun sebelumnya perjalanan masih berjalan cukup terarah, maka tahun 2017 di Pulau Seram menjadi fase hidup yang terasa jauh lebih liar dan bebas.
Di masa itu saya berjalan tanpa banyak rencana besar. Hidup terasa mengalir begitu saja mengikuti keadaan.
Kadang ada hari-hari yang terasa mudah, tetapi tidak sedikit juga masa ketika keadaan menjadi sulit.
Saya belajar bertahan hidup di jalan dengan cara sendiri. Dalam perjalanan seperti itu, manusia dipaksa untuk cepat beradaptasi dengan lingkungan, keadaan, bahkan dengan keterbatasan yang ada.
Namun justru di tengah kehidupan yang keras itu saya menemukan banyak pelajaran tentang kemanusiaan.
Ada rekan-rekan perjalanan yang membantu ketika keadaan sedang sulit. Ada orang-orang yang mungkin baru dikenal, tetapi mau berbagi bantuan tanpa banyak pertanyaan.
Dari situ saya memahami bahwa sekeras apa pun perjalanan hidup seseorang, selalu ada orang baik yang hadir di tengah jalan.
Kadang bantuan kecil justru menjadi sesuatu yang sangat berarti ketika seseorang sedang berada di masa sulit.
Pulau Seram bukan hanya menjadi tempat perjalanan biasa, tetapi menjadi bagian penting yang membentuk mental dan cara pandang saya terhadap kehidupan.
Saya belajar bahwa hidup tidak selalu tentang kenyamanan. Ada masa ketika seseorang harus benar-benar berjalan sendiri agar bisa memahami arti bertahan hidup.
Baca juga:
🔗 Di Antara Laut dan Pulang: Tentang Kita yang Terus Menyebrang
Kini tahun 2026, hidup saya berada di fase yang sangat berbeda dibanding masa-masa sebelumnya.
Saya tinggal dan menjalani kehidupan di Bali dengan ritme yang lebih tenang. Perjalanan masih tetap ada, tetapi tidak lagi sejauh dan seliar dulu.
Sekarang ada bawaan yang harus dipikirkan dan dijaga. Ada tanggung jawab yang membuat cara hidup perlahan berubah. Jika dulu saya bisa pergi kapan saja tanpa banyak pertimbangan, kini semuanya harus dipikirkan lebih matang.
Kadang saya merindukan masa-masa perjalanan panjang tanpa arah yang pasti. Masa ketika hidup terasa bebas dan penuh spontanitas. Namun di sisi lain, saya juga mulai memahami bahwa perubahan adalah bagian alami dari kehidupan.
Tidak mungkin seseorang terus hidup di fase yang sama selamanya. Waktu akan terus bergerak, dan manusia mau tidak mau harus belajar mengikuti perubahan itu.
Kini perjalanan lebih banyak dilakukan di sekitar Bali. Meski tidak lagi sejauh dulu, saya tetap menikmati setiap prosesnya.
Karena pada akhirnya saya sadar bahwa perjalanan bukan tentang seberapa jauh kaki melangkah, tetapi tentang bagaimana seseorang menikmati hidup yang sedang dijalani.
Semakin bertambah usia, harapan hidup juga menjadi lebih sederhana. Saya tidak lagi terlalu memikirkan perjalanan besar atau petualangan liar seperti masa lalu. Namun bukan berarti keinginan untuk berjalan itu hilang.
Saya justru berharap suatu hari nanti bawaan yang sekarang menjadi bagian hidup saya bisa ikut menikmati perjalanan.
Bisa melihat tempat-tempat baru bersama, mengenal banyak suasana berbeda, dan merasakan pengalaman hidup yang selama ini hanya saya alami sendiri di jalan.
Karena bagi saya, perjalanan selalu memiliki makna yang lebih dalam dibanding sekadar berpindah tempat. Perjalanan adalah cara hidup, cara belajar, dan cara memahami dunia.
Dan mungkin benar, hidup memang selalu berubah di setiap fase waktu. Namun sejauh apa pun perubahan itu datang, kenangan tentang jalanan, perjalanan panjang, dan kehidupan yang pernah dijalani akan selalu tinggal di dalam ingatan.