Langkah Menjadi Pendeta: Perjalanan Keturunan Brahmana Buda Keling di Bali

Ida Pedanda Gede Made Gianyar, tokoh spiritual di Desa Buda Keling, mengenakan pakaian adat dan duduk dengan tenang di lingkungan pura.
Ida Pedanda Gede Made Gianyar merupakan salah satu tokoh spiritual di Desa Buda Keling. (Foto: Gus Santi)

“Menjadi pendeta bukan sekadar meninggalkan dunia, tetapi menjadi jembatan antara bhur loka (dunia materi) dan swah loka (dunia spiritual).”

Bagi sebagian orang, panggilan hidup untuk menjadi seorang pendeta Ida Pedanda mungkin terdengar seperti sebuah keputusan yang direncanakan matang sejak awal, bahkan diwariskan sebagai amanat yang tak terbantahkan.

Namun, bagi keturunan Brahmana Buda Keling ini, proses tersebut justru hadir secara perlahan seperti aliran air yang menembus batu, melalui rangkaian peristiwa yang membentuk keyakinan di luar batas logika.

Ia tidak menutupi kegelisahannya. Saat ditanya tentang kesiapan, jawabannya tegas namun jujur, belum siap.

Meski begitu, dalam garis keturunan yang tersisa saat ini, keluarga besar sepenuhnya mempercayakan langkah ini kepadanya.

Dukungan mengalir dari keluarga inti hingga kerabat jauh. Baginya, keputusan ini bukan hanya pilihan pribadi, melainkan sebuah tanggung jawab suci, menjaga agar silsilah keluarga pendeta tidak berhenti di generasinya.

Dari Dunia Proyek ke Jalan Spiritualitas

Selama bertahun-tahun, kehidupannya lekat dengan dunia proyek mulai dari perancangan arsitektur, pembangunan, hingga pengawasan di berbagai daerah, khususnya di Bali.

Dunia itu telah membentuknya menjadi pribadi yang teliti, terukur, dan disiplin. Dulu, ia memegang kendali penuh atas setiap proyek yang ia tangani.

Kini, ia memilih untuk bekerja sebagai pengawas proyek dengan gaji bulanan, peran yang lebih sederhana namun memberinya ruang untuk merenung.

Lambat laun, ia menyadari bahwa ia seperti sedang memaksakan diri untuk tetap berada di jalur lama bertahan di dunia yang sudah ia kenal, namun tak lagi memberi getaran yang sama di hatinya.

Semakin ia berusaha mempertahankannya, semakin jelas suara di dalam dirinya berkata, “Jalan ini bukan lagi milikmu.”

Tanda yang Datang di Luar Nalar

Dalam keyakinan masyarakat Bali, takdir menjadi pendeta sering kali hadir melalui tanda-tanda yang sulit dijelaskan secara rasional.

Ada yang datang lewat mimpi, ada pula yang muncul dalam bentuk peristiwa yang berulang, seolah semesta sedang memberi pesan.

Ia pun mulai merangkai potongan-potongan pengalaman yang ia alami, pertemuan dengan orang-orang yang mendorongnya untuk berbagi ilmu tanpa pamrih, kejadian-kejadian kecil yang meneguhkan niatnya, hingga dorongan batin yang tak kunjung surut.

Semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin kuat rasa itu memanggil.

“Kalau bukan saya yang mengambil langkah ini sekarang, maka di generasi saya garis keturunan pendeta akan terputus,” ucapnya, mantap.

Perlahan Meninggalkan Dunia Materi

Seiring waktu, ia mulai berlatih melepaskan keterikatan pada hal-hal yang bersifat materi. Pekerjaan yang dulu menjadi pusat hidupnya, perlahan ia serahkan. Bahkan, komunitas yang selama ini ia pimpin ia latih untuk berjalan mandiri, tanpa sepenuhnya bergantung padanya.

Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. Ada rasa berat yang harus ia hadapi seperti melepaskan bagian dari dirinya yang lama. Namun, ia percaya, setiap langkah kecil adalah bagian dari persiapan menuju panggilan besar.

Baca juga:
🔗 Hening Seperti Gunung Agung: Menggenggam Kekuatan Dalam Diam

Menuju 2026

Saat ini, ia masih memegang amanah sebagai Ketua Perkumpulan Buda Keling Seluruh Indonesia sebuah posisi yang ia pandang bukan sebagai kehormatan pribadi, melainkan wadah untuk melayani.

Namun, dalam doanya setiap malam, ia memohon agar pada tahun 2026 kelak, ia benar-benar telah matang secara batin dan siap menapaki jalan suci ini sepenuhnya.

Bagi dirinya, menjadi pendeta bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari bab baru hidup untuk melayani tanpa batas, menjadi penuntun yang menghubungkan dunia manusia dengan alam spiritual.

“Saya tidak tahu seperti apa jalan di depan nanti, tapi saya yakin, ketika niatnya tulus untuk dharma, semesta akan membuka jalannya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *