Tahun 2016 menjadi saksi dari salah satu perjalanan yang paling berkesan bagi Moonstar. Saat itu, langkah kakinya menuntunnya menuju Pulau Padar, sebuah pulau kecil di Nusa Tenggara Timur yang dikenal dengan padang sabananya yang luas dan bukit hijau yang menantang untuk didaki.
Pulau itu belum banyak dikenal orang. Hanya segelintir wisatawan yang singgah, itupun biasanya karena mendengar cerita dari mulut ke mulut.
Tidak ada fasilitas memadai, tidak ada papan petunjuk, bahkan jalur menuju puncak bukit masih berupa tanah liar yang menanjak curam.
Untuk sampai ke sana, Moonstar harus menyewa kapal bersama beberapa orang yang ikut menyewa kapal pulau ini adalah rekomendasi dari nahkoda kapal karena biasanya jarang ada yang mau mengantar wisatawan ke pulau padar karena jaraknya jauh dan berbeda rute dari spot wisata lainya.
Baca juga:
🔗 Benih yang Tumbuh di Tanah Subur: Sebuah Refleksi tentang Kehidupan dan Harapan
Begitu menjejakkan kaki di Pulau Padar, ia disambut oleh hamparan padang rumput luas yang bergoyang tertiup angin laut.
Dari kejauhan, bukit tunggal menjulang dengan gagah seolah mengundang setiap pengunjung untuk menaklukkannya. Namun, jalannya tidak mudah.
Langkah demi langkah terasa berat. Tanah licin setelah hujan, ditambah teriknya matahari yang membakar kulit, membuat napas tersengal.
“Apakah aku sanggup sampai ke puncak?” batinnya sempat ragu. Tetapi bersama beberapa kawan seperjalanan yang saling menyemangati, ia terus melangkah.
Setiap hentakan kaki di tanah terasa seperti percakapan sunyi dengan alam. Setiap keringat yang menetes seolah menjadi persembahan kecil bagi bumi. Hingga akhirnya, ketika tubuh nyaris menyerah, puncak itu tercapai.
Dari atas bukit Pulau Padar, pandangan terbentang tanpa batas. Laut biru membentang sejauh mata memandang, dihiasi pulau-pulau kecil lain di kejauhan.
Padang sabana tampak seperti permadani emas yang disiram cahaya senja. Angin kencang membawa aroma laut dan rasa kebebasan.
Namun, pemandangan itu hanyalah hadiah tambahan. Kemenangan sejati justru terletak pada proses, bagaimana langkah kecil yang terus dijaga bisa mengantarkan ke puncak, bagaimana rasa lelah berubah menjadi kebanggaan, dan bagaimana keraguan yang sempat muncul akhirnya dikalahkan oleh keyakinan.
Baca juga:
🔗 Tebing Keraton: Menyentuh Langit di Atas Kabut Bandung
Bertahun-tahun setelah perjalanan itu, Moonstar mendengar kabar yang beredar, Pulau Padar akan dibangun ratusan villa mewah sebagai bagian dari pengembangan pariwisata.
Sebuah rencana yang di satu sisi terdengar menjanjikan, namun di sisi lain menimbulkan kegelisahan.
Apakah kehadiran villa-villa itu akan membawa kemakmuran bagi masyarakat sekitar? Mungkin iya.
Tetapi apakah juga akan merampas kesunyian, kesederhanaan, dan kesakralan pulau kecil ini? Pertanyaan itu masih menggantung, belum ada jawaban pasti.
Pulau yang dahulu menyuguhkan keheningan di mana satu-satunya suara hanyalah desir angin dan debur ombak mungkin suatu hari akan berubah menjadi destinasi ramai, dipenuhi tawa wisatawan dan deru mesin kapal.
Keindahan alamnya mungkin tetap memukau, tetapi makna yang pernah hadir rasa intim antara manusia dan alam barangkali akan semakin sulit ditemukan.
Bagi sebagian orang, perjalanan memang hanya soal destinasi tiba, melihat, lalu mengabadikan dalam foto.
Namun bagi Moonstar, pengalaman di Pulau Padar adalah sesuatu yang lebih dari itu. Setiap tarikan napas di jalur pendakian, setiap rasa lelah yang menguji tubuh, dan setiap detik di puncak, telah menjadi bagian dari narasi hidupnya.
Perjalanan itu mengajarkan bahwa hadir sepenuhnya dalam setiap langkah jauh lebih penting daripada cepat sampai.
Bahwa keindahan bukan hanya milik puncak, tetapi juga milik jalan terjal yang mengantarkan ke sana.
Kini, meski Pulau mungkin akan berubah wajah di masa depan, kenangan tahun 2016 itu tetap hidup.
Ia akan selalu menjadi pengingat bahwa dalam kesunyian dan kesederhanaannya, Moonstar pernah belajar tentang arti keberanian, ketekunan, dan kebersyukuran.
Baca juga:
🔗 Hidup Seperti Perahu di Lautan: Menentukan Arah agar Tidak Hanyut
Karena sejatinya, perjalanan bukan hanya soal ke mana kaki melangkah, tetapi juga tentang bagaimana hati belajar di setiap langkahnya.