Memainkan rindik bukan hanya tentang menjaga alunan musik bambu, tetapi juga menjaga denyut tradisi Bali.
Namun, tidak banyak anak muda yang memilih alat musik tradisional ini sebagai profesi, apalagi berani menjadikannya sebagai rintisan usaha.
Di tengah tantangan itulah muncul sosok Putu Indra Darmawan, pemuda 26 tahun asal Denpasar, yang konsisten menapaki jalan sunyi sebagai pemain rindik.
Baca juga:
🔗 Generasi Muda Bali Menjaga Tradisi Leluhur
Indra sudah mengenal rindik sejak ia masih TK. Suara bambu yang bergetar lembut menjadi bagian dari tumbuh kembangnya.
Ketika memasuki dunia kerja, ia mulai tampil di sebuah hotel dengan bayaran 75 ribu rupiah untuk 6 jam bermain setiap hari. Meski kecil, ia menerima pekerjaan itu dengan penuh rasa syukur, karena sistem kontrak membuat pendapatannya stabil.
Pengalaman panjang itulah yang mengasah kemahiran Indra. Dari panggung kecil hotel, ia belajar disiplin, ketekunan, serta memahami bahwa mencintai musik tradisional berarti siap menghadapi jalan yang tak selalu terang.
Setelah bertahun-tahun bermain untuk orang lain, Indra akhirnya mengambil langkah besar. Ia berani menyewa sebuah space di Samasta Jimbaran dengan biaya 700 ribu rupiah per bulan, sebuah keputusan yang tidak mudah bagi seorang pemain musik tradisional.
Sudah satu minggu ia membuka stand rindik tersebut. Di sana ia tidak hanya memainkan rindik, tetapi juga memberikan pengalaman belajar kepada wisatawan. Banyak yang tertarik, tetapi lika-liku perjuangannya tidak terelakkan.
Ada hari ketika ia merasa dihargai. Tapi ada pula momen yang menyisakan kekecewaan. Salah satu wisatawan asing yang ia ajari sempat ingin memberi tip karena senang dapat mempelajari rindik.
Namun guide yang mendampingi wisatawan tersebut justru berkata, “Tidak usah, itu sukarela saja.”
Indra hanya bisa menahan kecewa, karena baginya, setiap rupiah sangat berarti dalam membangun usaha kecil ini.
Bahkan ketika ia menawarkan pengalaman belajar rindik seharga 20 ribu rupiah, beberapa orang lokal mencibir. Padahal yang ia tawarkan adalah kesempatan memegang salah satu identitas budaya Bali.
Kisah Indra adalah potret nyata tantangan seniman lokal dalam dunia pariwisata. Bali dikenal sebagai pusat budaya, namun seniman tradisional seperti Indra belum tentu otomatis dihargai.
Banyak wisatawan mengagumi seni Bali, namun tidak semuanya menyadari bahwa di balik setiap nada rindik ada manusia yang menggantungkan hidupnya di sana.
Indra hadir membawa pengalaman, bukan sekadar hiburan. Ia menjual rasa, bukan barang. Ia menawarkan budaya, bukan sekadar aktivitas.
Namun sering kali penghargaan terhadap jasa seni tradisional masih belum sebanding dengan kerja keras para pelakunya.
Baca juga:
🔗 Menikmati Hiburan Seni di Bali
Perjuangan Indra sekaligus menjadi pengingat, seni tradisi hanya akan bertahan jika generasi muda diberi ruang untuk hidup dari keterampilan itu.
Setiap hari, dari pagi hingga malam, Indra menempuh perjalanan Denpasar–Jimbaran demi menjaga mimpinya tetap hidup.
Rasa lelah tentu ada, tetapi keyakinannya lebih besar. Baginya, rindik bukan hanya alat musik, melainkan masa depan yang selalu ia lihat di ujung perjalanan.
Ia percaya bahwa dengan ketekunan, rindik dapat membuka jalan rezeki. Ia berharap suatu hari nanti, musik tradisional Bali memiliki tempat yang lebih layak dan dihargai tidak hanya sebagai pertunjukan, tetapi juga sebagai profesi.
Perjalanan Indra adalah perjalanan menjaga tradisi. Ia menolak menyerah meski jalan yang ia tempuh penuh tantangan. Suara rindik yang ia mainkan setiap hari bukan hanya nada, tetapi tekad, doa, dan harapan.
Inilah kisah seorang pemuda yang memilih berdiri di tengah arus modernisasi, memegang teguh warisan leluhur, dan percaya bahwa masa depan dapat dibangun dari suara bambu yang lembut.
Putu Indra Darmawan membuktikan bahwa menjaga tradisi bukan berarti tertinggal, justru menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.