BALI — Mendorong pertanian menjadi sektor yang modern, berkelanjutan, dan memiliki daya saing internasional menjadi komitmen Petani Muda Keren (PMK), gerakan yang digagas oleh Anak Agung Gede Agung Wedhatama, atau yang akrab disapa A.A. Gung Wedha.
Sejak berdiri pada 2014, PMK konsisten mengembangkan ekosistem pertanian melalui inovasi teknologi, pemberdayaan petani, edukasi generasi muda, hingga penguatan akses pasar.
Sebagai pelopor agrosociopreneur, A.A. Gung Wedha mendorong pendekatan pertanian yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga memperhatikan aspek sosial, ekonomi, dan kelestarian lingkungan.
Komitmen tersebut mengantarkannya meraih apresiasi dalam ajang International Tourism Leaders Summit (ITLS) Awards 2026 atas dedikasinya di bidang Sustainable Agribusiness & Technology Innovation Leader.
Baca juga:
🔗 ITLS Awards 2026 IHGMA Bali, Apresiasi bagi Para Pemimpin Pariwisata dan Pembangunan Berkelanjutan
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas kiprah dalam mengembangkan pertanian berkelanjutan sekaligus memperluas peluang bagi generasi muda untuk terlibat dalam sektor agrikultur.
Bagi PMK, pertanian bukan sekadar aktivitas menanam dan memanen. Pertanian merupakan bagian dari upaya membangun kedaulatan pangan nasional melalui penguatan kapasitas petani, penerapan teknologi, pengelolaan hasil panen, serta penciptaan nilai tambah bagi komoditas lokal.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program edukasi, termasuk kegiatan yang dilaksanakan pada Oktober 2026 dengan melibatkan mahasiswa dalam aktivitas ekspor salak Bali ke pasar internasional, termasuk Tiongkok.
Melalui Koperasi Petani Muda Keren bersama PT Bali Organik Subak, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengenal langsung proses bisnis pertanian, mulai dari penanganan hasil panen hingga persiapan pengiriman produk ke pasar luar negeri.
Program ini menjadi bagian dari upaya PMK memperkenalkan konsep Integrated Value Chain Agriculture, yakni pendekatan yang menghubungkan berbagai tahapan dalam rantai nilai pertanian, mulai dari produksi di tingkat petani, penanganan pascapanen, pengendalian mutu, pengemasan, hingga distribusi dan pemasaran.
Mahasiswa tidak hanya mempelajari salak sebagai komoditas pertanian, tetapi juga memahami proses panjang yang harus dilalui agar produk lokal dapat memenuhi kebutuhan pasar internasional.
Pembelajaran diawali dengan mengenal proses panen dan pengumpulan hasil dari petani. Selanjutnya, mahasiswa terlibat dalam aktivitas operasional di fasilitas pengemasan atau packing house milik PT Bali Organik Subak.
Di lokasi tersebut, mereka mempelajari proses sortasi, pemeriksaan mutu, pengelompokan berdasarkan kualitas atau grading, serta persiapan pengemasan salak untuk pengiriman.
Setiap buah harus diperiksa secara cermat agar memenuhi standar kualitas yang ditetapkan. Ketelitian, kebersihan, konsistensi mutu, kerja sama tim, dan tanggung jawab menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Pengalaman ini memberikan gambaran bahwa keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan oleh hasil panen yang melimpah. Kualitas produk dan koordinasi di sepanjang rantai pasok turut menentukan kemampuan komoditas pertanian menembus pasar internasional.
Selain mempelajari penanganan pascapanen, mahasiswa juga diperkenalkan pada tahapan administrasi ekspor, penyiapan dokumen, pemeriksaan karantina, serta persiapan pengiriman atau shipment.
Melalui kegiatan pemeriksaan bersama petugas karantina, mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai pentingnya pengawasan kesehatan tumbuhan dan pemenuhan persyaratan negara tujuan.
Aspek tersebut menjadi bagian penting dalam perdagangan komoditas pertanian lintas negara. Produk yang akan diekspor harus dipersiapkan sesuai ketentuan yang berlaku, baik dari sisi kualitas, keamanan, kelengkapan dokumen, maupun prosedur pemeriksaan.
Pengalaman langsung ini memperlihatkan bahwa ekspor hasil pertanian bukan sekadar aktivitas menjual produk ke luar negeri. Di dalamnya terdapat proses terintegrasi yang membutuhkan ketelitian, pengetahuan, teknologi, dan koordinasi berbagai pihak.
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu melihat pertanian dari perspektif yang lebih luas, yakni sebagai sebuah ekosistem bisnis yang memiliki peluang untuk dikembangkan secara profesional dan berkelanjutan.
Bagi Petani Muda Keren, keterlibatan mahasiswa dalam aktivitas ekspor merupakan bagian dari visi jangka panjang untuk melahirkan lebih banyak agripreneur, yaitu wirausaha muda yang bergerak di sektor pertanian.
Generasi muda diajak memahami bahwa peluang usaha pertanian tidak terbatas pada kegiatan budidaya.
Berbagai bidang lain juga dapat dikembangkan, mulai dari teknologi pertanian, pengolahan pascapanen, pengendalian kualitas, logistik, pengemasan, hingga pemasaran dan perdagangan internasional.
Dengan mengenal proses tersebut secara langsung, mahasiswa diharapkan dapat melihat potensi ekonomi dari komoditas lokal sekaligus memahami pentingnya membangun sistem pertanian yang mampu memberikan nilai tambah bagi petani.
Melalui kolaborasi dengan dunia pendidikan, Koperasi Petani Muda Keren berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang melampaui teori di ruang kelas.
PT Bali Organik Subak menjadi tempat mahasiswa mengenal proses operasional ekspor, sementara ekosistem PMK menghubungkan petani, teknologi, pengelolaan pascapanen, dan akses pasar.
Pendekatan ini diharapkan dapat mendorong mahasiswa tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga memiliki keberanian untuk membangun usaha, menciptakan inovasi, serta membuka peluang ekonomi baru bagi petani Indonesia.
Selain mengembangkan kewirausahaan dan akses pasar, PMK juga menjalankan edukasi pertanian melalui konsep tumpang sari yang mengombinasikan tanaman perkebunan dengan tanaman hortikultura.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan sekaligus memperkenalkan praktik pertanian yang lebih beragam kepada petani.
Melalui gerakan Bali Menanam, PMK turut mendorong penghijauan di kawasan hutan dan daerah penyangga air di Pulau Bali.
Upaya ini menjadi bagian dari kepedulian terhadap kelestarian alam dan keberlanjutan sumber daya yang mendukung kehidupan masyarakat. Bagi PMK, kemajuan pertanian perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga lingkungan.
Produktivitas, kesejahteraan petani, inovasi teknologi, dan kelestarian alam merupakan unsur yang saling berkaitan dalam membangun sistem pangan yang berkelanjutan.
Dengan semangat Agriculture 4.0, PMK berupaya memperkenalkan pertanian sebagai sektor yang terbuka terhadap teknologi, inovasi, dan keterlibatan generasi muda.
Kedaulatan pangan menjadi cita-cita besar yang ingin diwujudkan melalui penguatan petani, pengembangan usaha pertanian, dan peningkatan daya saing produk lokal.
“Petani Maju, Petani Bersatu. Petani Organik, Petani Terbaik.”