Puja Astawa: Kreator Hiburan dan Pembuat Film Tradisi Bali

Puja Astawa menyampaikan pesan budaya dan kemanusiaan melalui sinema dokumenter.
Puja Astawa melalui sinema dokumenter, membawa semangat pelestarian budaya dan nilai-nilai kemanusiaan. (Foto: Moonstar)

Siapa yang tidak mengenal Puja Astawa, sosok yang telah lama dikenal sebagai seniman sekaligus konten kreator yang menghibur masyarakat Bali dengan gaya khas dan nuansa lokal yang kental.

Kini, ia melangkah lebih jauh dari dunia hiburan digital ke ranah sinema dokumenter, membawa semangat pelestarian budaya dan nilai kemanusiaan yang mengakar di Pulau Dewata.

Baru-baru ini, Puja merilis film dokumenter tentang tradisi Mekotek di Desa Munggu, Badung.

Meskipun project ini telah rampung, ia masih menunggu waktu yang tepat untuk merilisnya bersamaan dengan beberapa karya lain yang tengah dipersiapkan di akun barunya.

Keunikan film ini tidak hanya terletak pada visual yang memikat atau kemegahan budaya yang ditampilkan, tetapi pada sudut pandang yang diambil.

Nilai-nilai kemanusiaan seperti semangat kerja sama, hidup rukun antar tetangga, dan pentingnya perdamaian dalam kehidupan desa menjadi pesan utama yang ingin disampaikan kepada masyarakat luas.

 “Kebudayaan bukan hanya soal upacara atau visual yang megah. Tapi juga tentang bagaimana kita hidup berdampingan, menjaga keharmonisan di lingkungan kita,” ujar Puja dalam salah satu wawancara singkatnya.

Kini, ia tengah mempersiapkan proyek film dokumenter lanjutan yang mengangkat tradisi Perang Pandan salah satu seni tradisional sakral khas Bali Aga yang akan digelar pada 22 Juni mendatang di Desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem.

Desa ini dikenal sebagai salah satu desa tertua di Bali yang masih memegang teguh adat istiadat leluhur.

Baca juga:
🔗 Perang Pandan Bali: Keindahan dan Kegemilangan Tradisi Leluhur


Lebih dari Sinematografi Pesan Moral bagi Bali

Kesibukan ini membuat Puja lebih banyak fokus pada penggarapan konsep dan pesan yang ingin ia bawa.

Menurutnya, film tentang Bali dengan sinematografi yang menawan sudah banyak dibuat, baik oleh sineas dalam negeri maupun luar negeri.

Namun, yang menjadi konsentrasinya adalah pesan moral yang ingin diwariskan khususnya kepada masyarakat Bali sendiri.

 

“Saya ingin menyampaikan bahwa hidup di pulau ini bukan hanya soal pariwisata. Tapi juga tentang kehidupan sehari-hari yang dijalani dengan nilai moral, etika, dan kebersamaan yang dititipkan oleh leluhur kita,” ungkapannya.

Bagi Puja Astawa, membuat film bukan sekadar dokumentasi, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral terhadap tanah kelahirannya yang telah memberinya kehidupan dan inspirasi.

Ia bermimpi bahwa karya-karya yang ia hasilkan bisa menjadi catatan sejarah bagi generasi mendatang bahwa Bali bukan hanya tentang keindahan alam dan budaya, tetapi juga tentang kehidupan yang harmonis dan sarat makna.

“Saya ingin mengambil bagian dalam perjalanan pulau ini. Semoga karya-karya saya bisa menjadi pengingat bahwa Bali adalah rumah bagi tradisi, kehidupan, dan nilai-nilai luhur yang patut dijaga bersama.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *