Renny: Lahir dari Kebaikan, Tumbuh dengan Perjuangan

Renny beraktivitas dalam lingkungan kerja di Mövenpick Resort & Spa Jimbaran Bali.
Renny memiliki semangat kerja keras sejak kecil. Perjalanan panjang itu membawanya meraih karier hingga kini menjadi bagian dari tim Mövenpick Resort & Spa Jimbaran Bali. (Foto: Moonstar)

Di sebuah sudut kawasan Tegal, Imam Bonjol, Bali, lahirlah seorang anak perempuan pada era 1980-an yang kelak meniti karier hingga menjadi bagian dari tim di Mövenpick Resort & Spa Jimbaran Bali.

Namanya Renny, nama yang bukan sekadar identitas, tetapi juga simbol penghormatan dan rasa terima kasih.

Lahir dari Perjuangan dan Kebaikan

Kisah hidup Renny dimulai dari cerita yang selalu diulang ayahnya. Saat sang ibu hendak melahirkan, keluarganya berniat pergi ke rumah sakit.

Namun di tengah perjalanan, dompet ayahnya hilang. Uang tak cukup, pilihan pun berubah. Mereka akhirnya mendatangi bidan terdekat.

Dengan ketulusan, sang bidan membantu proses persalinan tanpa meminta bayaran saat itu juga. “Kalau sudah punya uang, baru bayar,” begitu kira-kira pesan yang mereka terima.

Sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih, nama bidan itulah yang kemudian disematkan pada dirinya: Renny.

Sejak kecil, ayahnya selalu berpesan, “Kamu lahir dan hidup dari kebaikan orang. Jadi ingat ya, Nak, dalam perjalanan hidupmu nanti jangan pernah lupa membantu orang lain.” Pesan itu terpatri kuat, menjadi kompas moral dalam setiap langkah hidupnya.

Baca juga:
🔗 Akar yang Bekerja dalam Diam dan Bertumbuh Tanpa Sorotan

Masa Kecil yang Berubah Arah

Renny tumbuh di keluarga yang awalnya cukup mampu. Ayahnya bekerja di Qantas Airlines, bolak-balik Australia–Bali.

Dari situlah ia kecil sudah akrab dengan bahasa Inggris, terbiasa mendengar percakapan dan berita berbahasa asing.

Namun hidup tak selalu berjalan lurus. Ketika ia duduk di bangku kelas 3 SD, sebuah peristiwa mengubah segalanya. Ayahnya mengalami kecelakaan, patah tulang kaki, dan dirawat di RS Surya Husada.

Masa pemulihan panjang membuat sang ayah akhirnya dipensiunkan dini. Ekonomi keluarga pun goyah.

Uang yang tersisa hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan seadanya. Renny membawa termos berisi es lilin ke warung-warung untuk dijual, sekadar menambah penghasilan. Di tengah keterbatasan itu, tekad Renny untuk sekolah justru semakin menguat.

Menari untuk Bertahan

Saat anak-anak lain bermain sepulang sekolah, Renny memilih jalan berbeda. Di kelas 5 SD, ia mulai bekerja sebagai penari di hotel-hotel.

Ia bergabung dengan sanggar tari yang memiliki jaringan tampil di beberapa hotel di Bali pada era 1990-an. Awalnya ia dianggap terlalu kecil, namun Renny menjawab tegas, “Saya butuh uang untuk sekolah. Saya ingin menari.”

Setiap pementasan memberinya bayaran sekitar Rp5.000 hingga Rp10.000—jumlah yang sangat berarti saat itu.

Sepulang sekolah, ia naik truk bersama para penabuh gamelan, berpindah dari satu lokasi pertunjukan ke lokasi lain.

Masa kecilnya diisi dengan kerja keras, panggung, dan perjalanan panjang. Namun dari situlah mental pejuangnya terbentuk. “Saya dari kecil memang pejuang,” begitu ia menggambarkan dirinya.

Baca juga:
🔗 Tubuh yang Bergerak, Budaya yang Bertahan

Meniti Karier, Menjaga Nilai

Perjuangan itu menjadi fondasi yang menguatkannya hingga dewasa. Kemampuan bahasa Inggris yang terasah sejak kecil, kedisiplinan dari dunia tari, serta pengalaman hidup yang keras membentuk karakter tangguh dan empati yang dalam terhadap sesama.

Kini, Renny meniti karier di Mövenpick Bali. Di balik profesionalismenya, tersimpan kisah seorang anak yang pernah menjual lilin, menari demi uang sekolah, dan tumbuh dari pesan sederhana seorang ayah, jangan lupa membantu orang lain.

Renny, perempuan Bali asli Tegal Imam Bonjol, adalah bukti bahwa kebaikan adalah cahaya yang menuntun sepanjang perjalanan. Hari ini ia telah menjadi ibu dari putri kembar yang tinggal di Surabaya.

Dan seperti ayahnya dulu, ia pun menanamkan nilai yang sama: hidup bukan hanya tentang berhasil, tetapi tentang tetap ingat untuk berbagi. Karena ia tahu, hidupnya sendiri dimulai dari kebaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *