Surat-Surat kepada Warna, Satyanara Batu Kurung Estate Jadi Ruang Dialog Seni di Ubud

Satyanara Batu Kurung Estate di Ubud sebagai ruang apresiasi seni dan budaya.
Sebagai salah satu ruang yang baru dibuka di kawasan Ubud, Satyanara Batu Kurung Estate hadir untuk menjawab kebutuhan akan wadah apresiasi seni dan budaya. (Foto: Mahendra)

GIANYAR, BALI — Dunia seni memiliki peran penting dalam memperkaya pengalaman pariwisata Bali.

Kehadiran ruang-ruang seni tidak hanya memberikan kesempatan bagi seniman untuk menampilkan karya, tetapi juga menjadi wadah untuk berbagi gagasan, memperluas perspektif, serta mempertemukan kreativitas dengan masyarakat dan wisatawan.

Semangat tersebut hadir melalui pameran seni bertajuk Surat-Surat kepada Warna (Letters to Colour) yang berlangsung di Satyanara Batu Kurung Estate, Kedewatan, Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, pada 22 Oktober 2026 hingga 24 Januari 2027.

Pameran yang dikurasi oleh Yipei Lee dan Mella Jaarsma ini melibatkan puluhan seniman dengan beragam pendekatan dan ekspresi artistik.

Karya-karya yang ditampilkan menghadirkan perspektif yang berbeda, sekaligus membuka ruang bagi pengunjung untuk menikmati seni melalui pengalaman visual dan dialog yang lebih mendalam.

Sejumlah seniman yang terlibat dalam pameran ini antara lain Kadek Armika, Melati Suryodarmo, dan Arsita Pinandita. Kehadiran mereka memperkaya ragam ekspresi yang ditawarkan dalam pameran tersebut.

Dialog Seniman dan Proses Kreatif

Rangkaian kegiatan pameran tidak hanya berfokus pada karya yang dipajang, tetapi juga menghadirkan ruang pertemuan antara seniman dan pengunjung melalui diskusi serta berbagi pengalaman.

Pada Jumat, 23 Oktober 2026, sejumlah seniman dan panelis, termasuk Xu Xi, terlibat dalam sesi berbagi pengalaman.

Mereka membicarakan perjalanan kreatif, gagasan di balik karya, serta pengalaman yang melatarbelakangi keterlibatan mereka dalam pameran Letters to Colour.

Dialog semacam ini memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk memahami seni dari sudut pandang yang lebih luas.

Karya tidak lagi sekadar menjadi objek yang diamati, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk mengenal pemikiran, pengalaman, dan proses kreatif para seniman.

Melalui pertemuan tersebut, pameran menjadi ruang interaksi yang mempertemukan seniman dengan publik, sekaligus mendorong tumbuhnya apresiasi terhadap seni kontemporer.

Lokakarya, Diskusi, dan Pertunjukan Seni

Rangkaian acara berlanjut pada Sabtu, 24 Oktober 2026, dengan beragam kegiatan yang melibatkan pengunjung secara langsung.

Program lokakarya seni menghadirkan dua kegiatan, yaitu Cyanotype pada pukul 10.30–12.30 WITA, yang didukung Black Hand, serta lokakarya Kamasan Painting pada pukul 13.00–15.00 WITA bersama Khatha Studio.

Selain lokakarya, pengunjung dapat mengikuti sejumlah diskusi seni yang membahas proses kreatif, hubungan seni dengan disiplin ilmu lain, serta peran seni dalam kehidupan masyarakat.

Pada pukul 10.30–11.45 WITA, sesi The Creative Process is Multidisciplinary yang didukung Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) mengangkat proses kreatif lintas disiplin.

Baca juga:
🔗 Surat-Surat kepada Warna, Ruang Dialog Seni dan Kreativitas di Ubud

Selanjutnya, diskusi Surat-Surat kepada Warna (Letters to Colour) dijadwalkan berlangsung pukul 15.00–17.00 WITA.

Rangkaian kegiatan hari itu juga mencakup diskusi Art, Architecture & Community, Building Value Through Art pada pukul 18.00–20.00 WITA, yang didukung Roman & Quadra.

Pengunjung juga dapat menikmati pertunjukan musik tradisional dan kontemporer melalui penampilan Contemporary Gamelan oleh Emon Subandi pada pukul 17.00–18.00 WITA.

Perpaduan pameran, lokakarya, diskusi, dan pertunjukan tersebut menghadirkan pengalaman yang lebih menyeluruh. Seni tidak hanya dinikmati melalui karya visual, tetapi juga melalui percakapan, praktik kreatif, dan pertunjukan yang melibatkan berbagai bentuk ekspresi.

Satyanara dan Ruang bagi Seni serta Budaya

Sebagai salah satu ruang yang baru dibuka di kawasan Ubud, Satyanara Batu Kurung Estate menghadirkan pendekatan yang menempatkan seni dan budaya sebagai bagian dari program kegiatannya.

Penyelenggaraan Letters to Colour menjadi salah satu bentuk pemanfaatan ruang tersebut untuk mengakomodasi aktivitas para seniman sekaligus mempertemukan karya seni dengan masyarakat dan wisatawan.

Dukungan terhadap kegiatan seni membutuhkan lebih dari sekadar tempat untuk memamerkan karya.

Ruang yang memadai, fasilitas pendukung, serta program yang membuka kesempatan untuk berdialog dan berkolaborasi turut berperan dalam menciptakan ekosistem seni yang dinamis.

Melalui penyelenggaraan pameran dan berbagai kegiatan pendampingnya, Satyanara berupaya menghadirkan ruang yang memungkinkan seni berkembang melalui pertemuan gagasan, pengalaman, dan kreativitas.

Di tengah perkembangan pariwisata Ubud, kehadiran ruang-ruang semacam ini memberikan alternatif pengalaman bagi pengunjung. Bali tidak hanya menawarkan keindahan alam dan kekayaan tradisi, tetapi juga kehidupan seni yang terus bergerak dan berkembang.

Pameran Surat-Surat kepada Warna menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana karya, ruang, dan interaksi manusia dapat saling terhubung.

Seni pun hadir bukan semata-mata sebagai sesuatu yang dipamerkan, melainkan sebagai bagian dari dialog yang memperkaya pengalaman budaya di Bali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *