Ungasan, Bali — Liburan di Bali tidak selalu harus diisi dengan perjalanan dari satu tempat wisata ke tempat lainnya.
Ada kalanya satu kawasan saja cukup untuk menghabiskan hampir seluruh hari, terutama jika tempat tersebut menawarkan pemandangan, ruang terbuka, seni dan budaya dalam satu kawasan.
Salah satunya adalah Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park di Ungasan, Badung. Patung Garuda Wisnu Kencana menjadi salah satu ikon pariwisata Bali sekaligus karya monumental yang menjadi daya tarik utama kawasan ini.
Bagi wisatawan yang datang bersama keluarga, GWK bukan hanya tempat untuk melihat patung berukuran raksasa.
Sejumlah aktivitas budaya berlangsung sepanjang hari, mulai dari latihan tari dan gamelan hingga berbagai pertunjukan seni tradisional Bali.
Patung Garuda Wisnu Kencana memang menjadi salah satu titik yang paling mudah dikenali ketika berkunjung ke kawasan ini. Namun, perjalanan di GWK sebenarnya dapat dibuat lebih panjang dengan menjelajahi sejumlah plaza dan ruang pertunjukan yang tersedia.
Di beberapa sudut, pengunjung dapat menikmati arsitektur kawasan, ruang terbuka dan lanskap Bali. Bagi keluarga yang senang mendokumentasikan perjalanan, banyak titik yang dapat digunakan untuk mengabadikan momen bersama.
Anak-anak pun tidak hanya melihat sebuah patung besar, tetapi dapat diperkenalkan pada berbagai bentuk seni tradisional Bali melalui pertunjukan yang berlangsung sepanjang hari.
Baca juga:
🔗 Sudut Viral di GWK Bali: Spot Wajib Foto dengan Latar Patung Garuda Wisnu Kencana
Aktivitas budaya dimulai sejak pagi. Di Plaza Bhagawan, misalnya, pengunjung dapat menyaksikan Sekar Jepun Dance dan Jauk Keras Dance pada pukul 10.00 WITA.
Pada waktu yang hampir bersamaan, Tlatar Mandaloka menghadirkan Balinese Dance Practice dan Gamelan Practice. Sementara itu, pukul 11.00 WITA di Plaza Kura-Kura terdapat Gong Suling Performance.
Memasuki siang hari, pertunjukan berpindah ke beberapa lokasi. Plaza Garuda menghadirkan Jauk Keras Dance dan Kebyar Duduk Dance pada pukul 12.00 WITA, kemudian dilanjutkan Jauk Manis Dance dan Topeng Monyer Dance pada pukul 14.00 WITA.
Di kawasan GWK Statue, pengunjung juga dapat menikmati Oleg Tamulilingan Dance dan Kebyar Duduk Dance pada pukul 11.00 WITA.
Rangkaian tersebut membuat kunjungan ke GWK tidak harus berlangsung dengan pola yang sama. Pengunjung dapat berjalan santai, berhenti menikmati pertunjukan, kemudian melanjutkan perjalanan ke area lainnya.
Salah satu hal yang menarik adalah adanya kesempatan melihat aktivitas seni dari dekat, termasuk latihan tari dan gamelan.
Di Amphitheater, Balinese Dance Practice dan Gamelan Practice dijadwalkan berlangsung pukul 12.00 WITA. Setelah itu, pada pukul 13.00 WITA terdapat Sekar Nirwana Dance dan Kebyar Terompong Dance.
Sore harinya, pertunjukan dilanjutkan dengan Oleg Tamulilingan Dance dan Barong Bojog Dance pada pukul 15.00 WITA.
Sementara di Plaza Wisnu, pengunjung dapat menyaksikan Gender Instrument Performance pada pukul 14.00 WITA dan Balinese Cultural Parade pada pukul 16.00 WITA.
Bagi keluarga, rangkaian ini dapat menjadi pengalaman sederhana untuk mengenalkan anak pada budaya Bali secara langsung.
Tidak hanya melalui buku atau cerita, tetapi dengan melihat gerakan tari, mendengar bunyi gamelan dan menyaksikan para penampil berada di ruang pertunjukan.
Baca juga:
🔗 Festival Ogoh-Ogoh GWK 2026: Perayaan Kreativitas dan Semangat Budaya Bali
Ketika matahari mulai turun, aktivitas budaya di GWK belum berhenti. Di Festival Park, pertunjukan Kecak dijadwalkan berlangsung pukul 18.00 WITA. Pertunjukan ini dapat menjadi penutup setelah seharian berkeliling kawasan.
Dari pagi hingga sore, pengunjung memiliki pilihan untuk menikmati berbagai aktivitas tanpa harus terburu-buru berpindah ke destinasi lain.
Pada akhirnya, perjalanan keluarga di Bali tidak selalu tentang berapa banyak tempat yang berhasil dikunjungi dalam satu hari.
Terkadang, satu tempat yang memberikan ruang untuk berjalan, melihat, mendengar, bermain, berfoto dan menikmati pertunjukan sudah cukup menjadi sebuah cerita.
GWK menjadi salah satu tempat yang menawarkan pengalaman tersebut. Datang untuk melihat kemegahan Garuda Wisnu Kencana, tetapi pulang dengan membawa cerita tentang tari, gamelan, budaya dan waktu yang dihabiskan bersama keluarga.
Catatan: Jadwal pertunjukan dapat berubah mengikuti kondisi dan program pengelola. Pengunjung sebaiknya memeriksa jadwal terbaru sebelum datang.