Salah satu dunia yang tak pernah dibatasi ruang dan waktu adalah seni. Dalam kondisi apa pun, ketika ia tumbuh di dalam diri seseorang, ia akan menemukan jalannya untuk lahir menjadi karya. Seni tidak mengenal seragam, jabatan, atau ruang tugas. Ia hidup dari kepekaan.
Hal itu pula yang tergambar dalam diri Kombes Pol. Daniel Widya Mucharam, seorang perwira kepolisian yang saat ini menjabat sebagai Karo Rena Polda Riau.
Di tengah tanggung jawab strategisnya, ia tetap merawat dunia musik sebagai ruang refleksi dan suara hati.
Baca juga:
🔗Kombespol Daniel Widya Mucharam, SIK., MPA: Sosok Humanis di Tengah Gaung Reformasi Polri
Bagi Daniel, penugasan di tempat baru bukan sekadar menjalankan perintah. Lebih dari itu, ia meyakini pentingnya memahami kehidupan masyarakat secara utuh.
Seorang pemimpin, menurutnya, harus mampu membaca “bahasa yang tak terucap”, kebiasaan, nilai, serta budaya yang hidup dalam keseharian warga.
“Bahasa bukan hanya kata-kata. Bahasa bisa berupa cara menyapa, cara makan, hingga bagaimana masyarakat menjaga keharmonisan,” pernah ia ungkapkan.
Prinsip inilah yang membuatnya mampu beradaptasi di berbagai daerah tempat ia bertugas. Baginya, memahami masyarakat adalah langkah awal untuk bekerja dengan hati.
Baru satu bulan bertugas di Riau, kepekaan itu kembali terusik. Wilayah yang kaya hutan dan sumber daya alam menyimpan dinamika tersendiri, mulai dari isu kerusakan lingkungan hingga alih fungsi lahan yang marak terjadi di Indonesia.
Kegelisahan itu tidak berhenti sebagai wacana. Ia mengubahnya menjadi karya. Lewat lagu berjudul “Ayah Kangen” (ciptaan Yuke NS), Daniel menyuarakan kepedulian terhadap kondisi alam yang kian tergerus.
Musik menjadi medium untuk menyampaikan pesan yang mungkin tak selalu bisa diucapkan dalam forum resmi.
Dalam video yang menyertai lagu tersebut, tergambar refleksi tentang kehilangan, kerinduan, dan harapan akan alam yang lestari. Di dunia musik, ia dikenal dengan nama Daniel DeEX, bagian dari duo musik DeEX.
DeEX merupakan duo musik yang digawangi Daniel bersama Octa. Mereka mengusung genre pop rock ballad dengan aransemen yang emosional dan penuh pesan.
Salah satu karya yang telah dirilis adalah lagu “Tuhan Tolong” yang berkolaborasi dengan Ato Angkasa, vokalis dari Angkasa Band.
Kolaborasi menjadi warna penting dalam perjalanan musikal mereka. Bagi Daniel, musik bukan soal popularitas, melainkan medium berbagi rasa dan kepedulian sosial.
Pada akhir 2024, DeEX juga tengah menyiapkan proyek karya baru, sebagaimana terlihat dari proses produksi video klip yang dibagikan di media sosial.
Baca juga:
🔗 DeEX: Duo Musik Pop Rock Ballad yang Siap Kolaborasi dengan Repvblik, Persembahan Harmoni Lintas Profesi
Menjadi perwira kepolisian di posisi strategis tentu menuntut fokus dan tanggung jawab besar. Namun Daniel menunjukkan bahwa profesionalisme tidak menutup ruang kreativitas. Justru, seni menjadi penyeimbang, ruang kontemplasi di tengah dinamika tugas.
Dalam hidup, barangkali yang membuat perjalanan seseorang bermakna bukan hanya jabatan atau pencapaian, tetapi kontribusi yang ia berikan.
Baik melalui kebijakan, tindakan nyata, maupun karya seni yang menyentuh hati. Seni mengajarkan bahwa manusia bukan sekadar peran yang ia emban. Ia adalah jiwa yang terus mencari makna.
Dan pada akhirnya, hidup memang tentang bagaimana kita memberi dalam bentuk apa pun yang mampu kita ciptakan.