Ada kalanya, keputusan untuk mengubah hidup tidak datang dari nasihat orang lain, melainkan dari kalimat sederhana yang diucapkan seorang anak.
Kabar hilangnya Veronica Beatrix Jessica (23), seorang pemandu selam atau dive master asal Jakarta yang bekerja untuk Dive Tribe, setelah kapal wisata pinisi KM Feronia terbalik dan tenggelam di perairan Batu Bolong/Pulau Tatawa, Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, mengingatkan kita bahwa di balik aktivitas yang memacu adrenalin, selalu ada risiko yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan.
Kisah tersebut sampai kepada Wini, seorang ibu yang kini menetap di Bali dan pernah mengenal Jessica.
Keduanya memiliki ketertarikan pada dunia selam, sebuah aktivitas yang mempertemukan manusia dengan keindahan bawah laut sekaligus mengajarkan tentang keberanian menghadapi alam.
Wini mengenang Jessica sebagai sosok yang menyukai kegiatan ekstrem. Dalam percakapan mereka, Jessica terlihat memiliki ketertarikan terhadap aktivitas yang memacu adrenalin.
Dunia selam bukan sekadar hobi baginya, tetapi juga bagian dari pengalaman hidup yang ia tekuni.
Jessica diketahui telah menyelam di sejumlah wilayah Indonesia dan memiliki sertifikasi dive master, sebuah pencapaian yang menunjukkan keseriusannya dalam dunia penyelaman.
Namun, bagi Windy sendiri, perjalanan hidup perlahan mengubah cara pandangnya terhadap aktivitas yang dahulu begitu ia sukai.
Wini bercerita bahwa dirinya mulai mengurangi aktivitas menyelam setelah mendengar pertanyaan sederhana dari anaknya.
“Mama tidak takut kalau terus menyelam? Nanti kalau Mama hilang dan mati, bagaimana? Menyelam itu berbahaya,” demikian inti kekhawatiran yang disampaikan sang anak.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana bagi orang dewasa. Namun, bagi seorang ibu, pertanyaan tersebut bisa menjadi bahan perenungan yang panjang.
Selama ini, menyelam merupakan aktivitas yang memberikan pengalaman, kebebasan, dan kepuasan tersendiri bagi Wini.
Ada keindahan yang tidak ditemukan di permukaan laut, ada tantangan yang membuatnya terus ingin kembali, serta ada rasa bahagia ketika berada di bawah air.
Namun, ketika seorang anak mulai memahami bahwa aktivitas yang disukai ibunya juga menyimpan risiko, muncul pertanyaan lain yang tidak kalah penting: sejauh mana seseorang bersedia mengambil risiko ketika ada kehidupan lain yang bergantung pada kehadirannya?
Baca juga:
🔗 Perjalanan Seorang Ibu: Dari Rasa Sakit Menjadi Cinta yang Tak Terbatas
Sejak saat itu, Wini mulai mempertimbangkan kembali kebiasaannya. Ia tidak serta-merta meninggalkan dunia selam sepenuhnya.
Sesekali, ia masih melakukan penyelaman, termasuk di kawasan Nusa Penida. Akan tetapi, frekuensinya mulai dikurangi.
Bagi Wini, meninggalkan sesuatu yang telah lama menjadi bagian dari diri sendiri tentu tidak mudah. Ada kecintaan, pengalaman, dan bagian dari identitas yang sudah terbangun selama bertahun-tahun. Namun, ia mulai belajar menempatkan kembali prioritas hidupnya.
Perubahan cara pandang Wini tidak hanya berkaitan dengan aktivitas menyelam. Perjalanan hidup yang ia jalani, termasuk kehilangan suaminya, turut membuatnya memikirkan kembali arti keberanian, ambisi, dan tanggung jawab.
Memasuki usia 30-an, seseorang biasanya masih berada dalam fase produktif. Banyak hal yang ingin dicapai, pengalaman yang ingin dijelajahi, serta keinginan untuk terus menguji batas kemampuan diri.
Dalam kondisi seperti itu, menurunkan ambisi bukanlah perkara sederhana. Terlebih ketika aktivitas yang hendak dikurangi merupakan sesuatu yang dicintai.
Namun, kehidupan terkadang mengajarkan bahwa keberanian tidak selalu berarti terus melangkah lebih jauh atau menaklukkan tantangan yang lebih besar.
Ada kalanya keberanian justru hadir ketika seseorang mampu berhenti sejenak, mengevaluasi pilihannya, dan mengakui bahwa prioritas hidup telah berubah.
Bagi seorang ibu, keputusan tersebut juga berkaitan dengan kesadaran bahwa dirinya bukan lagi hanya hidup untuk dirinya sendiri. Ada seorang anak yang membutuhkan kehadirannya, bukan sekadar dalam ingatan atau cerita, melainkan dalam keseharian.
Kehilangan yang pernah dialami Windy mungkin membuat makna kehadiran terasa berbeda. Ada hal-hal yang dahulu dianggap biasa, tetapi kemudian menjadi begitu berharga ketika seseorang menyadari bahwa waktu bersama orang yang dicintai tidak pernah benar-benar bisa dipastikan.
Mengurangi aktivitas menyelam bukan berarti Wini kehilangan keberanian atau harus meninggalkan seluruh kecintaannya terhadap petualangan.
Ia hanya sedang belajar menempatkan kecintaan itu dalam keseimbangan baru. Sebuah proses yang tidak selalu mudah, tetapi layak dijalani.
Kisah Wini menghadirkan sudut pandang lain tentang keberanian dan tanggung jawab. Di tengah dunia yang kerap mengagungkan pencapaian, tantangan, serta kemampuan menaklukkan batas diri, ada hal sederhana yang terkadang luput dari perhatian, kehadiran kita juga berarti bagi orang lain.
Bagi sebagian orang, menyelam adalah petualangan yang memberikan kebebasan. Bagi yang lain, mendaki gunung, menjelajahi hutan, atau melakukan perjalanan jauh menjadi cara untuk merasakan kehidupan secara lebih utuh.
Tidak ada yang salah dengan mencintai tantangan. Namun, setiap pilihan memiliki konsekuensi, terlebih ketika kita telah menjadi bagian penting dalam kehidupan seseorang.
Pertanyaan seorang anak kepada ibunya menjadi pengingat bahwa risiko yang bagi orang dewasa mungkin terasa biasa bisa memiliki makna berbeda bagi mereka yang menunggu di rumah.
Baca juga:
🔗 Ruang Singgah, Bukan Tujuan: Di Antara Lelah dan Harapan
Anak tidak selalu memahami seluruh aspek teknis dari sebuah aktivitas berbahaya. Namun, ia memahami satu hal yang sangat mendasar: ia tidak ingin kehilangan ibunya.
Dan terkadang, kalimat sederhana itulah yang membuat seseorang meninjau ulang cara hidupnya.
Kabar hilangnya Jessica dalam insiden kapal wisata di perairan Komodo juga mengingatkan kita bahwa dunia petualangan menyimpan risiko yang tidak boleh diabaikan. Meski demikian, pengalaman Wini tidak perlu dimaknai sebagai penilaian terhadap pilihan hidup Jessica.
Keduanya memiliki perjalanan masing-masing, dengan latar belakang dan pertimbangan yang berbeda.
Dari kisah Wini, kita belajar bahwa perubahan tidak selalu berarti menyerah pada ketakutan. Terkadang, perubahan justru lahir dari kesadaran bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada ambisi pribadi.
Ada keluarga yang menunggu. Ada anak yang ingin tumbuh bersama ibunya. Ada kehidupan yang masih ingin dijalani, hari demi hari.
Pada akhirnya, kedewasaan mungkin bukan hanya tentang seberapa jauh kita berani melangkah, tetapi juga tentang kemampuan memahami kapan harus mengambil jarak dari risiko.
Sebab, di antara banyak tempat indah yang ingin kita datangi dan beragam pengalaman yang ingin kita rasakan, selalu ada satu tempat yang memiliki arti berbeda: rumah, tempat seseorang menunggu kita pulang.