Kerauhan Saat Piodalan, Ketika Tradisi Leluhur Masih Hidup di Bali

Kerauhan dalam tradisi Bali saat upacara keagamaan.
Kerauhan istilah Bali adalah kondisi ketika seseorang kemasukan atau ketiban suci oleh energi gaib, seperti Ida Bhatara, Dewa, leluhur, atau roh penunggu, biasanya saat upacara keagamaan. (Foto: Moonstar)

Bali tidak hanya dikenal melalui keindahan alam dan budayanya. Di balik kehidupan masyarakatnya, terdapat berbagai ritual, upacara, dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satunya adalah kerauhan, sebuah tradisi yang hingga kini masih dapat ditemui di sejumlah desa di Bali.

Dalam pemahaman masyarakat Bali, kerauhan bukan sekadar peristiwa kesurupan seperti yang dikenal dalam istilah umum.

Kata kerauhan berasal dari kata rauh, yang berarti datang. Karena itu, secara tradisional kerauhan dimaknai sebagai suatu kondisi ketika seseorang dipercaya mengalami kedatangan atau kehadiran energi niskala, baik yang dikaitkan dengan Ida Bhatara, Dewa, leluhur, maupun manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Tradisi ini biasanya hadir dalam rangkaian upacara keagamaan, terutama ketika berlangsung piodalan atau hari suci di sebuah pura.

Baca juga:
🔗 Odalan di Pura Dalem Jimbaran: Harmoni Tradisi di Bulan Penuh Upacara

Ketika Tubuh Menjadi Media

Dalam prosesi tertentu, seseorang yang mengalami kerauhan dipercaya menjadi media atau perantara bagi kekuatan niskala.

Kondisinya dapat terlihat dari perubahan kesadaran, gerakan tubuh, suara, maupun perilaku yang berbeda dari keadaan sehari-hari.

Dalam istilah masyarakat Bali, fenomena semacam ini juga dikenal dengan sejumlah sebutan, antara lain kerangsukan, tedun, kalinggihan, atau nyajan.

Istilah dan tata pelaksanaannya dapat berbeda antara satu desa dengan desa lainnya, mengikuti desa kala patra serta tradisi yang diwariskan masing-masing komunitas.

Karena berada dalam konteks keagamaan, kerauhan umumnya tidak berdiri sendiri. Ada rangkaian ritual yang mendahuluinya, termasuk proses sakralisasi, keberadaan pemuput upacara seperti sulinggih atau pemangku, pelaksanaan di tempat suci, hingga keterlibatan para pengempon pura.

Di sejumlah tempat juga dikenal adanya Tapakan Kerauhan, yang menjadi bagian dari tata upacara dan tradisi setempat.

Tradisi yang Dipandang Sakral

Bagi masyarakat yang masih menjalankannya, kerauhan dipandang sebagai bagian dari hubungan antara manusia dengan dunia niskala.

Kehadiran tersebut dipercaya menjadi salah satu bentuk manifestasi Tuhan dalam membina dan mengingatkan umat-Nya.

Karena itu, kerauhan tidak semata-mata dipahami dari apa yang terlihat secara fisik. Di dalamnya terdapat keyakinan, simbol, serta tata ritual yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Namun, pemaknaan kerauhan tentu tidak selalu sama di setiap wilayah. Setiap desa memiliki aturan, keyakinan, dan cara menjalankan tradisinya masing-masing.

Ada yang masih mempertahankannya dalam setiap piodalan tertentu, sementara di tempat lain tradisi tersebut mungkin sudah jarang dilakukan.

Baca juga:
🔗 Mebanten Saiban: Tradisi Syukur yang Hidup dalam Keseharian Masyarakat Bali

Antara Tradisi dan Kehidupan Masa Kini

Di tengah perubahan zaman, tradisi seperti kerauhan menjadi bagian dari warisan budaya yang menarik untuk dilihat bukan hanya dari sisi fenomenanya, tetapi juga dari bagaimana masyarakat menjaganya.

Bagi sebagian masyarakat Bali, tradisi tersebut merupakan bagian dari perjalanan spiritual dan identitas budaya.

Sementara bagi generasi yang tumbuh di tengah kehidupan modern, kerauhan menjadi salah satu bentuk pengetahuan tradisional yang perlu dipahami melalui konteks budaya dan kepercayaan masyarakat yang menjalankannya.

Kerauhan pada akhirnya bukan hanya tentang seseorang yang mengalami perubahan kesadaran saat sebuah upacara berlangsung.

Ia juga bercerita tentang bagaimana masyarakat Bali menjaga hubungan antara manusia, alam, leluhur, dan keyakinan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Tradisi boleh berubah mengikuti zaman, tetapi di sejumlah desa di Bali, warisan leluhur masih menemukan ruang untuk tetap hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *