Tragedi di Jembatan Tukad Bangkung: Saat Generasi Muda Tertekan, Kesehatan Mental Jadi Sorotan

Anak-anak muda Bali bersiap mementaskan Tari Kecak dengan semangat melestarikan budaya.
Anak-anak muda bersiap untuk pementasan Tari Kecak, mengekspresikan kecintaan mereka pada seni dan tradisi Bali. (Foto ilustrasi: Mahendra)

Suasana duka menyelimuti keluarga besar IGPM (26), seorang pemuda asal Bali yang ditemukan meninggal dunia di dasar Jembatan Tukad Bangkung, perbatasan Desa Pelaga dan Desa Belok/Sidan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, pada Kamis, 25 September 2025 sekitar pukul 07.53 WITA.

Penemuan jenazah ini mengejutkan banyak pihak, sebab korban dikenal masih muda, belum menikah, dan memiliki status sebagai pelajar/mahasiswa.

Baca juga:
πŸ”— Peristiwa Ulah Pati di Jembatan Tukad Bangkung Kembali Menggemparkan Warga

Kronologi Singkat Sebelum Kejadian

Dari keterangan keluarga, IGPM selama ini bekerja di Pasar Kumbasari, Denpasar, sebagai petugas pemungut cingkreman (iuran).

Selain itu, ia juga mengelola simpan pinjam uang di kawasan Pasar Kumbasari dan Pasar Badung.

Pada Rabu, 24 September 2025, aktivitasnya tampak berjalan seperti biasa. Ia berangkat bekerja pukul 15.00 WITA, kemudian pulang sekitar pukul 20.00 WITA.

Usai makan malam, korban sempat keluar rumah lagi sekitar pukul 21.00 WITA dengan alasan ingin melali (bermain). Ia masih sempat kembali ke rumah, namun sekitar pukul 01.00 dini hari, ia keluar lagi.

Itulah terakhir kalinya sang ibu, Darmini, melihat putranya hidup. Sejak saat itu, ia tidak pernah kembali.

Sang ibu mengaku sempat merasa tidak tenang ketika anaknya keluar rumah di dini hari. Namun ia tak menyangka perasaan gelisah itu menjadi pertanda buruk yang kemudian benar-benar terjadi.

Keterangan Polisi

Pihak kepolisian melalui Kanit Reskrim Polsek Petang, Iptu Agung, menyampaikan bahwa dari hasil penyelidikan awal, dugaan kuat korban mengalami tekanan terkait masalah pacingkreman dan simpan pinjam uang yang ia kelola.

Menurut keterangan sementara, banyak pihak yang merasa dirugikan atas pengelolaan tersebut, sehingga beban mental korban semakin berat.

β€œBenar, dinda. Ulah pati (peristiwa meninggal) ini sudah kami temukan. Ada masalah pacingkreman dan simpan pinjam uang di Pasar Kumbasari dan Pasar Badung yang diduga menjadi pemicu tekanan bagi korban,” ujarnya.

Sorotan Sosial dan Kesehatan Mental

Peristiwa ini tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga menyisakan tanda tanya dan keprihatinan mendalam bagi masyarakat.

IGPM adalah seorang anak muda dengan usia produktif, 26 tahun, yang masih memiliki kesempatan panjang untuk berkontribusi membangun tanah kelahirannya, Pulau Bali.

Namun jalan pintas dengan mengakhiri hidup seakan menjadi solusi cepat bagi korban. Padahal, masalah tidak akan pernah selesai dengan mengakhiri hidup.

Yang tersisa hanyalah luka, duka, dan beban emosional bagi keluarga serta orang-orang terdekat.

Kejadian ini menegaskan kembali pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental generasi muda.

Banyak anak muda menghadapi tekanan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Ketika tidak memiliki ruang aman untuk bercerita atau akses bantuan psikologis, sebagian memilih jalan yang fatal.

Baca juga:
πŸ”— Fatherless: Luka Sunyi yang Tak Selalu Tampak

Peran Keluarga dan Stakeholder

Keluarga menjadi garda terdepan dalam mendeteksi tanda-tanda tekanan mental. Namun, sering kali anak muda memilih diam karena merasa takut, malu, atau tidak ingin membebani orang tua.

Di sinilah peran stakeholder baik pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, maupun komunitas lokal menjadi sangat penting.

Dibutuhkan lebih banyak ruang konseling, pendampingan, dan kampanye edukasi agar generasi muda memahami bahwa mencari bantuan bukanlah kelemahan, melainkan keberanian.

Selain itu, komunitas adat dan keagamaan di Bali juga dapat berperan dengan memberi dukungan moral, membuka ruang diskusi, serta menguatkan nilai-nilai kebersamaan agar anak-anak muda tidak merasa sendirian menghadapi masalah hidup.

Baca juga:
πŸ”— Dari Anak hingga Sesepuh: Pendidikan Spiritual dalam Kehidupan Orang Bali – Ajaran yang Mengalir dalam Aksi

Pelajaran Berharga

Tragedi di Tukad Bangkung seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Bahwa di balik senyum dan aktivitas sehari-hari seorang anak muda, bisa jadi tersimpan beban berat yang tak terlihat.

Menyelesaikan masalah memang tidak pernah mudah, namun ada jalan lain selain mengakhiri hidup.

Bercerita kepada orang terdekat, mencari konseling, atau meminta bantuan profesional adalah langkah bijak yang jauh lebih baik.

Semoga kepergian IGPM menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya menjaga kesehatan mental, saling peduli, dan lebih peka terhadap kondisi orang-orang di sekitar. Karena setiap kehidupan adalah berharga, dan setiap masalah selalu ada jalan keluarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *