BALI — KUTA SELATAN — Pesatnya perkembangan pembangunan di Pulau Bali dalam beberapa tahun terakhir turut membuka peluang kerja bagi para pekerja konstruksi.
Berbagai bangunan baru bermunculan, mulai dari villa, restoran, hingga perumahan. Kondisi ini terlihat di sejumlah kawasan Kuta Selatan yang terus mengalami perkembangan pembangunan.
Di balik berdirinya berbagai bangunan tersebut, ada tenaga para pekerja konstruksi yang ikut mengambil bagian.
Salah satunya adalah Jhony, seorang tukang bangunan asal Bandung yang memilih bertahan di Bali setelah menyelesaikan proyek pertamanya.
Jhony bercerita, awal kedatangannya ke Bali bukan atas inisiatif pribadi untuk mencari pekerjaan.
Ia diberangkatkan langsung dari Bandung oleh pimpinan proyek bersama dua orang kenek atau pekerja pembantu.
Proyek pertamanya berupa pekerjaan pengecoran awal dan pembangunan tembok keliling di atas lahan kosong.
Setelah kurang lebih dua minggu pengerjaan, proyek tersebut selesai dan ia menerima bayaran sekitar Rp20 juta bersama timnya.
Alih-alih langsung kembali ke Bandung, Jhony melihat adanya peluang pekerjaan lain di Bali. Ia kemudian memutuskan memperpanjang masa tinggal dengan tetap menyewa kamar kost seharga Rp1,5 juta per bulan.
Keputusan tersebut ternyata membuka jalan baru. Setelah proyek pertama selesai, ia mulai mendapatkan tawaran pekerjaan lain, baik dengan sistem borongan maupun harian.
Baca juga:
🔗 Villa di Bali Jadi Pilihan Akomodasi dan Investasi Properti, Unit di Gianyar Ditawarkan Rp4,5 Miliar
Dalam menjalankan pekerjaannya, Jhony menawarkan jasa tenaga tukang dengan membawa dua orang kenek.
Untuk sistem harian, ia mematok harga sekitar Rp550 ribu per hari untuk satu tim yang terdiri dari dirinya sebagai tukang dan dua orang pekerja pembantu.
Salah satu pekerjaan yang kini ditanganinya adalah proyek perbaikan rumah milik Dewi di kawasan Ungasan, Kuta Selatan.
Dewi memilih menggunakan sistem pembayaran harian untuk menyelesaikan persoalan kebocoran pada bagian rooftop rumahnya.
Sebelumnya, pekerjaan perbaikan dengan sistem borongan pernah dilakukan, tetapi masalah kebocoran belum juga terselesaikan.
Pengalaman tersebut membuat Dewi memilih sistem harian agar proses pengerjaan dapat dipantau secara bertahap dan solusi perbaikan bisa disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Jhony pun menyepakati sistem kerja tersebut. Keduanya sepakat menjalankan pekerjaan berdasarkan hitungan harian hingga persoalan kebocoran rumah dapat ditangani.
Kisah Jhony menjadi salah satu gambaran bagaimana perkembangan pembangunan di Bali turut membuka kesempatan bagi pekerja dari luar daerah.
Meningkatnya pembangunan villa, restoran, dan rumah tinggal membuat kebutuhan terhadap tenaga tukang bangunan semakin terasa, khususnya di kawasan Kuta Selatan.
Bagi sebagian pekerja, Bali bukan hanya menjadi tempat singgah untuk menyelesaikan sebuah proyek, tetapi juga membuka peluang untuk mendapatkan pekerjaan secara berkelanjutan.
Di sisi lain, kebutuhan masyarakat terhadap jasa tukang yang memiliki pengalaman dan mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik juga semakin penting.
Terlebih, pekerjaan renovasi dan perbaikan rumah membutuhkan ketelitian serta pemahaman terhadap persoalan bangunan.
Di tengah pesatnya perubahan wajah Bali, ada banyak cerita pekerja yang ikut bergerak mengikuti perkembangan tersebut.
Salah satunya Jhony, yang awalnya datang untuk menyelesaikan satu proyek selama dua minggu, tetapi akhirnya memilih menetap lebih lama karena melihat peluang pekerjaan yang terus terbuka.