Hamparan sawah hijau, jalan-jalan kecil yang tenang, suasana pedesaan, hingga kehidupan spiritual menjadikan Ubud sebagai salah satu kawasan yang menarik perhatian wisatawan dari berbagai belahan dunia.
Ubud bukan sekadar destinasi untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga tempat bagi banyak orang untuk mencari ketenangan, mengenal diri sendiri, dan menemukan perspektif baru tentang kehidupan.
Daya tarik itu semakin dikenal dunia melalui film Eat Pray Love, yang dibintangi Julia Roberts. Film yang diadaptasi dari kisah perjalanan Elizabeth Gilbert tersebut mengambil salah satu latar ceritanya di Ubud, Bali.
Pencarian jati diri, perjalanan spiritual, dan pertemuan dengan orang-orang baru menjadi bagian penting dari kisahnya.
Namun, cerita tentang Ubud tidak selalu hadir melalui layar film. Terkadang, kisah yang tidak kalah menarik justru terjadi dalam kehidupan sehari-hari, melalui pertemuan sederhana antara orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal.
Salah satunya adalah pengalaman Moonstar ketika bertemu seorang perempuan asal Prancis di sebuah kedai kopi di Ubud.
Pertemuan itu terjadi sekitar dua minggu sebelumnya. Saat sedang berada di salah satu kafe milik seorang teman di Ubud, seorang perempuan asal Prancis bertanya kepada Moonstar tentang cara menyewa ojek untuk menuju kawasan Monkey Forest.
Dengan kemampuan bahasa Inggris yang sederhana, Moonstar menjawab bahwa perempuan tersebut tidak perlu membayar untuk perjalanan itu. Kebetulan, saat itu ia bersama kawannya, Thedy Tirtahadi, hendak menuju Hidden Canyon.
Moonstar kemudian menawarkan kepadanya untuk ikut bersama mereka. Tanpa banyak pertimbangan, perempuan itu menerima tawaran tersebut.
Perjalanan yang awalnya hanya tentang mencari transportasi berubah menjadi awal sebuah perkenalan.
Dalam perjalanan, obrolan sederhana mulai terbangun. Moonstar kemudian menawarkan diri untuk menemani perempuan tersebut berkeliling Ubud.
“Saya bisa menemani kamu melihat Ubud, tetapi saya bukan seorang guide. Saya hanya ingin membantu sebagai bentuk pertemanan. Siapa tahu suatu hari nanti saya bisa berkunjung ke Prancis, tentu saja kalau kamu percaya dengan si gondrong ini,” kurang lebih begitu tawaran Moonstar kepadanya.
Sebuah tawaran spontan yang tidak didasari perhitungan apa pun. Hanya keinginan untuk membantu seseorang yang sedang berada jauh dari tempat asalnya.
Baca juga:
🔗 Ubud, Bali, dan Persahabatan yang Melampaui Jarak: Sebuah Kisah tentang Kebaikan dan Perjalanan Hidup
Kesempatan itu akhirnya datang. Moonstar mengajak perempuan tersebut menjelajahi sejumlah sudut Ubud, menikmati pemandangan, sekaligus mengunjungi rumah salah seorang kawannya di kawasan Tampaksiring.
Di sana, ia mendapatkan pengalaman yang mungkin tidak ditemukan dalam perjalanan wisata biasa. Kebetulan, teman Moonstar merupakan salah satu panitia kegiatan adu ayam di Ubud.
Perempuan asal Prancis itu pun berkesempatan melihat langsung suasana sebuah lingkungan lokal yang didominasi kaum laki-laki. Bagi dirinya, pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang berbeda.
Ia tidak hanya melihat Ubud dari sisi persawahan, kafe, atau tempat wisata, tetapi juga berkesempatan menyaksikan kehidupan sosial masyarakat dari dekat.
Setelah perjalanan selesai, malam harinya mereka melanjutkan pertemuan dengan makan malam bersama.
Obrolan kembali mengalir, ditemani bir dan canda tawa. Perempuan itu mengaku sangat senang dengan pengalaman hari tersebut.
Baginya, melihat Ubud melalui perspektif yang berbeda memberikan kesan tersendiri. Moonstar kemudian bercerita bahwa dalam perjalanan hidupnya, ia juga pernah berada dalam posisi seperti perempuan tersebut, menjadi orang asing di tempat yang jauh, bertemu orang-orang baik, dan menerima pertolongan tanpa pernah memintanya.
“Saya sudah banyak mengalami hal seperti yang kamu alami. Ada orang-orang yang pernah berbuat baik kepada saya. Sekarang, saya hanya meneruskan kebaikan itu kepada orang lain, termasuk kepada kamu.”
Sederhana, tetapi itulah prinsip yang ingin ia pegang dalam perjalanan hidupnya.
Waktu berlalu hingga tiba hari ulang tahun Moonstar. Sebelum kembali ke Prancis, perempuan tersebut ingin bertemu sekali lagi. Malam itu, Moonstar bersama beberapa kawannya berkumpul dengannya di Pantai Sanur.
Suasana berlangsung santai, dipenuhi percakapan, canda, dan tawa. Sebelum berpisah, perempuan itu mengucapkan selamat ulang tahun.
Ia kemudian menyelipkan sejumlah uang Euro kepada Moonstar. Sambil memberikan uang tersebut, ia menyampaikan bahwa pemberian itu bisa membantu Moonstar bertahan hidup di Bali.
Bagi Moonstar, momen tersebut bukan semata-mata tentang nilai uang yang diterima. Ada sesuatu yang jauh lebih berarti: ketulusan dan persahabatan yang tumbuh dari sebuah pertemuan tidak terencana.
Tidak ada pembicaraan tentang untung dan rugi. Tidak ada kesepakatan tentang apa yang harus diberikan atau dikembalikan. Semuanya berjalan secara alami.
Bagi Moonstar, peristiwa itu menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak selalu harus hadir dalam bentuk besar.
Terkadang, cukup dengan mengantarkan seseorang ke tempat tujuan, menemani berjalan, memperkenalkan kehidupan lokal, atau menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita orang lain.
Hingga kini, komunikasi di antara mereka masih terjalin. Mereka tetap bertukar kabar dan berbagi cerita meskipun kini dipisahkan oleh jarak dan negara.
Kisah ini menjadi salah satu cerita kecil dari Ubud, Bali. Sebuah cerita yang mungkin tidak akan ditemukan dalam brosur wisata atau daftar destinasi populer, tetapi justru menjadi bagian dari pengalaman perjalanan yang membekas.
Ubud memang dikenal sebagai tempat orang mencari ketenangan, pengalaman spiritual, bahkan jati diri. Namun, terkadang perjalanan menemukan makna tidak harus dilakukan dengan pergi jauh atau mencari sesuatu yang luar biasa.
Bisa jadi, makna itu hadir melalui pertemuan sederhana dengan seseorang yang sebelumnya tidak kita kenal.
Bagi Moonstar, pengalaman ini kembali mengingatkan bahwa perjalanan hidup bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, foto yang dihasilkan, atau jarak yang berhasil ditempuh.
Ada manusia yang ditemui, kebaikan yang diterima, dan kesempatan untuk meneruskan kebaikan tersebut kepada orang lain.
Sebab, pada akhirnya, perjalanan bukan hanya tentang ke mana kita pergi, tetapi juga tentang apa yang kita tinggalkan dalam kehidupan orang-orang yang kita temui.