Watu Kerep, Ruang Berkumpul Seniman di Tengah Ramainya Sanur

Watu Kerep di sekitar Pantai Karang, Sanur, sebagai ruang berkumpul seniman lokal.
Watu Kerep di sekitar Pantai Karang, Sanur, Bali, menjadi ruang berkumpul seniman lokal untuk berdiskusi, bertukar gagasan, dan menikmati proses berkesenian. (Foto: Mahendra)

Sanur merupakan salah satu kawasan pariwisata Bali yang telah dikenal hingga mancanegara. Hotel, resort, restoran, hingga berbagai aktivitas komersial tumbuh di sepanjang kawasan ini.

Pantai Sanur pun menjadi salah satu ruang yang ramai dikunjungi wisatawan untuk menikmati suasana Bali.

Namun, di tengah perkembangan pariwisata tersebut, masih terdapat ruang sederhana yang menjadi tempat berkumpul para seniman lokal Desa Adat Sanur.

Lokasinya berada di sekitar Pantai Karang, Sanur, Bali. Tempat tersebut dikenal dengan nama Watu Kerep.

Dari Kelompok Nelayan Menjadi Ruang Berkesenian

Watu Kerep merupakan nama kelompok nelayan yang berada di Pantai Karang. Nama tersebut diambil dari nama ritus atau plataran karang yang berada di tengah pantai.

Seiring waktu, kawasan ini juga berkembang menjadi ruang berkumpul dan berinteraksi bagi para seniman.

Berbagai benda dan karya seni kemudian ditata di tempat tersebut, menciptakan suasana yang berbeda dari ruang publik pada umumnya.

Patung-patung yang berada di Watu Kerep sebagian merupakan patung rijek atau sisa produksi dari para pengrajin di Silakarang, Gianyar.

Patung-patung tersebut kemudian diangkut dan ditata oleh Made Sumardika, yang dikenal dengan panggilan Kotid, bersama teman-teman Watu Kerep.

Bongkahan karang laut dan bagian dari bekas perahu jukung juga dimanfaatkan untuk membentuk suasana ruang tersebut.

Hasilnya bukan sebuah galeri dengan bangunan formal, melainkan ruang terbuka yang tumbuh secara alami di tepi pantai.

Baca juga:
🔗 Perahu Tradisional Bali: Warisan Laut yang Tetap Dijaga Nelayan Lokal

Ruang Bertemu dan Bertukar Pikiran

Watu Kerep bukan sekadar tempat untuk menikmati suasana pantai. Tempat ini menjadi ruang bagi para seniman untuk berkumpul, berbincang, bertukar informasi, hingga menuangkan berbagai gagasan.

Kawasan tersebut ditata dengan berbagai kreasi. Batu-batu karang di sekitar pantai disusun dan dimanfaatkan menjadi bagian dari ruang berkesenian. Beberapa patung dan karya seni terlihat menghiasi sejumlah sudut lokasi.

Menariknya, tidak semua patung yang berada di tempat ini dibuat dalam kondisi sempurna. Ada karya yang masih dalam proses, ada pula yang memang dibiarkan dengan bentuk yang belum selesai.

Justru dari kondisi tersebut muncul cerita menarik. Salah satu patung yang dipajang dalam kondisi belum sepenuhnya selesai justru menarik perhatian seorang wisatawan.

Ia mengaku kagum melihat karya tersebut, bahkan sempat menyampaikan keinginannya untuk membeli patung itu.

Cerita tersebut kemudian menjadi bahan pembicaraan di antara para seniman yang biasa berkumpul di Watu Kerep. Bagi mereka, kejadian itu menjadi cerita menarik bahwa sebuah karya yang belum sempurna pun mampu menarik perhatian dan memiliki daya tarik tersendiri.

Sejak awal, patung-patung yang berada di tempat ini memang tidak dibuat dengan tujuan utama untuk dijual. Karya-karya tersebut lebih menjadi bagian dari ruang kreatif dan ekspresi para seniman.

Namun, ketika ada orang yang tertarik untuk membeli, tentu nilainya tidak serta-merta dianggap murah. Sebab, setiap karya memiliki cerita, proses, dan pandangan artistik dari pembuatnya.

Baca juga:
🔗 Di Balik Goresan Pahat, Ada Doa dan Ketenangan Jiwa

Kadek Armika dan Agung Oka Bertemu di Watu Kerep

Suasana berkesenian di Watu Kerep juga terlihat ketika dua seniman, Kadek Armika dan Agung Oka, bertemu dan bertukar pikiran.

Kadek Armika baru saja selesai menerbangkan sebuah layangan karya terbarunya. Karya tersebut rencananya akan dipamerkan di Ubud pada akhir Oktober 2026.

Sementara itu, Agung Oka mengabadikan aktivitas Kadek saat menerbangkan layangan tersebut.

Setelah aktivitas selesai, keduanya kemudian berbincang dan berbagi cerita mengenai dunia seni. Bagi mereka, pertemuan seperti ini menjadi bagian dari proses kreatif yang berlangsung secara alami.

Tidak selalu harus berada di dalam studio atau ruang pamer. Tepi pantai, batu karang, obrolan santai, hingga aktivitas sehari-hari bisa menjadi bagian dari proses lahirnya sebuah gagasan.

Baca juga:
🔗 Kadek Armika: Seniman Bali yang Memilih Diam, Namun Karyanya Menggema

Menjaga Ruang yang Tidak Sepenuhnya Komersial

Di tengah Sanur yang terus berkembang sebagai kawasan wisata, Watu Kerep memiliki karakter yang berbeda.

Tempat ini menjadi salah satu ruang yang berusaha dipertahankan agar tidak sepenuhnya masuk ke dalam aktivitas komersial.

Para seniman datang bukan semata-mata untuk membuka toko atau mencari pembeli, melainkan untuk menghabiskan waktu bersama, berdiskusi, berbagi pengalaman, dan menjaga hubungan antarseniman.

Dari tempat sederhana di sekitar Pantai Karang inilah berbagai gagasan dapat muncul. Watu Kerep mungkin tidak menawarkan kemewahan seperti hotel dan resort yang memenuhi kawasan Sanur. Namun bagi para seniman yang berkumpul di dalamnya, tempat ini memiliki nilai yang berbeda.

Ia adalah ruang untuk tetap berkarya, bertukar pikiran, berbagi informasi, sekaligus menjaga kehidupan seni di tengah perkembangan pariwisata.

Di saat banyak ruang di Sanur terus berubah mengikuti kebutuhan industri pariwisata, Watu Kerep menjadi pengingat bahwa sebuah kawasan wisata juga membutuhkan ruang bagi manusia, seni, gagasan, dan pertemuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *