Tahun 2022 menjadi titik balik dalam hidup Wayan Mimba. Ketika kawasan Pantai Cemara, Sanur, direnovasi dan akses jalan ke pantai mulai dibuka untuk umum, ia melihat peluang di tengah kesulitan.
Saat itu, ia baru saja terkena PHK dari salah satu hotel besar tempatnya bekerja sebagai chef.
Di saat banyak orang bingung melangkah, Wayan justru memberanikan diri memulai usaha mandiri dengan modal yang sangat sederhana, empat sepeda milik pribadi yang ia sewakan kepada pengunjung pantai.
Siapa sangka, langkah kecil itu menjadi awal dari perjalanan besar. Dari empat unit, kini usahanya berkembang menjadi 17 sepeda, lengkap dengan tarif sewa terjangkau, Rp25.000 per jam, Rp50.000 untuk setengah hari, dan Rp75.000 untuk satu hari penuh.
Sebelum menjadi pengusaha, Wayan adalah seorang koki profesional selama lebih dari 20 tahun.
Dunia dapur adalah kehidupannya penuh kedisiplinan, presisi, dan tekanan. Namun saat PHK datang, ia sempat kehilangan arah.
Tidak punya modal besar, belum punya pengalaman bisnis. Tapi yang ia miliki adalah keberanian untuk mencoba.
“Rasa terhadap alat, kecepatan kerja, dan ketelitian sebagai koki ternyata bisa saya bawa ke usaha sepeda ini,” ujarnya.
Ia juga banyak belajar dari interaksi dengan tamu hotel, bagaimana memahami kebutuhan orang lain, dan menghadapi tekanan tanpa kehilangan senyum.
Wayan mengakui, membangun usaha dari nol bukan perkara mudah. Ia pernah mengalami hari tanpa satu pun penyewa, terutama saat musim hujan.
Pernah pula sepedanya ditinggal begitu saja oleh penyewa yang tidak konfirmasi, dalam keadaan ban kempes.
Namun semua itu tidak membuatnya mundur. Justru dari situ ia belajar tentang kesabaran, ketulusan, dan pelayanan.
Ketika ada tawaran pekerjaan kembali dari kenalan, ia menolak. Bukan karena sombong, tetapi karena hatinya sudah tertambat pada kebebasan membangun sesuatu sendiri. Demi mengembangkan usaha, ia bahkan meminjam modal dari koperasi.
Pada Maret tahun lalu, ia melebarkan sayap dengan membuka cabang baru di kawasan Pantai Mertasari bersama beberapa rekan, menambah 20 unit sepeda ke dalam armadanya.
Baca juga:
🔗 Bersepeda Santai Menikmati Pantai Sanur, Tak Perlu Bawa Sepeda Sendiri
Dulu, Wayan pernah bercita-cita menjadi teknisi atau seniman gambar teknik. Tapi orang tua mengarahkan langkahnya ke dunia pariwisata.
Ia pun mengikuti pendidikan di LPK Sanur dan langsung diterima kerja di Bali Beach Hotel sebagai koki. Dua bulan pertama sudah cukup untuk membuatnya jatuh cinta pada dunia pelayanan.
Kini, seiring usia dan pengalaman, Wayan menyadari bahwa hidup tak selalu berjalan sesuai rencana tapi justru di situlah letak keindahannya.
Ia memang harus meninggalkan banyak hobi, banyak kenyamanan. Tapi dari situ ia menemukan makna.
“Dulu saya hidup santai karena status karyawan. Sekarang, saya memang harus bekerja lebih keras. Tapi saya merasa lebih hidup. Saya menikmati setiap prosesnya,” ucapnya sambil tersenyum.
Kisah Wayan Mimba adalah kisah tentang keberanian memulai lagi dari nol. Tentang melihat peluang di balik kesulitan, dan menjadikan keterpurukan sebagai titik lompatan.
Dari dapur hotel ke jalanan Sanur, ia tidak hanya menyewakan sepeda ia mengayuh harapan dan memperlihatkan bahwa setiap orang bisa bangkit, asalkan mau percaya pada diri sendiri.