Setiap tahun, Bali memiliki dua kali perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan berdasarkan siklus kalender Pawukon yang berlangsung setiap 210 hari.
Karena itu, dalam kalender nasional, masyarakat dapat menyaksikan dua kali momen istimewa ketika Pulau Bali berubah menjadi lebih semarak, sakral, dan penuh warna.
Salah satu pemandangan yang paling khas adalah berdirinya penjor di depan rumah-rumah warga, pura, kantor, hingga berbagai sudut jalan.
Penjor yang menjulang tinggi dengan hiasan janur, hasil bumi, dan berbagai ornamen tradisional bukan hanya menjadi simbol religius, tetapi juga memperindah lanskap Bali selama beberapa minggu, mulai menjelang Galungan hingga Hari Raya Kuningan.
Baca juga:
🔗 Merayakan Galungan di Bali: Harmoni Ucapan, Tradisi, dan Hubungan yang Dijaga
Pada Rabu, 17 Juni 2026, umat Hindu di Bali akan merayakan Hari Raya Galungan, salah satu hari suci terpenting dalam ajaran Hindu.
Galungan dimaknai sebagai kemenangan Dharma atau kebenaran atas Adharma atau kejahatan.
Perayaan ini mengajak umat untuk merefleksikan nilai-nilai kebajikan, memperkuat spiritualitas, serta menjaga keseimbangan hidup.
Menurut kepercayaan masyarakat Hindu Bali, Hari Raya Galungan juga menjadi momentum ketika para leluhur turun ke dunia untuk memberikan berkah kepada keturunannya.
Karena itu, berbagai upacara dan persembahyangan dilakukan dengan penuh khidmat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Baca juga:
🔗 Hari Raya Kuningan: Cahaya Doa dan Warna Keharmonisan
Menjelang Galungan, masyarakat bergotong royong membuat penjor yang kemudian dipasang di depan rumah masing-masing.
Kehadiran ribuan penjor di sepanjang jalan menciptakan pemandangan yang sangat khas dan sulit ditemukan di tempat lain.
Bagi wisatawan maupun fotografer, masa Galungan dan Kuningan menjadi salah satu waktu terbaik untuk menikmati keindahan budaya Bali.
Deretan penjor yang melengkung anggun diterpa angin, berpadu dengan aktivitas keagamaan masyarakat, menghadirkan suasana yang sarat nilai spiritual sekaligus memiliki daya tarik visual yang luar biasa.
Baca juga:
🔗 Penjor: Simbol Syukur dan Keseimbangan Alam
Sepuluh hari setelah Hari Raya Galungan, umat Hindu akan merayakan Hari Raya Kuningan yang pada tahun 2026 jatuh pada Sabtu, 27 Juni.
Hari Raya Kuningan menjadi puncak sekaligus penutup rangkaian perayaan Galungan, yang diyakini sebagai saat para leluhur kembali ke alam spiritual setelah berkunjung dan memberikan berkah kepada keturunannya di dunia.
Pada Hari Raya Galungan dan Kuningan, umat Hindu kembali melaksanakan persembahyangan serta menghaturkan berbagai sesajen sebagai wujud rasa syukur atas berkah, perlindungan, dan tuntunan yang telah diberikan dalam menjalani kehidupan.
Momen ini juga menjadi sarana untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Hyang Widhi Wasa serta menghormati jasa para leluhur.
Ketika ribuan penjor berdiri berjajar menghiasi jalan-jalan di Bali, yang terlihat bukan hanya keindahan visual semata, melainkan juga bukti bahwa tradisi, keyakinan, dan nilai-nilai luhur masih hidup di tengah masyarakat.
Galungan dan Kuningan menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak sekadar untuk dikenang, tetapi juga dijaga, dirawat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di tengah dunia yang terus berubah, Bali menunjukkan bahwa kemajuan dapat berjalan berdampingan dengan tradisi.
Selama masyarakat masih memegang teguh nilai Dharma dan menjaga budaya leluhurnya, Galungan dan Kuningan akan terus menjadi identitas yang memperkuat karakter Pulau Dewata serta menginspirasi siapa pun.