Pariwisata Bali Meningkat, Alih Fungsi Lahan Jadi Alarm Serius

Bangunan di kawasan Uluwatu, Kuta Selatan, Bali, terlihat dari ketinggian di tengah pesatnya pembangunan.
Salah satu bangunan terlihat dari ketinggian di kawasan Uluwatu, Kuta Selatan, Bali, yang menunjukkan masifnya pembangunan di wilayah tersebut. (Foto: Amatjaya)

Bali masih menjadi magnet utama pariwisata Indonesia. Pada tahun 2025, jumlah kunjungan wisatawan ke Pulau Dewata tercatat mencapai sekitar 7 juta orang.

Angka ini menandai kebangkitan sektor pariwisata sekaligus menegaskan posisi Bali sebagai destinasi kelas dunia.

Namun, di balik geliat ekonomi dan ramainya wisatawan, terdapat persoalan mendasar yang kini semakin sulit diabaikan, tekanan pembangunan terhadap ruang hidup dan lingkungan.

Peningkatan jumlah wisatawan secara langsung mendorong kebutuhan akomodasi, infrastruktur, dan fasilitas pendukung pariwisata.

Sayangnya, tidak semua pembangunan berjalan selaras dengan daya dukung lingkungan. Sejumlah kawasan yang sebelumnya tenang, hijau, dan berfungsi sebagai ruang resapan air kini perlahan berubah wajah.

Baca juga:
🔗 Alih Fungsi Lahan di Bali Kian Mengkhawatirkan, Pemerintah Daerah Diminta Bertindak Tegas

Pembangunan Masif di Kuta Selatan dan Wajah Baru Kawasan Sepi

Salah satu potret perubahan tersebut terlihat di Kuta Selatan, Bali. Dalam perjalanan menuju kawasan Uluwatu, terutama ketika menyusuri gang-gang kecil dengan akses terbatas, muncul pemandangan yang memantik tanda tanya.

Area yang sebelumnya sepi dan relatif sulit dijangkau kini dipenuhi bangunan-bangunan baru, terutama vila dengan ukuran besar dan desain modern.

Keberadaan vila-vila ini kerap berdiri di lokasi yang jauh dari pusat keramaian, bahkan di kawasan yang infrastruktur jalannya belum sepenuhnya memadai.

Perubahan ini tidak hanya mengubah lanskap visual, tetapi juga memunculkan kekhawatiran terkait tata ruang dan ketersediaan air, serta dampak jangka panjang bagi lingkungan sekitar dan masyarakat lokal.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pembangunan tidak lagi terkonsentrasi di kawasan pariwisata lama, melainkan merambah ke wilayah-wilayah yang sebelumnya relatif alami.

Jika tidak dikendalikan, ekspansi ini berpotensi menghilangkan ruang hijau dan memperbesar risiko bencana ekologis.

Baca juga:
🔗 Bali: Destinasi Wisata Dunia, Diuji oleh Realita Kota

Penyusutan Sawah dan Hutan, Dampak Nyata Alih Fungsi Lahan

Kekhawatiran ini diperkuat oleh pernyataan Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, yang pada September 2025 menyebut bahwa alih fungsi lahan yang masif memberi andil besar terhadap terjadinya banjir di Bali.

Menurutnya, berkurangnya kawasan resapan air akibat konversi lahan menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi.

Data dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Provinsi Bali mencatat, dalam enam tahun terakhir, Bali telah kehilangan 6.521 hektar lahan persawahan.

Tidak hanya itu, konversi lahan hutan menjadi kawasan nonhutan juga mencapai 459 hektar. Angka ini menunjukkan laju perubahan yang signifikan dan patut menjadi alarm bersama.

Hilangnya sawah bukan sekadar kehilangan bentang alam, tetapi juga hilangnya sistem subak yang selama ratusan tahun menjadi penopang kehidupan, budaya, dan kearifan lokal masyarakat Bali.

Begitu pula dengan hutan yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan siklus air.

Baca juga:
🔗 Menjaga Warisan Hijau Bali

Harapan pada Kebijakan Berkelanjutan dan Keberpihakan Lokal

Situasi ini menjadi perhatian banyak pihak, termasuk pelaku industri pariwisata. Sejumlah pelaku usaha berharap agar kebijakan pengendalian alih fungsi lahan tidak berhenti pada regulasi di atas kertas, tetapi benar-benar ditegakkan secara konsisten dan berkeadilan.

Mereka menilai bahwa masa depan pariwisata Bali tidak bisa hanya diukur dari jumlah kunjungan wisatawan atau pertumbuhan investasi.

Pariwisata Bali harus kembali berpijak pada prinsip keberlanjutan, perlindungan alam, serta keberpihakan kepada masyarakat lokal.

Tanpa itu, Bali berisiko kehilangan identitasnya sebagai pulau yang menjunjung harmoni antara manusia, alam, dan budaya.

Bali selama ini dikenal bukan hanya karena keindahan pantainya, tetapi juga karena keseimbangan hidup yang terjaga.

Jika pembangunan terus melaju tanpa kendali yang jelas, keseimbangan tersebut bisa runtuh perlahan.

Pariwisata yang berkelanjutan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan agar Bali tetap lestari dan bermakna bagi generasi mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *