BALI — Belasan tahun lalu, ketika gempa mengguncang Aceh, saya mendapat tugas untuk melakukan peliputan ke lokasi.
Di tengah perjalanan menuju daerah terdampak, saya tidak menyangka akan berada dalam satu pesawat dengan salah seorang senior di dunia jurnalistik yang kelak memiliki perjalanan panjang di media online Indonesia.
Ia adalah Arie Basuki, yang lebih akrab disapa Arbas Barong. Kala itu, Merdeka.com baru berdiri dan Arbas menjadi salah satu redakturnya.
Bagi saya yang masih berada dalam perjalanan panjang sebagai fotografer jurnalistik, bertemu dengan senior seperti Arbas menjadi pengalaman tersendiri.
Sesampainya di lokasi, dampak gempa yang kami temui ternyata tidak terlalu besar. Tidak banyak gambar dramatis yang bisa direkam. Foto peristiwa pun terasa biasa saja.
Dalam situasi seperti itu, seorang fotografer dituntut untuk tidak berhenti pada apa yang tampak di permukaan. Cerita bisa ditemukan dari sisi lain.
Arbas kemudian memberikan beberapa arahan. Ia menyarankan saya mencari foto feature, termasuk mengabadikan proses pembuatan rencong dan aktivitas warga dalam mengolah kopi.
Sederhana, tetapi bagi saya itu sebuah pelajaran. Sebuah peristiwa tidak selalu harus dilihat dari kehancurannya.
Di tengah bencana, kehidupan tetap berjalan. Ada tradisi, pekerjaan, manusia, dan cerita-cerita kecil yang tetap layak untuk direkam.
Baca juga:
🔗 Melampaui Lensa – Perjalanan dan Perenungan Seorang Hotli
Malam harinya, kami sempat berbincang santai di sebuah warung cane sambil menikmati teh tarik.
Saat itu Arbas membawa kamera Nikon D4. Saya sempat mengatakan bahwa kamera tersebut bagus. Di luar dugaan, ia kemudian menyerahkan kamera itu kepada saya.
“Coba saja,” katanya.
Sebuah kalimat sederhana, tetapi saya masih mengingatnya sampai sekarang. Malam itu kami berbicara banyak tentang dunia foto jurnalistik.
Arbas bercerita tentang perjalanan, pengalaman, serta berbagai peristiwa yang pernah ia liput. Dari percakapan tersebut saya melihat bahwa foto jurnalistik bukan sekadar tentang kamera, lensa, atau kemampuan teknis.
Ada keberanian untuk datang ke tempat yang tidak semua orang berani datangi. Ada kepekaan membaca situasi dan kemampuan melihat cerita ketika orang lain mungkin hanya melihat sebuah peristiwa.
Pertemuan itu kemudian menjadi salah satu potongan kecil dalam perjalanan panjang saya sebagai fotografer.
Bertahun-tahun kemudian, kami kembali dipertemukan di Bali ketika Gunung Agung mengalami erupsi.
Arbas bersama beberapa fotografer jurnalistik lainnya datang dari Jakarta. Mereka bahkan menempuh perjalanan darat dengan mobil menuju Bali demi melakukan peliputan.
Di tengah situasi erupsi, kami kembali sempat berbincang. Pernah pula Arbas mampir ke rumah. Percakapan kembali berlangsung hingga malam.
Seperti pertemuan sebelumnya, ia banyak bercerita tentang pengalaman hidup dan perjalanan panjangnya di dunia foto jurnalistik.
Saya kemudian menyadari bahwa ada orang-orang tertentu yang memang seolah tidak bisa jauh dari peristiwa. Ketika terjadi sesuatu yang besar, mereka datang untuk melihat, merekam, dan menjadi saksi. Arbas adalah salah satunya.
Baca juga:
🔗 Delapan Tahun Erupsi Gunung Agung: Ketika Bali Menghadapi Peristiwa Alam yang Menggetarkan Dunia
Indonesia bukan negeri yang asing dengan bencana alam. Gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, tanah longsor, dan banjir telah menjadi bagian dari perjalanan bangsa ini.
Setiap kali bencana terjadi, selalu ada banyak orang yang datang dengan tugas masing-masing. Di antara mereka ada para jurnalis.
Mereka datang membawa kamera, buku catatan, alat perekam, dan tanggung jawab untuk menyampaikan apa yang terjadi kepada masyarakat.
Namun di balik sebuah foto yang kemudian terpampang di halaman media, sering kali ada risiko yang tidak terlihat.
Fotografer jurnalistik harus berada cukup dekat untuk mendapatkan gambar, tetapi sekaligus harus memahami kapan harus mengambil jarak.
Pengalaman sangat penting. Kemampuan membaca situasi juga penting. Persiapan dan keberuntungan pun terkadang ikut menentukan seseorang dapat kembali dengan selamat. Pada akhirnya, semua itu tetap memiliki batas.
Kabar beberapa hari terakhir mengenai lima jurnalis yang dilaporkan hilang dalam peristiwa erupsi Anak Krakatau kembali membawa ingatan saya kepada Arbas. Namanya menjadi salah satu yang disebut dalam peristiwa tersebut.
Saya teringat pada perjalanan kami di Aceh. Warung cane. Teh tarik. Kamera Nikon D4 yang pernah ia serahkan begitu saja kepada saya untuk dicoba.
Percakapan tentang dunia foto jurnalistik. Kemudian pertemuan kembali di Bali saat Gunung Agung erupsi. Semua itu kini terasa memiliki makna yang berbeda.
Profesi jurnalistik sering kali disebut sebagai panggilan. Ada rasa tanggung jawab yang membuat seseorang tetap berangkat ketika orang lain memilih menjauh. Tetapi seorang jurnalis tetaplah manusia.
Sebagus apa pun kemampuan, sepanjang apa pun pengalaman, dan sebesar apa pun keberanian, kita tetap memiliki keterbatasan di hadapan alam.
Mungkin itulah salah satu pelajaran terbesar dari setiap perjalanan di lapangan. Kita boleh memiliki skill.
Kita harus memiliki pengalaman. Kita wajib mempersiapkan diri sebaik mungkin. Tetapi kita juga harus memahami bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Alam memiliki kekuatannya sendiri.
Karena itu, di balik setiap foto jurnalistik yang dihasilkan dari sebuah bencana, ada cerita tentang manusia yang berada di belakang kamera. Mereka bukan hanya pemburu gambar. Mereka adalah saksi yang berusaha membawa sebuah peristiwa kepada masyarakat.
Dan ketika sebuah peristiwa membawa risiko terhadap nyawa, kita kembali diingatkan bahwa tidak ada satu pun gambar yang lebih berharga daripada kehidupan manusia. Semoga alam semesta memberikan jawaban terbaik atas peristiwa ini.
Semoga pula perjalanan panjang para jurnalis yang bekerja di lapangan menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya, bahwa keberanian harus berjalan bersama pengetahuan, pengalaman, kewaspadaan, dan kesadaran bahwa manusia tetap memiliki batas.
Sebab pada akhirnya, kita semua hanya bagian kecil dari perjalanan besar alam semesta. Kita datang untuk menjadi saksi.
Dan ketika waktunya tiba, kita juga harus belajar menerima bahwa tidak semua hal berada dalam kendali kita.