KUTUH – Dedikasi bukan sekadar kata, melainkan tindakan yang konsisten dan tulus. Nilai inilah yang dipegang teguh oleh Serka Dominggus Mai Sila, Babinsa (Bintara Pembina Desa) di Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung.
Lebih dari satu dekade ia mengabdi, membangun kepercayaan, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat desa binaannya.
Sebagai keturunan Timor Leste, perjalanan Serka Dominggus untuk diterima sepenuhnya oleh warga bukanlah proses yang instan.
Dibutuhkan waktu, ketekunan, dan pendekatan yang humanis hingga akhirnya ia mampu melebur menjadi bagian dari keluarga besar Desa Kutuh.
Kepercayaan yang ia raih lahir dari konsistensi, kehadiran nyata di tengah masyarakat, serta komitmen menjaga keamanan dan keharmonisan wilayah.
Dalam rangka kegiatan rutin pendataan dan pembinaan masyarakat, Serka Dominggus Mai Sila melaksanakan inspeksi mendadak (sidak) penduduk pendatang (duktang) di Banjar Petangan, Desa Kutuh, Senin (02/03/2026).
Kegiatan ini difokuskan pada wilayah kontrakan yang banyak dihuni pendatang dari luar Provinsi Bali.
Pendataan dilakukan menggunakan aplikasi Sigap (Sistem Informasi Tanggap Penduduk Pendatang) sebagai sarana terpadu untuk membangun basis data yang akurat dan komprehensif.
Sidak ini dilaksanakan bersama unsur terkait, seperti Bhabinkamtibmas, Satpol PP, dan Linmas, guna memastikan proses berjalan tertib dan efektif.
Tujuan utama kegiatan ini adalah menciptakan ketertiban administrasi sekaligus menyusun basis data menyeluruh mengenai profil penduduk, baik warga tetap maupun pendatang.
Data yang dihimpun meliputi identitas pribadi, kondisi sosial, ekonomi, hingga tingkat kesejahteraan.
Basis data tersebut diharapkan menjadi acuan dalam perencanaan program perlindungan sosial dan pemberdayaan masyarakat sesuai kebutuhan daerah.
Baca juga:
🔗 Harmoni Sosial di Bali: Peran Banjar dan Desa Adat sebagai Penjaga Keseimbangan Kehidupan
Menjelang Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri, Babinsa Desa Kutuh juga memberikan himbauan khusus kepada warga pendatang agar senantiasa menjaga ketertiban dan menghormati nilai-nilai budaya setempat.
Ia menegaskan pentingnya:
Selain itu, setiap rumah diwajibkan memiliki dua tempat sampah, yakni organik dan non-organik, sebagai bentuk dukungan terhadap program pengelolaan lingkungan.
Di musim hujan seperti saat ini, ia juga mengingatkan warga agar tidak membuang sampah sembarangan demi mencegah genangan air dan potensi penyebaran penyakit, serta aktif berkoordinasi dengan pengelola TPS3R setempat.
Baca juga:
🔗 Dari Tumbler ke Regulasi: Langkah Nyata Menuju Bali Bersih Sampah
Kisah Serka Dominggus Mai Sila menjadi bukti bahwa kepemimpinan sejati dibangun dari kepercayaan, bukan semata jabatan.
Dari seorang prajurit yang sempat diragukan, ia menjelma menjadi Babinsa yang dipercaya dan dipertahankan lebih dari satu dekade di Desa Kutuh.
Di tengah pengabdiannya, ia juga menuntaskan pendidikan hingga meraih gelar Sarjana Hukum, sekaligus dipercaya memegang peran dalam kepemimpinan adat. Semua diraih melalui kerja keras, ketulusan, dan komitmen tanpa pamrih.
Dedikasinya menunjukkan bahwa merangkul masyarakat dengan hati akan membuka jalan menuju keberhasilan yang lebih bermakna, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi bagi komunitas yang dilayani.