BALI – Ada momen yang tidak dapat diukur hanya dengan hitungan waktu. Sebab, di balik perjalanan karier yang panjang, terdapat kenangan, nilai-nilai pengabdian, dan ikatan emosional yang tetap hidup.
Itulah yang tergambar dalam acara pisah sambut Komandan Satuan Brimob Polda Bali di Lapangan Mako Brimob Polda Bali, Jumat (31/7/2026).
Di hadapan ratusan personel Brimob, Brigadir Jenderal Polisi Mulyadi, S.I.K., M.H., kembali menyanyikan lagu yang pernah ia bawakan 17 tahun lalu. Lagu yang sama, di lapangan yang sama, namun dengan posisi dan tanggung jawab yang telah jauh berbeda.
Dulu ia berdiri sebagai Wakil Komandan Satuan (Wadansat) Brimob Polda Bali. Kini, ia hadir sebagai Komandan Pasukan (Danpas) Gegana Korps Brimob Polri, seorang perwira tinggi yang memimpin salah satu unsur elite Korps Brimob.
Meski perjalanan karier telah membawanya ke tingkat yang lebih tinggi, semangat yang terpancar dari dirinya tetap tidak berubah.
Baca juga:
🔗 Kombes Pol. Rachmat Hendrawan: Menjaga Marwah Bhayangkara dalam Setiap Langkah
Bagi seorang prajurit, markas bukan sekadar tempat berdinas. Di sanalah lahir kebersamaan, loyalitas, serta berbagai pengalaman yang membentuk karakter seorang pemimpin.
Mako Brimob Polda Bali menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan panjang Brigjen Pol. Mulyadi.
Ketika kembali menginjakkan kaki di lapangan tersebut, kenangan selama bertugas seolah hadir kembali.
Lagu yang pernah dinyanyikannya belasan tahun silam menjadi simbol bahwa nilai-nilai yang ditanamkan di Korps Brimob tetap melekat dalam dirinya.
Momen itu bukan sekadar nostalgia. Kehadirannya menjadi bukti bahwa seorang pemimpin tidak pernah melupakan tempat yang pernah menempa dirinya. Pengalaman di masa lalu justru menjadi fondasi dalam memimpin di tingkat yang lebih tinggi.
Saat alunan lagu mulai terdengar, suasana lapangan berubah menjadi penuh kehangatan. Ratusan personel Brimob mengikuti setiap bait dengan antusias.
Tepuk tangan bergemuruh mengiringi penampilan Brigjen Pol. Mulyadi, menciptakan suasana yang penuh rasa hormat sekaligus kekeluargaan.
Tidak sedikit personel senior yang mengenang momen serupa saat beliau masih menjabat sebagai Wadansat Brimob Polda Bali.
Sementara bagi anggota yang lebih muda, penampilan tersebut menjadi pelajaran bahwa kesederhanaan seorang pemimpin mampu menghadirkan kedekatan dengan anggotanya.
Lagu itu tidak hanya menjadi hiburan dalam rangkaian acara pisah sambut, tetapi juga menjadi simbol persatuan. Di tengah perbedaan generasi, pangkat, dan jabatan, seluruh personel larut dalam semangat yang sama sebagai keluarga besar Korps Brimob.
Baca juga:
🔗 Ulang Tahun Brimob ke-80: Momen Kebersamaan, Rekonsiliasi, dan Refleksi di Mako Brimob Polda Bali
Perjalanan karier Brigjen Pol. Mulyadi menunjukkan bahwa setiap jenjang kepemimpinan merupakan hasil dari proses panjang yang dijalani dengan dedikasi dan pengabdian.
Dari seorang perwira menengah di Brimob Bali hingga dipercaya menjadi Danpas Gegana Korps Brimob Polri, setiap amanah membawa tanggung jawab yang semakin besar.
Namun, di balik perubahan pangkat dan jabatan, ada satu hal yang tidak berubah, yaitu semangat untuk tetap dekat dengan prajurit.
Kesediaannya kembali berdiri di lapangan yang sama dan menyanyikan lagu yang sama menjadi pesan sederhana bahwa seorang pemimpin sejati tidak pernah melupakan akar pengabdiannya.
Momen tersebut menjadi salah satu bagian paling berkesan dalam acara pisah sambut Dansat Brimob Polda Bali.
Lebih dari sekadar penampilan sebuah lagu, peristiwa itu menghadirkan pesan tentang loyalitas, konsistensi, dan penghormatan terhadap perjalanan panjang yang telah membentuk seorang pemimpin.
Sebab, waktu memang mengubah jabatan dan pangkat, tetapi semangat pengabdian kepada Korps Brimob akan selalu hidup dalam setiap langkah para bhayangkara terbaiknya.