Denpasar – Komandan Kodim (Dandim) 1611/Badung, Kolonel Inf Putu Tangkas, yang diwakili oleh Danramil 1611-07/Denpasar Barat, menghadiri kegiatan Dharma Shanti Kota Denpasar dalam rangka memperingati Hari Raya Nyepi, Minggu (29/3/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Vasudhaiva Kutumbakam, Nusantara Harmoni, Indonesia Maju, Semangat Menyama Braya” ini berlangsung di Lapangan Puputan I Gusti Ngurah Made Agung, Denpasar.
Acara berjalan khidmat dan penuh nuansa kebersamaan, dihadiri oleh unsur pemerintah, TNI, tokoh masyarakat, serta masyarakat luas.
Baca juga:
🔗 Porsenijar Kota Denpasar 2026 Resmi Dibuka, 38 Cabang Olahraga Digelar hingga 2 April
Dharma Shanti merupakan tradisi penting dalam rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu.
Lebih dari sekadar seremonial, kegiatan ini menjadi ruang untuk saling memaafkan, mempererat hubungan antarsesama, serta membangun kembali harmoni sosial setelah menjalani Catur Brata Penyepian.
Di Kota Denpasar yang dikenal sebagai wilayah dengan tingkat keberagaman tinggi, Dharma Shanti memiliki makna yang semakin relevan.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang dapat menyatukan masyarakat dalam semangat kebersamaan.
Melalui momentum ini, nilai-nilai luhur seperti toleransi, saling menghormati, dan gotong royong terus dipupuk, sehingga tercipta kehidupan sosial yang rukun dan harmonis di tengah dinamika perkotaan.
Baca juga:
🔗 Bali dan Nafas Gotong Royong yang Tak Pernah Padam
Dalam kegiatan tersebut, kehadiran perwakilan TNI menunjukkan komitmen institusi dalam mendukung pemerintah daerah menjaga stabilitas keamanan dan keharmonisan masyarakat.
Sinergi antara TNI, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan yang kondusif.
Danramil 1611-07/Denpasar Barat menegaskan bahwa nilai menyama braya yang berarti memandang sesama sebagai saudara, harus terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui kegiatan Dharma Shanti ini, kita diharapkan dapat terus menjaga persatuan dan kesatuan, serta memperkuat nilai-nilai menyama braya dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.
Kehadiran aparat tidak hanya sebatas simbolis, tetapi juga sebagai bentuk nyata keterlibatan dalam menjaga keharmonisan sosial serta memperkuat rasa aman di tengah masyarakat.
Baca juga:
🔗 Babinsa Desa Kutuh: Dedikasi Tanpa Henti untuk Keamanan dan Keharmonisan
Semangat menyama braya yang digaungkan dalam kegiatan ini menjadi fondasi penting dalam mendukung pembangunan daerah.
Dalam konteks kehidupan modern, nilai ini tidak hanya relevan secara budaya, tetapi juga menjadi landasan dalam menciptakan stabilitas sosial yang berkelanjutan.
Dengan terjalinnya kebersamaan yang kuat, masyarakat diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan, baik sosial, ekonomi, maupun budaya, dengan semangat persatuan.
Kerukunan yang terjaga akan membuka ruang bagi terciptanya pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Ke depan, seluruh elemen masyarakat diharapkan terus menjaga keharmonisan, menghormati perbedaan, serta aktif berkontribusi dalam menciptakan suasana yang aman dan damai di Kota Denpasar.
Semangat kebersamaan yang tumbuh dari kegiatan Dharma Shanti ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai seremoni, tetapi menjadi nilai hidup yang terus mengakar, menguatkan persaudaraan, dan membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih maju dan harmonis.