Tiba di Manado pada Selasa malam, saya hanya bermodalkan satu rekomendasi dari seorang teman di Ternate.
Ia menyarankan saya menghubungi Edwin, Ketua Mapala Artsas Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. Karena Edwin tidak memiliki media sosial, satu-satunya cara adalah menghubunginya melalui telepon.
Telepon pertama tidak diangkat. Saya kemudian mencoba mengirim SMS dan memperkenalkan diri. Lagi-lagi tidak ada balasan.
Dalam perjalanan seperti ini, saya sudah terbiasa dengan ketidakpastian. Akhirnya, saya memilih datang langsung ke kampus. Kebetulan saya diantar oleh seorang adik tingkat ketika masih kuliah di Bandung.
Kami tiba di lokasi sekitar pukul 23.30 WITA. Suasana kampus sudah sepi. Namun, sekretariat Mapala Artsas ternyata masih menyimpan kehidupan.
Beberapa mahasiswa terlihat duduk santai, bercanda dan tertawa. Di tempat sederhana itulah saya kemudian mencoba memperkenalkan diri dan menyampaikan niat untuk bertahan beberapa hari di Manado sebelum melanjutkan perjalanan menuju Gorontalo.
Baca juga:
🔗 Perjalanan, Pertanyaan, dan Sebuah Pesan di Bawah Bulan Purnama
Saya tidak tahu apakah mereka akan menerima kedatangan seorang pengembara yang sebelumnya tidak mereka kenal. Namun kekhawatiran itu ternyata tidak perlu ada. Mereka menerima saya dengan terbuka.
Malam itu, saya merasa tidak perlu lagi memikirkan angin dan hujan di luar. Ada tempat untuk beristirahat dan yang lebih penting, ada orang-orang baru yang bersedia membuka ruang untuk berbagi cerita.
Di atas meja makan sekretariat, beberapa piring bekas makan masih tergeletak. Sisa nasi, kuah berbumbu kuning, sendok dan gelas plastik menjadi bagian kecil dari kehidupan mahasiswa yang berlangsung apa adanya.
Meja makan itu sebenarnya bukan sekadar tempat untuk mengisi perut. Di sanalah banyak cerita mahasiswa tumbuh. Tentang tugas kuliah, dosen, organisasi, perjalanan, kegelisahan, cita-cita, hingga masa depan yang belum tentu arahnya.
Malam itu, saya pun menjadi bagian dari cerita tersebut. Obrolan dimulai dari perkenalan sederhana.
Tubuh sebenarnya sudah lelah setelah perjalanan, tetapi percakapan justru semakin panjang. Kopi sachet ditawarkan kepada saya.
“Kalau boleh memilih, kita minum Cap Tikus saja,” kata saya sambil bercanda.
Mereka pun mengiyakan. Saya menegaskan bahwa ini bukan soal pamer atau sekadar minum bersama.
Bagi saya, yang lebih penting adalah berdiskusi. Minuman hanya menjadi teman untuk membuka percakapan.
Akhirnya, pembicaraan bergeser dari hal-hal ringan menuju kehidupan. Kami membicarakan perjalanan, pengalaman masing-masing, organisasi, pilihan hidup, hingga berbagai kegelisahan yang pernah dilalui.
Tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat. Kami baru beberapa jam berkenalan, tetapi suasananya seperti sedang duduk bersama teman lama. Sampai akhirnya percakapan berakhir menjelang pukul 05.00 WITA.
Ada satu hal yang saya rasakan malam itu: cerita yang dibagikan ternyata memiliki frekuensi yang sama.
Mungkin karena pengalaman hidup yang tidak terlalu jauh berbeda, jarak usia dan latar belakang menjadi tidak terlalu berarti.
Baca juga:
🔗 19 Tahun dan Sebuah Persahabatan yang Tak Pernah Retak
Keesokan harinya, saya kembali mendapatkan kabar yang membuat saya harus berpikir cepat. Ada pekerjaan sebagai surveyor untuk kegiatan kemasyarakatan di Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), Sulawesi Utara.
Wilayah tersebut tidak terlalu jauh dari Gorontalo, tujuan perjalanan saya berikutnya. Saya sendiri tidak pernah membayangkan perjalanan mencari pekerjaan sebagai surveyor dari Morotai, Maluku Utara, justru berlanjut hingga mendekati Gorontalo.
Namun begitulah perjalanan. Kadang rencana dibuat dengan matang, tetapi jalan yang ditempuh justru membawa kita ke tempat yang tidak pernah diperkirakan.
Lumayan, pikir saya. Ada sedikit pemasukan untuk memperpanjang langkah kaki ini. Bagi seorang pengembara, uang bukan selalu tentang mengumpulkan sebanyak-banyaknya.
Terkadang, sedikit penghasilan sudah cukup untuk membeli bensin, makanan, dan memberi kesempatan untuk melanjutkan perjalanan beberapa kilometer lagi.
“Mari Jo Bagate, Abang”
Malam harinya, setelah pulang dari workshop, Edwin mengajak saya.
“Mari jo bagate, abang.”
Saya memahami ajakan itu sebagai bagian dari kebiasaan mereka. Namun malam itu tubuh saya benar-benar membutuhkan istirahat.
“Stop dulu malam ini. Saya mau tidur,” jawab saya.
Malam itu Edwin kedatangan beberapa tamu dari organisasi lingkungan lain. Mereka berdiskusi cukup serius. Karena rasa kantuk sudah tidak tertahankan, saya memilih tidur lebih dahulu.
Entah mengapa, menjelang subuh saya tiba-tiba terbangun. Saya mendengar Edwin sedang gelisah karena “kentang”,istilah bercanda ketika persediaan Cap Tikus sudah menggantung alias habis.
Saya mengatakan, “Beli jo.”
Namun saya tidak ikut minum. Saya cukup menemani dan berbincang. Edwin kemudian pergi membawa roti.
Saya makan roti yang dibelikan untuk saya, sementara Edwin bersama kawannya melanjutkan obrolan mereka.
Tidak lama kemudian, pembicaraan kembali mengarah pada kehidupan pribadi. Kali ini lebih dalam. Cerita tentang perjalanan hidup, pilihan, kesalahan, ego, kegagalan dan harapan mulai terucap.
Saya sendiri hanya membagikan sedikit pengalaman. Saya kemudian mengatakan kepada mereka, selagi masih muda, tidak perlu menunggu sampai berada di usia saya untuk memahami berbagai hal dalam kehidupan. Ambillah hikmah dari setiap pembicaraan dan pengalaman.
Ada satu nasihat dari kawan saya, Mas Indra, yang selalu saya ingat:
“Jalani ego kalian. Sampai nanti ada satu titik ketika kalian berada di puncak ego. Dari sana, kalian akan menemukan bagaimana caranya bersikap bijaksana.”
Kalimat itu mungkin sederhana, tetapi semakin bertambah usia, saya justru semakin memahami maknanya.
Terima kasih untuk Edwin dan kawan-kawan Mapala Artsas Unsrat. Saya datang sebagai orang asing. Tidak ada janji sebelumnya.
Telepon tidak diangkat, SMS tidak dibalas, tetapi ketika saya datang langsung, mereka justru membuka pintu dan memberikan ruang.
Dua hari bersama mereka kembali mengingatkan saya bahwa untuk menjadi teman baik ternyata tidak selalu membutuhkan waktu yang panjang.
Kadang kita hanya membutuhkan satu hal: berada pada frekuensi yang sama. Ketika frekuensi itu bertemu, cerita mengalir begitu saja. Tidak ada lagi sekat antara orang baru dan teman lama.
Dari sebuah perjalanan menuju Gorontalo, saya justru mendapatkan sesuatu yang tidak pernah ada dalam rencana: persahabatan.
Dan mungkin memang begitulah cara perjalanan bekerja. Kita berangkat mencari tempat baru, tetapi sering kali justru menemukan manusia-manusia baru yang menjadi bagian dari cerita hidup kita.
Terima kasih, Edwin. Terima kasih kawan-kawan Artsas. Dua hari mungkin singkat, tetapi cerita yang kita bagi bisa tinggal jauh lebih lama.