I Wayan Puspa Negara: Menggerakkan "Make Legian Great Again" dengan Tindakan Nyata

I Wayan Puspa Negara, S.P., berdiri dengan latar kawasan Legian, Bali, menggambarkan semangatnya dalam menggerakkan gerakan “Make Legian Great Again.”
Make Legian Great Again, merupakan salah satu slogan dari I Wayan Puspa Negara, S.P., yang mencerminkan semangatnya dalam membangun serta menjaga wilayah Legian Bali (Foto: Mahendra)

“Make Legian Great Again, Dari Masyarakat, Untuk Masyarakat” bukan sekadar slogan bagi I Wayan Puspa Negara, S.P., M.Si.

Sebagai Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Badung dan Ketua Aliansi Pelaku Pariwisata Marginal Bali, ia adalah pribadi yang mewujudkan komitmennya secara langsung di lapangan.

Setiap Jumat pagi, pukul 07.00 WITA, langkahnya sudah terdengar di atas pasir Pantai Legian. Rutinitas bersih-bersih pantai ini telah ia jalani secara konsisten selama lebih dari lima tahun bersama para stakeholder, dan bahkan telah dimulainya secara personal lebih dari satu dekade lalu.

“Kalau sendirian, kegiatan ini sudah saya lakukan belasan tahun. Sekarang semua pelaku usaha ikut ambil bagian. Ini kerjaan rutin, bukan seremoni,” tegasnya.

Baca juga:
🔗 Wayan Aksara: Menjaga Bali dari Hulu, Membangun Kesadaran Sampah dari Akar

Pada sebuah Jumat pagi, aksi bersih pantai kembali digelar bersama para pelaku usaha dan komunitas BumiKita, yang fokus pada edukasi pengelolaan sampah. Bagi Puspa Negara, Legian adalah lebih dari sekadar wilayah, ini adalah rumah yang membesarkannya.

Legian: Akar dan Jati Diri

Ia mengenang eranya pada tahun 1970-an, ketika pariwisata Bali masih sangat personal. Wisatawan tinggal di homestay penduduk, berbaur dan belajar budaya langsung dari masyarakat lokal.

“Dulu wisatawan datang mencari pengalaman budaya dan kedekatan sosial. Sekarang, gaya pariwisata lebih modern dan perlu penanganan berbeda. Tapi nilai dasarnya tetap sama: kebersamaan dan saling menghormati,” ungkapnya.

Baca juga:
🔗 Bali Tak Lagi Jadi Pulau Terindah di Asia 2025: Saatnya Kembali pada Keseimbangan Alam dan Budaya

Membangun Sinergi dari Hati

Keberhasilan gerakan kebersihan di Legian berakar pada kemampuan Puspa Negara membangun kolaborasi yang tulus. Ia menyatukan pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat dalam semangat gotong royong.

Bersama Tim BumiKita Legian, berbagai inisiatif digulirkan: aksi bersih pantai mingguan, edukasi lingkungan, hingga penguatan kesadaran wisata berbasis komunitas.

Kedekatannya dengan masyarakat terasa nyata. Saat berjalan di pantai, sapaan hangat datang dari warga yang sedang jogging, petugas kebersihan, hingga pengelola pantai. Kehadirannya bukan sebagai figur yang jauh, melainkan bagian dari mereka.

Visi Membangun Legian dengan Empat Pilar

Puspa Negara menekankan empat pilar utama untuk mewujudkan “Make Legian Great Again”:

  1. Safety & Security: Menjamin keamanan dan kenyamanan bagi setiap pengunjung.

  2. Cleanliness: Menjaga kebersihan lingkungan melalui partisipasi aktif pelaku usaha dan masyarakat.

  3. Infrastructure: Melakukan penataan infrastruktur yang mendukung kawasan Legian, Kuta, dan Seminyak secara berkelanjutan.

  4. Community Engagement: Memperkuat peran masyarakat lokal sebagai tulang punggung harmoni lingkungan dan budaya.

Ia menyebut kolaborasi dengan BumiKita sebagai pilot project yang sukses. “Jumlah mereka tidak banyak, tapi aktif dan berdedikasi. Ada Pak Kakek Ardena sebagai koordinator lapangan. Kalau kita bisa bekerja sama seperti ini, hasilnya luar biasa,” ujarnya.

Konsistensi sebagai Inspirasi

Di tengah kesibukannya di pemerintahan, komitmen Puspa Negara terhadap lingkungan dan sosial tidak pernah luntur. Baginya, menjaga alam adalah bentuk pengabdian tertinggi kepada masyarakat dan spiritualitas hidup.

“Kalau kita menjaga alam, alam akan menjaga kita,” ucapnya dengan penuh keyakinan.

Baca juga:
🔗 Hidup Seperti Padi dan Akar Budaya yang Menguatkan

Gerakan kecil yang ia rintis di Legian kini telah menjadi inspirasi bagi komunitas lain di seluruh Bali. Ia meyakini bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah-langkah kecil yang konsisten dan tulus.

“Pariwisata adalah napas kehidupan di Bali. Saya lahir dan tumbuh dalam dunia pariwisata, karena itu saya punya tanggung jawab moral untuk menjaga warisan ini agar tetap seimbang dengan alam dan budaya,” tuturnya.

Refleksinya menutup perbincangan dengan pesan yang mendalam:

“Perubahan itu kekal. Tapi kesadaran untuk menyeimbangkan diri dengan alam itulah yang membuat Bali tetap hidup.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *