Kadek Armika dan Layangan yang Tak Sekadar Menjadi Pajangan

Kadek membuat layangan yang menarik saat dipajang maupun diterbangkan di alam terbuka.
Bagi Kadek, membuat layangan bukan sekadar bentuk. Karyanya harus memikat saat dipajang di dalam ruangan, sekaligus tetap hidup ketika diterbangkan di alam terbuka. (Foto: Mahendra)

Kadek Armika merupakan salah seorang seniman layangan yang terus mengembangkan bentuk dan gagasan dalam setiap karyanya.

Tidak hanya mengejar keindahan visual, ia juga berusaha membuat layangan yang memiliki gagasan sekaligus tetap mampu menjalankan fungsi utamanya, terbang.

Salah satu karya terbarunya akan dipamerkan di Ubud, Bali, pada akhir Oktober 2026. Karya tersebut mengangkat bentuk dasar otak dan kepala manusia sebagai gagasan utama.

Menurut konsep yang dikembangkan Kadek, otak manusia memiliki dua sisi, kanan dan kiri, yang dalam kehidupan sering kali membawa pikiran ke berbagai arah.

Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk layangan yang tidak hanya artistik, tetapi juga memiliki makna tentang hubungan manusia dengan kehidupan.

Ketika Manusia Memikirkan Bumi

Dalam proses penciptaannya, Kadek mencoba melihat hubungan antara manusia dan bumi. Bumi menjadi ruang kehidupan manusia, sementara manusia dengan pikirannya terus memikirkan bagaimana menjalani dan mempertahankan kehidupan di dalamnya.

Di sinilah gagasan tentang makrokosmos dan mikrokosmos menjadi bagian dari karya tersebut.

Dalam pandangan Bali, manusia dan alam memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Manusia merupakan bagian kecil dari alam semesta, sementara alam menjadi ruang besar yang menaungi kehidupan manusia.

Namun, ada sesuatu yang menurut Kadek justru menarik untuk direnungkan: manusia memiliki otak untuk berpikir, tetapi dalam perjalanan kehidupan, kemampuan berpikir tersebut juga bisa membawa manusia terlalu jauh hingga melupakan keseimbangan dengan alam.

Baca juga:
🔗 Kadek Armika: Menerbangkan Pesan Alam Lewat Karya Seni Layang-Layang

Tidak Hanya Indah, tetapi Harus Bisa Terbang

Bagi Kadek, membuat layangan tidak berhenti pada persoalan bentuk. Sebuah karya memang harus terlihat menarik ketika dipajang di dalam ruangan, tetapi ia juga ingin karya tersebut tetap memiliki kehidupan ketika berada di ruang terbuka.

Karena itu, beberapa hari lalu Kadek mencoba menerbangkan karya terbarunya tersebut. Kondisi angin saat itu sudah mulai berkurang. Ia pun harus menyesuaikan bentuk dan keseimbangan layangan agar tetap mampu mengudara.

Beberapa kali Kadek memperbaiki tali dan pengaturan timba layangan. Ia mengandalkan pengalaman serta feeling untuk membaca arah angin dan respons layangan.

Perlahan, penyesuaian tersebut membuahkan hasil. Layangan akhirnya dapat terbang dan bertahan selama beberapa menit di udara.

Baca juga:
🔗 Menerbangkan Layangan Janggan: Sinergi Angin, Tradisi, dan Kerja Sama Tim

Karya yang Hidup di Ruang Terbuka

Bagi Kadek Armika, proses menerbangkan layangan menjadi bagian penting dari perjalanan sebuah karya. Layangan tidak cukup hanya menjadi benda artistik yang menarik ketika dilihat dari dekat.

Karya tersebut harus mampu berinteraksi dengan angin, ruang, dan alam. Di situlah sebuah layangan menemukan kehidupannya.

Karya terbaru ini menjadi salah satu bagian dari koleksi panjang Kadek Armika sebagai seniman layangan. Ia mencoba mempertemukan unsur seni, gagasan, dan kemampuan teknis dalam satu karya.

Di dalam ruangan, karya itu dapat dilihat sebagai objek seni. Namun ketika dibawa ke ruang terbuka dan diterbangkan, karya tersebut seolah mendapatkan kehidupan baru.

Bagi Kadek, mungkin di situlah tantangan sebenarnya: membuat layangan yang tidak hanya artistik ketika dipandang, tetapi juga tetap hidup ketika diterbangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *