Kadek Armika: Menerbangkan Pesan Alam Lewat Karya Seni Layang-Layang

Kadek Armika membuat layang-layang tradisional Bali, merangkai bahan dengan teliti sebagai wujud pelestarian budaya dan kreativitas.
Kadek Armika menjaga tradisi, merangkai kreativitas di langit dengan cara membuat karya layang-layang (Foto: Dokumentasi)

Kadek Armika, seniman asal Desa Sanur, Bali, membuktikan bahwa kecintaan terhadap seni dapat berjalan seiring dengan profesi utama.

Meski berkarier sebagai seorang arsitek, jiwa seninya tidak pernah terbatas oleh rutinitas pekerjaan.

Ia terus menyalurkan kreativitasnya melalui seni layang-layang tradisional Bali, sebuah medium yang baginya bukan sekadar permainan, melainkan bentuk ekspresi budaya dan refleksi terhadap alam.

Layang-Layang sebagai Ruang Ekspresi dan Filosofi Hidup

Armika dikenal dengan konsistensinya dalam menciptakan karya yang memadukan unsur tradisi dan pesan lingkungan.

Beberapa karyanya dibuat menggunakan bahan-bahan organik, dengan proses sederhana namun menuntut presisi tinggi dan perhitungan matang agar layangan tidak hanya indah dipandang, tetapi juga mampu terbang dengan sempurna.

Bagi Armika, setiap layangan memiliki “jiwa”, dan proses pembuatannya adalah bentuk meditasi, menyatukan pikiran, napas, dan tangan dalam harmoni yang sama dengan angin yang kelak membawanya terbang.

Baca juga:
🔗 Kadek Dwi Armika: Sang Seniman Layang-Layang yang Menghidupkan Laut di Langit

Tunggak Wareng: Simbol Akar yang Berbicara

Karya terbarunya yang berjudul “Tunggak Wareng” kembali menegaskan kepeduliannya terhadap alam dan kehidupan di Bali.

Karya berukuran 25 x 120 x 150 cm ini dibuat dari bambu dan kertas, dan kini dipamerkan dalam pameran bersama di Titik Dua Ubud yang dibuka pada 5 November 2025.

Tunggak Wareng dalam bahasa Bali berarti akar atau pangkal pohon yang tersisa menggambarkan sisa kehidupan alam yang tak lagi dapat tumbuh.

Bagi masyarakat Bali, tunggak wareng tidak boleh dilewati atau dilangkahi karena dipercaya dapat membawa kesakitan.

Secara simbolik, ia mencerminkan luka awal dalam siklus kehidupan manusia dan alam ketika keseimbangannya terganggu.

Karya ini juga menjadi pengingat bahwa setiap pohon yang ditebang seharusnya diiringi dengan penanaman kembali.

Potongan tunggul pohon atau akar besar yang tersisa di tanah, menggambarkan makna Tunggak Wareng dalam konteks alam Bali.
Tunggak Wareng dalam bahasa Bali berarti akar atau pangkal pohon yang tersisa, menggambarkan sisa kehidupan alam yang tak lagi dapat tumbuh (Foto: Dokumentasi)

Seperti halnya kain saput poleng yang menyelimuti batang pohon sebagai simbol penghormatan terhadap Dewa Sangkara, manifestasi Ibu Pertiwi, Tunggak Wareng mengajak kita untuk kembali menyadari nilai spiritual pohon dan alam.

Nilai ini dirayakan setiap hari suci Tumpek Wariga, saat masyarakat Bali memuliakan tumbuh-tumbuhan sebagai sumber kehidupan.

Baca juga:
🔗 Bambu sebagai Guru Kehidupan: Lentur, Rendah Hati, dan Tegar

Pesan untuk Alam dan Generasi Bali Mendatang

Melalui karya ini, Kadek Armika ingin mengingatkan bahwa akar-akar yang tersisa bukan sekadar bagian dari pohon yang tumbang, melainkan tanda peringatan akan keseimbangan alam yang mulai rapuh.

Ia berharap generasi muda Bali tidak hanya menikmati langit penuh layangan, tetapi juga memahami filosofi yang ada di baliknya, tentang hubungan manusia dan alam, tentang keseimbangan, dan tentang tanggung jawab menjaga bumi yang diwariskan.

Menerbangkan Nilai, Bukan Sekadar Layangan

Dengan konsistensinya, Armika menunjukkan bahwa seni bukan hanya tentang bentuk dan keindahan, tetapi juga tentang suara dan kepedulian.

Lewat layang-layang, ia menerbangkan pesan bagi Bali, agar pulau yang indah ini tetap lestari dan penuh kehidupan.

Baginya, setiap layangan yang terbang adalah doa, dan setiap benang yang menahannya adalah pengingat bahwa manusia tak pernah benar-benar lepas dari bumi tempat ia berpijak.

Baca juga:
🔗 Menerbangkan Layangan Janggan: Sinergi Angin, Tradisi, dan Kerja Sama Tim

Penutup

Karya-karya Kadek Armika bukan sekadar hasil tangan seorang seniman, melainkan napas dari seorang anak Bali yang mencintai tanah kelahirannya.

Melalui layang-layang, ia menghadirkan kembali hubungan yang lembut antara manusia dan alam, antara tradisi dan modernitas.

Di langit, karyanya menari membawa pesan bahwa keseimbangan hidup harus dijaga sebagaimana kita menjaga arah angin agar layangan tetap terbang.

Dalam setiap helai bambu dan kertas yang ia rangkai, tersimpan doa agar Bali tidak kehilangan akarnya, agar budaya dan alam tetap hidup berdampingan.

Dan seperti Tunggak Wareng yang ia ciptakan, Armika mengingatkan kita bahwa dari akar yang tersisa, kehidupan baru selalu bisa tumbuh selama ada yang mau merawatnya dengan cinta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *