Dalam hidup, kita sering diajarkan untuk menjadi nomor satu. Prestasi kerap diukur dari peringkat, gelar, atau pencapaian.
Namun, pengalaman mencapai puncak Gunung Kerinci pada tahun 2016 mengajarkan saya makna yang berbeda.
Gunung Kerinci memang “hanya” gunung tertinggi kedua di Indonesia. Namun, bagi saya, angka bukanlah ukuran utama.
Perjalanan menuju puncaknya menuntut kekuatan fisik, mental, waktu, biaya, dan tekad yang tidak dimiliki semua orang. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk berdiri di sana.
Baca juga:
🔗 Gunung Kerinci: Atap Sumatera yang Menantang
Perjalanan itu bermula dari sebuah ketidaktahuan. Seorang teman yang hobi mendaki gunung sedang berada di Jambi.
Saat itu saya sedang mengembara di Bukittinggi. Ia menghubungi dan mengajak saya mendaki Gunung Kerinci.
Tanpa banyak berpikir, saya menerima ajakan tersebut. Ia membantu perjalanan saya menuju Jambi dan saya sempat beristirahat di rumahnya sebelum kami berangkat.
Lucunya, saya sama sekali tidak mencari tahu tentang Gunung Kerinci. Saya bukan seorang pendaki, sehingga tidak pernah terpikir untuk mengetahui tingkat kesulitan ataupun ketinggiannya.
Kami berangkat menggunakan travel menuju Kersik Tuo, pintu masuk pendakian. Berangkat malam dan tiba pagi hari.
Sesampainya di sana kami beristirahat sejenak di basecamp, lalu mencari porter untuk membawa sebagian barang bawaan. Saat itu pun saya masih belum benar-benar memahami gunung yang akan kami daki.
Semua berubah ketika saya mengunggah perjalanan itu ke media sosial. Seseorang mengirim pesan, “Bang, tahu tidak kalau itu gunung tertinggi kedua di Indonesia?”
Kalimat sederhana itu justru memunculkan keraguan. Benarkah saya akan mendaki gunung sebesar itu? Mampukah saya?
Namun, setelah berpikir sejenak, saya berkata pada diri sendiri, “Jalani saja. Toh sudah berada di kaki gunung.”
Di tengah perjalanan, saya beberapa kali menggerutu kepada teman yang mengajak. Saya sempat menyalahkannya karena tidak memberi tahu seperti apa medan yang akan kami hadapi.
Ia pun menjawab dengan nada bercanda, “Kamu sendiri kenapa tidak cari tahu dulu?” Saya hanya bisa tertawa. Ucapannya benar juga.
Meski sempat mengeluh, kami terus melangkah. Selangkah demi selangkah, perlahan tetapi pasti. Menjelang sore kami akhirnya tiba di pos terakhir sebelum summit attack. Ada rasa lega dan bangga karena berhasil melewati perjalanan yang sejak awal penuh keraguan.
Baca juga:
🔗 3805 Mdpl: Kerinci, Sang Guru Keberanian
Keesokan paginya kami melanjutkan pendakian menuju puncak. Di titik tertentu saya merasa tenaga benar-benar habis. Saya berkata kepada teman, “Kamu naik saja. Saya tunggu di sini.” Saat itulah seorang pendaki lain berteriak sambil menunjuk ke depan.
“Bang, yakin tidak lanjut? Itu papan puncaknya sudah kelihatan.”
Kalimat itu seperti membangunkan semangat yang hampir padam. Entah dari mana tenaga itu datang. Saya kembali melangkah, dan akhirnya berhasil berdiri di Puncak Gunung Kerinci. Saya pun sempat mengabadikan momen yang hingga kini masih saya kenang.
Perjalanan turun terasa jauh lebih ringan. Sore harinya kami sudah kembali ke basecamp. Setelah berpisah dengan porter dan pemandu, kami menginap semalam di kota sebelum melanjutkan perjalanan masing-masing.
Kini, ketika mengenang pengalaman itu, saya menyadari bahwa tujuan saya saat itu bukanlah mengejar puncak. Saya hanya mencintai perjalanan. Saya menikmati setiap langkah, setiap pengalaman, dan setiap cerita yang hadir di sepanjang jalan.
Ironisnya, justru karena tidak terlalu terobsesi dengan puncak, saya akhirnya bisa sampai di sana.
Pengalaman itu mengajarkan bahwa hidup tidak selalu tentang menjadi nomor satu. Kadang yang terpenting adalah keberanian untuk melangkah, meski belum tahu apa yang menanti di depan.
Sebab, banyak orang memiliki mimpi mencapai puncak, tetapi belum tentu memiliki kesempatan. Saya bersyukur, melalui cara yang sederhana dan tanpa rencana besar, alam semesta memberi saya kesempatan untuk berdiri di salah satu puncak tertinggi di Indonesia.
Sejak saat itu saya semakin percaya, bahwa pencapaian terbaik bukanlah tentang mengalahkan orang lain, melainkan tentang mengalahkan keraguan dalam diri sendiri.