Persoalan air bersih di wilayah Bali Selatan kembali menjadi sorotan publik. Dalam sebuah pernyataan di podcast, anggota DPD RI perwakilan Bali, Arya Wedakarna, menyoroti serius persoalan distribusi air yang hingga kini masih sering dikeluhkan masyarakat.
Menurutnya, jika persoalan air mati atau distribusi air bersih tidak segera diselesaikan, maka dampaknya akan terus dirasakan oleh masyarakat, khususnya di kawasan Bali Selatan yang pertumbuhan penduduk dan aktivitas pariwisatanya berkembang sangat cepat.
Kondisi ini membuat kebutuhan air bersih meningkat setiap tahun, sementara sistem distribusi yang ada belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan tersebut.
Ia menilai persoalan air bersih bukan lagi sekadar masalah teknis, tetapi sudah menyentuh kebutuhan dasar masyarakat yang harus segera mendapat perhatian serius dari pemerintah dan pihak terkait.
Wilayah Bali Selatan seperti Kuta Selatan, Jimbaran, Ungasan hingga Nusa Dua dikenal sebagai kawasan yang berkembang pesat, baik dari sektor pariwisata maupun permukiman.
Hotel, villa, restoran, serta kawasan hunian baru terus bermunculan mengikuti perkembangan ekonomi di daerah tersebut.
Baca juga:
π Kewajiban Iuran Desa Adat dan Harapan Transparansi
Namun di balik pesatnya pembangunan tersebut, masalah ketersediaan air bersih masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi.
Tidak sedikit masyarakat yang mengeluhkan air sering mati atau distribusinya tidak lancar, terutama pada jam-jam tertentu.
Menurut Arya Wedakarna, kondisi ini harus menjadi perhatian serius karena Bali Selatan merupakan salah satu pusat aktivitas ekonomi di Bali.
Jika kebutuhan dasar seperti air bersih tidak terpenuhi dengan baik, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat lokal, tetapi juga sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
Ia menegaskan bahwa perencanaan pembangunan di Bali Selatan seharusnya berjalan seiring dengan penyediaan infrastruktur dasar, termasuk sistem pengelolaan dan distribusi air bersih yang memadai.
Dalam pandangannya, salah satu solusi jangka panjang untuk mengatasi krisis air bersih adalah dengan mempercepat pembangunan waduk dan bendungan di kawasan Sarbagita, terutama yang dapat menyuplai wilayah Bali Selatan.
Keberadaan waduk dan bendungan tersebut diharapkan mampu menambah cadangan air baku yang selama ini menjadi kendala utama dalam distribusi air bersih.
Dengan sumber air yang lebih stabil, distribusi air ke masyarakat dapat berjalan lebih baik dan berkelanjutan.
Baca juga:
π Jembatan Alas Arum Kutuh Kuta Selatan Mulai Bisa Dilalui
Namun demikian, Arya Wedakarna juga menyoroti persoalan yang lebih mendasar, yaitu kondisi jaringan pipa distribusi air yang sudah tua dan berkarat.
Menurutnya, pembenahan infrastruktur distribusi ini sama pentingnya dengan pembangunan sumber air baru.
Ia mempertanyakan mengapa perbaikan jaringan pipa yang rusak atau sudah tidak layak pakai belum menjadi prioritas utama.
βKenapa tidak memperbaiki pipa-pipa yang sudah karatan?β ujarnya. Menurutnya, jika jaringan distribusi tidak diperbaiki, maka air yang tersedia pun tidak akan bisa disalurkan secara optimal kepada masyarakat.
Akibat distribusi air yang tidak stabil, banyak masyarakat dan pelaku usaha akhirnya bergantung pada suplai air bersih dari mobil tangki. Fenomena ini kini menjadi pemandangan yang cukup sering terlihat di kawasan Bali Selatan.
Mobil tangki pengangkut air bersih tampak lalu lalang setiap hari, terutama di wilayah Kuta Selatan dan sekitarnya.
Air dari tangki tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, usaha pariwisata, hingga berbagai aktivitas lainnya.
Baca juga:
π Senja Indah di Jimbaran di Tengah Cuaca Bali yang Kurang Bersahabat
Harga satu tangki air bahkan bisa mencapai hampir satu juta rupiah. Jika dalam satu hari terdapat sekitar sepuluh titik pengantaran, maka perputaran uang dari bisnis air tangki ini dapat mencapai puluhan juta rupiah dalam sehari.
Menurut Arya Wedakarna, kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih masyarakat sangat tinggi, namun belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh sistem distribusi resmi.
Ia menilai ketergantungan masyarakat terhadap air tangki seharusnya tidak terjadi dalam jangka panjang.
Pemerintah diharapkan dapat segera mengambil langkah nyata, baik melalui pembangunan waduk, peningkatan kapasitas sumber air, maupun pembenahan jaringan distribusi yang sudah tua.
Dengan langkah-langkah tersebut, kebutuhan air bersih masyarakat di Bali Selatan diharapkan dapat terpenuhi secara lebih stabil dan berkelanjutan, sehingga masyarakat tidak lagi harus mengeluarkan biaya besar hanya untuk mendapatkan akses air bersih setiap hari.