Ngayah, Jalan Wayan Aksara Menjaga Alam dan Merawat Budaya Bali

Wayan Aksara menunjukkan semangat ngayah melalui upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Wayan Aksara menunjukkan luasnya semangat ngayah di Bali. Pengabdian tak hanya dalam upacara adat, tetapi juga mencakup upaya menjaga kelestarian lingkungan. (Foto: Dokumentasi)

BALI — Ngayah menjadi salah satu tradisi yang lekat dengan kehidupan masyarakat Bali. Di tengah kesibukan dan perubahan zaman, tradisi ini tetap dijalankan sebagai bentuk pengabdian dan kebersamaan.

Bagi sebagian masyarakat, ngayah bukan sekadar aktivitas, tetapi bagian dari kehidupan yang dijalani, diresapi, dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Hal itu pula yang dilakukan Wayan Aksara, salah seorang aktivis gerakan BumiKita di bawah naungan Yayasan Bumi Kita Nuswantara.

Namanya mungkin lebih dikenal publik sebagai aktivis lingkungan yang aktif menyuarakan kepedulian terhadap kelestarian alam Bali.

Melalui media sosial, Wayan kerap membagikan aktivitasnya bersama rekan-rekan komunitas. Mulai dari mengampanyekan pengurangan penggunaan sampah sekali pakai hingga terlibat dalam berbagai kegiatan bersih-bersih lingkungan di sejumlah wilayah Bali.

Namun, di balik konsistensinya menjaga alam, ada sisi lain dari kehidupan Wayan yang juga tidak kalah kuat, yakni kecintaannya terhadap budaya Bali.

Baca juga:
🔗 Wayan Aksara: Sampah, Budaya, dan Tanggung Jawab Moral

Ngayah untuk Lingkungan

Kepedulian Wayan terhadap lingkungan tidak berhenti pada kampanye atau sekadar menyampaikan pesan.

Ia memilih terlibat langsung dalam berbagai kegiatan bersama komunitas, meluangkan waktu dan tenaganya untuk menjaga lingkungan di sekitarnya.

Baginya, menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menjaga kebersihan, serta mengajak masyarakat untuk semakin peduli terhadap alam menjadi bagian dari aktivitas yang terus ia lakukan di sela-sela kesibukannya.

Apa yang dijalaninya memiliki semangat yang sejalan dengan ngayah—memberikan waktu, tenaga, dan kemampuan secara tulus untuk sesuatu yang diyakini memiliki manfaat bagi kehidupan bersama.

Jika selama ini ngayah lebih banyak dikenal dalam konteks kegiatan adat dan keagamaan, bagi Wayan semangat pengabdian tersebut dapat hadir dalam bentuk yang lebih luas.

Merawat lingkungan, menjaga alam, dan mengajak orang lain untuk ikut peduli juga merupakan cara untuk ngayah.

Sebab, pengabdian tidak selalu harus berlangsung di tempat suci atau dalam kegiatan adat. Ia juga dapat tumbuh dari kepedulian sederhana terhadap tanah, air, udara, dan lingkungan tempat manusia menjalani kehidupan.

Menabuh Tari Sutri di Pura Desa dan Puseh

Di sisi lain, Wayan juga tetap menyempatkan diri untuk menjalankan aktivitas ngayah dalam lingkungan adat.

Beberapa waktu lalu, ia terlihat ngayah dengan menabuh Tari Sutri di Pura Desa dan Puseh Desa Adat Kutri, Buruan, Blahbatuh.

Aktivitas tersebut menjadi gambaran lain dari kesehariannya. Setelah banyak berbicara tentang lingkungan dan mengajak masyarakat mengurangi sampah, ia kembali ke ruang budaya dan adat yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali.

Di tengah kesibukan sebagai aktivis lingkungan, Wayan tetap meluangkan waktu untuk terlibat dalam kegiatan adat.

Ia tidak menempatkan kepedulian terhadap lingkungan dan kecintaan terhadap budaya sebagai dua hal yang berbeda. Keduanya justru berjalan berdampingan.

Baca juga:
🔗 Wayan Aksara: Dari Aktivis Lingkungan hingga Penjaga Denyut Budaya Bali

Menjaga Alam, Merawat Budaya

Apa yang dilakukan Wayan menunjukkan bahwa semangat ngayah memiliki ruang yang luas dalam kehidupan masyarakat Bali.

Menjaga lingkungan dapat menjadi bentuk pengabdian. Begitu pula menjaga tradisi, ikut dalam kegiatan adat, menabuh gamelan, dan meluangkan waktu untuk kepentingan bersama.

Bagi Wayan, keduanya menjadi bagian dari cara untuk menjaga keseimbangan kehidupan. Alam yang dijaga membutuhkan kepedulian, sementara budaya yang diwariskan membutuhkan orang-orang yang bersedia terus menjalaninya.

Di satu sisi ia berada di tengah gerakan lingkungan, mengajak masyarakat mengurangi sampah dan menjaga kebersihan.

Di sisi lain, ia tetap berada di tengah masyarakat adat, menjalankan tradisi yang telah tumbuh dan hidup bersama masyarakat Bali.

Ngayah sebagai Jalan Kehidupan

Pada akhirnya, ngayah bukan hanya tentang seberapa banyak waktu yang diberikan, tetapi tentang kesediaan untuk hadir dan memberikan sesuatu bagi lingkungan di sekitarnya.

Wayan Aksara memilih menjalani semangat tersebut melalui dua ruang yang saling melengkapi: lingkungan dan budaya.

Dari kegiatan bersih-bersih hingga menabuh Tari Sutri di pura, semuanya memiliki satu benang merah, memberikan tenaga, waktu, dan perhatian untuk sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.

Di tengah kehidupan modern yang semakin sibuk, kisah Wayan menjadi pengingat bahwa menjaga Bali tidak hanya dilakukan dengan kata-kata.

Ia bisa dimulai dari tindakan sederhana: merawat alam, menjaga kebersihan, hadir dalam kegiatan adat, dan tetap memberi ruang bagi budaya untuk hidup di tengah perubahan zaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *