Nama Wayan Aksara mungkin saat ini lebih dikenal publik sebagai aktivis lingkungan di Bali.
Melalui media sosial, ia kerap membagikan aktivitasnya bersama rekan-rekan komunitas dalam mengurangi penggunaan sampah sekali pakai serta menggelar aksi bersih-bersih yang di Bali dikenal dengan semangat ngayah, bekerja tulus tanpa pamrih demi kepentingan bersama.
Namun, di balik konsistensinya menjaga alam Bali, tersimpan sisi lain yang tak kalah kuat, kecintaannya pada budaya yang telah tumbuh sejak usia muda.
Baca juga:
🔗 Wayan Aksara: Sampah, Budaya, dan Tanggung Jawab Moral
Sebelum dikenal sebagai pejuang lingkungan, Wayan Aksara lebih dulu menapaki dunia seni tradisi Bali.
Pada era 2000-an, ia dikenal sebagai pelaku seni yang mengomandoi Sanggar Tabuh Lilacita, sebuah kelompok yang cukup diperhitungkan pada masanya. Dari sanalah kecintaannya terhadap seni tabuh semakin terasah.
Tak hanya musik tradisi, darah seni pahat juga mengalir dalam keluarganya. Kakek, ayah, hingga pamannya dikenal sebagai pemahat.
Meski demikian, ia tidak pernah membanggakan garis keturunan tersebut secara berlebihan. Baginya, kemampuan adalah soal kemauan dan proses belajar.
“Siapa pun yang mau belajar, pasti bisa,” menjadi prinsip yang sering ia sampaikan kepada murid maupun rekan-rekannya.
Keyakinan itu terbukti saat awal pandemi Covid-19. Tanpa pernah mempelajari secara khusus, ia bertekad membuat tapel barong.
Berbekal niat dan keyakinan kuat, karya itu akhirnya berhasil diselesaikan, meski menurutnya masih jauh dari kata sempurna.
Ketika ada yang berkomentar bahwa keberhasilannya karena “darah seni”, ia justru meyakini bahwa pikiran yang berkata “bisa” adalah kunci terwujudnya kemampuan tersebut.
Kesadaran terhadap lingkungan mulai tumbuh kuat pada 2014. Sejak saat itu, ia bergabung dengan komunitas berskala internasional yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan.
Perjalanan panjang itu membawanya hingga tahun 2022 untuk mengibarkan gerakan BumiKita di bawah naungan Yayasan Bumi Kita Nuswantara.
Baca juga:
🔗 Komunitas BumiKita: Bergerak Sebelum Isu Menjadi Viral
Baginya, menjaga Bali bukan hanya tentang melestarikan tradisi, tetapi juga merawat alamnya. Budaya dan lingkungan adalah dua hal yang tak terpisahkan, ibarat dua sisi mata uang yang saling menguatkan.
Kini, perjalanan hidup membawanya pada fase berbeda. Jika dahulu aktif tampil di panggung dan terlibat dalam berbagai pertunjukan, saat ini ia lebih banyak berbagi ilmu dan pengalaman.
Salah satu kesibukannya adalah melatih seorang tamu asal Austria, Veronica, yang tengah mendalami seni tabuh Bali, khususnya kendang.
Latihan dilakukan tiga kali dalam sepekan. Dalam waktu kurang lebih tiga bulan, Veronica telah menguasai teknik dasar seperti gilakan, batu-batu, dan jagulan dalam pepanggulan.
Saat ini, pembelajaran memasuki tahap malpal, sebagai bagian dari pendalaman teknik yang lebih kompleks.
Proses ini tidak sekadar mengajarkan teknik, tetapi juga menanamkan pemahaman rasa, disiplin, dan filosofi di balik setiap pukulan kendang.
Bagi Wayan Aksara, mentransfer pengetahuan adalah bentuk tanggung jawab moral agar seni tradisi tetap hidup dan berkembang, bahkan melintasi batas negara.
Baca juga:
🔗 Puja Astawa: Menjaga Budaya Bali Lewat Karya Kreatif
Perjalanan hidup seseorang selalu memiliki fase. Wayan Aksara pernah berada pada masa aktif berkarya dan tampil di panggung.
Kini, ia memilih menjadi jembatan pengetahuan menghubungkan generasi muda dan masyarakat dunia dengan nilai-nilai Bali.
Baginya, menjaga Bali tidak cukup hanya dengan membersihkan sampah atau mengurangi plastik sekali pakai.
Menjaga Bali juga berarti memastikan warisan budaya tetap dipelajari, dipahami, dan dicintai lintas generasi.
Di situlah konsistensinya terlihat: menjaga keseimbangan antara alam dan budaya—dua unsur yang menjadi napas kehidupan Bali.