Reformasi Polri: Kritik dan Keteladanan

Tim reformasi kepolisian menjadi perhatian publik seiring langkah pemerintah dan Polri membentuk tim perubahan.
Institusi kepolisian kini kembali menjadi sorotan publik. Pemerintah dan Polri sama-sama membentuk tim reformasi. (Foto: Moonstar)

Isu mengenai institusi kepolisian kembali menjadi sorotan publik. Pemerintah RI tengah menyiapkan pembentukan Komite Reformasi Kepolisian yang rencananya akan diteken melalui Keputusan Presiden (Keppres) oleh Presiden Prabowo Subianto.

Selaras dengan itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga membentuk Tim Transformasi Reformasi Polri melalui Surat Perintah Nomor: Sprin/2749/IX/TUK.2.1./2025 tertanggal 17 September 2025.

Pembentukan tim yang beranggotakan 52 perwira ini dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat tata kelola sekaligus mengembalikan kepercayaan publik terhadap institusi Polri.

Dalam struktur tersebut, Komjen Pol Chryshnanda Dwilaksana ditunjuk sebagai ketua sekaligus motor penggerak utama, sejalan dengan posisinya sebagai Kalemdiklat Polri.

Baca juga:
🔗 Komjen Pol Chryshnanda Dwilaksana, Ketua Tim Transformasi Reformasi Polri

 

Menyoroti Masalah Rekrutmen

Dalam salah satu podcast, Chryshnanda menegaskan bahwa persoalan mendasar di tubuh Polri berawal dari proses rekrutmen.

Menurutnya, rekrutmen bukan sekadar seleksi administratif, melainkan fondasi yang menentukan kualitas calon anggota kepolisian di masa depan.

“Problem saat perekrutan itu menjadi penting, karena di situlah akar masalah dimulai. Jika rekrutmen tidak berdasarkan ketentuan dan syarat yang berlaku, melainkan karena faktor lain, maka hal itu akan menjadi duri dalam daging. Kalau rekrutmen main-main, ya hasilnya tidak bisa diharapkan,” tegasnya.

Komjen Pol Chryshnanda Dwilaksana ditunjuk sebagai Ketua Tim Transformasi Reformasi Polri.
Komjen Pol Chryshnanda Dwilaksana ditunjuk sebagai Ketua Tim Transformasi Reformasi Polri. (Foto: Dokumentasi)

Bagi Chryshnanda, rekrutmen yang sehat, objektif, dan transparan akan melahirkan personel yang bukan hanya cakap secara teknis, tetapi juga berintegritas dalam menjalankan tugas sebagai pengayom dan pelindung masyarakat.

Baca juga:
🔗 Hoegeng Awards: Menyalurkan Warisan Integritas dalam Tubuh Polri

Kritik terhadap Budaya Patrimonial

Selain soal rekrutmen, Chryshnanda juga menyoroti masih kuatnya budaya patrimonial di tubuh Polri.

Fenomena ini membuat sebagian orang lebih mengandalkan kemampuan menjalin hubungan personal, pandai bersosialisasi, bahkan “sungkem” kepada atasan demi mendapatkan jabatan.

Padahal, menurutnya, mereka yang teguh berpegang pada prinsip justru sering tersisih.

“Mereka yang sedikit keras prinsip, sering dianggap sulit. Akhirnya tersingkir, padahal justru mereka punya idealisme. Orang-orang seperti ini lama-lama mati rasa. Ke depan, biarkanlah yang menentukan jabatan adalah fit and proper test yang benar-benar objektif,” ungkapnya.

Pandangan ini mencerminkan keberanian Chryshnanda dalam mengkritisi pola lama yang dianggap menghambat lahirnya reformasi sejati di tubuh Polri.

Sosok Waris Agono: Tegas dan Rendah Hati

Di sisi lain, muncul sosok Irjen Pol Drs. Waris Agono, M.Si., salah satu figur yang dikenal teguh, disiplin, dan konsisten oleh anggotanya. Sejak Maret 2025, ia dipercaya sebagai Kapolda Maluku Utara.

Karakter tegas Waris tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan terbentuk dari perjalanan panjang karier yang penuh dedikasi serta pengalaman langsung memimpin pasukan di berbagai daerah dengan tantangan yang berbeda.

Lahir di Boyolali pada 28 April 1968, Waris merupakan lulusan Akademi Kepolisian 1990 dan kemudian melanjutkan pendidikan Magister Ilmu Kepolisian di Universitas Indonesia.

Kariernya berakar kuat di Korps Brimob, sebuah satuan yang menuntut disiplin tinggi, kesiapan mental, dan ketangguhan fisik.

Pengalaman panjangnya di Brimob inilah yang membentuk jiwa kepemimpinan Waris, yang tidak hanya menekankan ketegasan, tetapi juga rasa empati kepada bawahan.

Beberapa jabatan strategis yang pernah ia emban antara lain:

  • Komandan Satuan Brimob di Lampung, Kepulauan Riau, dan Jawa Barat

  • Wakapolda Sulawesi Tenggara (2020–2023)

  • Danpas Pelopor Korbrimob Polri (2023–2025)

  • Kapolda Maluku Utara (2025–sekarang)

Saat memimpin Pasukan Pelopor, Waris dikenal vokal dalam mendorong profesionalisme Brimob.

Ia menekankan pentingnya penguasaan alutsista modern, kemampuan taktis di lapangan, serta kesiapan personel menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks.

Di hadapan anggotanya, Waris sering mengingatkan bahwa kekuatan Brimob tidak semata-mata terletak pada senjata, melainkan pada mentalitas prajurit yang siap mengabdi untuk bangsa dan rakyat.

Kepemimpinan yang Berlandaskan Iman

Kini, sebagai Kapolda Maluku Utara, Waris tetap menunjukkan sikap rendah hati. Baginya, jabatan hanyalah amanah yang harus dijalani dengan sebaik-baiknya, bukan tujuan akhir dari karier.

Ketegasannya berpadu dengan kelembutan hati seorang pemimpin yang tidak segan turun langsung ke lapangan, mendengarkan aspirasi masyarakat, maupun menaruh perhatian pada kesejahteraan anak buahnya.

Ia menegaskan keyakinannya bahwa setiap langkah hidup adalah bagian dari ketetapan Tuhan.

“Saya percaya dan beriman kepada takdir Allah SWT. Hingga menjadi Kapolda Maluku Utara saat ini, semua adalah takdir-Nya. Saya tetap Satya Haprabu. Kita harus memperbaiki Polri ini bersama-sama. Saya akan berjuang untuk memperbaiki Polda Malut tanpa harus membakar rumah besar Polri.”

Irjen Pol Drs. Waris Agono, M.Si., Kapolda Maluku Utara, dikenal sebagai sosok tegas dan konsisten dalam kepemimpinan.
Irjen Pol Drs. Waris Agono, M.Si., dikenal sebagai figur yang teguh, disiplin, dan konsisten di mata anggotanya. Sejak Maret 2025 dipercaya mengemban amanah sebagai Kapolda Maluku Utara. (Foto: Dokumentasi)

Pernyataan tersebut tidak hanya menunjukkan kerendahan hati, tetapi juga komitmen kuat untuk membangun Polri dari dalam.

Waris percaya bahwa reformasi sejati harus dimulai dari diri sendiri dan satuan yang dipimpinnya, dengan memberikan teladan nyata melalui disiplin, konsistensi, dan keberanian mengambil sikap.

Di mata anggotanya, Waris adalah sosok pemimpin yang tidak hanya memerintah dari balik meja, melainkan juga hadir di tengah-tengah mereka. Sikap ini membuatnya dihormati, bukan karena jabatannya, melainkan karena ketulusan dalam menjalankan tanggung jawab.

Dengan prinsip hidup yang berlandaskan iman dan dedikasi, Waris Agono menjadi contoh bahwa seorang perwira tinggi Polri bisa tetap teguh, rendah hati, dan mengabdi sepenuh hati tanpa kehilangan integritas maupun loyalitas terhadap institusi yang telah membesarkannya.

Baca juga:
🔗 Pemimpin yang Mendengar: Gaya Kepemimpinan Irjen Pol. Drs. Waris Agono, M.Si

Kritik dan Keteladanan: Dua Wajah Reformasi Polri

Kritik Komjen Pol Chryshnanda terhadap rekrutmen dan budaya patrimonial berpadu dengan keteladanan kepemimpinan Irjen Pol Waris Agono, menghadirkan dua wajah reformasi Polri.

Chryshnanda menekankan pentingnya perubahan sistem, sementara Waris menunjukkan bahwa teladan pribadi dan kepemimpinan berlandaskan iman juga memiliki peran besar.

Jika keduanya berjalan seiring, cita-cita menghadirkan Polri yang profesional, humanis, dan berintegritas bukan sekadar harapan, melainkan langkah nyata menuju perubahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *