Ketika Gaokao Mengingatkan Saya pada Pesan Ayah tentang Pendidikan

Anak muda berkumpul di ruang publik setelah pelaksanaan Gaokao
Setelah pelaksanaan Gaokao, ribuan anak muda terlihat memenuhi ruang-ruang publik, mulai dari jalanan, pusat perbelanjaan, hingga kawasan wisata. (Foto: Dokumentasi)

Bagi Theresia, perempuan asal Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), pendidikan selalu memiliki makna yang istimewa. Ia percaya bahwa pendidikan merupakan salah satu jembatan menuju masa depan yang lebih baik.

Lahir dan dibesarkan di Manggarai dalam keluarga sederhana, Theresia tumbuh dengan nilai-nilai yang kuat tentang pentingnya belajar.

Ayahnya yang berprofesi sebagai guru sejak dini menanamkan keyakinan bahwa ilmu pengetahuan adalah bekal hidup yang tidak akan pernah habis.

Kesempatan berkunjung ke Tiongkok bersama putrinya, Nadine, memberikan pengalaman baru yang semakin memperkuat pandangannya tentang arti pendidikan.

Secara kebetulan, kunjungan mereka bertepatan dengan momen setelah pelaksanaan Gaokao, ujian nasional yang menjadi pintu masuk ke perguruan tinggi di Tiongkok.

Baca juga:
🔗 Ibu Theresia: Perempuan Manggarai yang Menyulam Harapan Lewat Pendidikan

Menyaksikan Euforia Pasca-Gaokao

“Beruntung sekali saya berada di kota ini pada saat yang tepat,” ujar Theresia.

Beberapa hari setelah pelaksanaan Gaokao, ia melihat begitu banyak anak muda memenuhi jalanan, pusat perbelanjaan, hingga kawasan wisata.

Wajah-wajah mereka tampak lega dan bahagia setelah melewati salah satu fase terpenting dalam perjalanan pendidikan mereka.

Tahun ini sekitar 12,9 juta siswa SMA di Tiongkok mengikuti Gaokao. Ujian tersebut dikenal sebagai salah satu seleksi masuk perguruan tinggi paling kompetitif di dunia.

Hasil yang diperoleh bukan hanya menentukan universitas tujuan, tetapi juga sering kali memengaruhi pilihan karier dan masa depan para peserta.

Bagi para siswa, Gaokao bukan sekadar ujian akademik. Di balik lembar soal yang mereka kerjakan tersimpan harapan keluarga, pengorbanan bertahun-tahun, serta impian yang telah dibangun sejak lama.

Tidak mengherankan jika suasana setelah ujian dipenuhi berbagai emosi, mulai dari kegembiraan, kelegaan, hingga kecemasan menanti hasil.

Budaya Belajar yang Sangat Kompetitif

Rasa penasaran membuat Theresia bertanya kepada seorang teman lokal.

“Apa yang terjadi jika seorang siswa tidak mendapatkan nilai sesuai harapan atau gagal masuk universitas yang diimpikan?”

Jawaban yang diterimanya cukup mengejutkan. Banyak siswa memilih menghabiskan satu tahun lagi untuk belajar secara intensif sebelum mengikuti Gaokao berikutnya.

“Saya sempat bertanya, kenapa tidak bekerja dulu selama setahun lalu mengikuti ujian lagi tahun depan?” kenangnya.

Temannya hanya tertawa.

“Tidak bisa begitu. Kalau ingin meningkatkan hasil, mereka harus terus belajar dan berlatih setiap hari. Ritme belajar itu tidak boleh terputus,” jawabnya.

Percakapan sederhana tersebut membuat Theresia semakin memahami betapa seriusnya masyarakat Tiongkok memandang pendidikan.

Keberhasilan akademik tidak hanya dipandang sebagai soal nilai, tetapi juga disiplin, ketekunan, dan kemampuan bertahan menghadapi tekanan.

Banyak keluarga rela mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit demi mendukung pendidikan anak-anak mereka.

Mereka percaya bahwa pendidikan merupakan salah satu jalan terbaik untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Baca juga:
🔗 Rasa Ingin Tahu Anak yang Tinggi, Tantangan Sekaligus Modal Penting untuk Masa Depan

Nilai yang Ternyata Dekat dengan Keluarga Saya

Menariknya, ketika mendengar pandangan tersebut, Theresia justru teringat kepada kedua orang tuanya di Manggarai.

Meskipun lahir dan tumbuh jauh dari Tiongkok, nilai yang ditanamkan orang tuanya ternyata tidak jauh berbeda.

Sejak kecil, ia selalu diajarkan bahwa pendidikan adalah bekal hidup yang sangat berharga. Harta bisa habis, usaha bisa gagal, tetapi ilmu dan kemampuan yang diperoleh melalui pendidikan akan selalu melekat dalam diri seseorang.

Pesan itu terus ia pegang hingga dewasa. Karena itulah ia merasa kagum melihat bagaimana masyarakat Tiongkok menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama.

“Ada kesamaan cara pandang yang melintasi batas negara, budaya, dan generasi,” ujarnya.

Bagi banyak keluarga di Asia, pendidikan bukan sekadar soal memperoleh ijazah. Pendidikan dipandang sebagai sarana untuk membuka peluang, meningkatkan kualitas hidup, dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi generasi berikutnya.

Baca juga:
🔗 Dari Sabang hingga Merauke, Orang-Oranglah yang Tetap Saya Ingat

Ketika Anak Mengingatkan Arti Pendidikan

Meski demikian, dalam mendidik Nadine, Theresia mengaku lebih menekankan pembentukan karakter dibandingkan pencapaian akademik semata.

Baginya, kejujuran, kerja keras, empati, dan tanggung jawab merupakan fondasi yang tidak kalah penting dibandingkan nilai rapor.

Karena itu, ia sering mengingatkan Nadine agar tidak terlalu tertekan oleh angka atau peringkat. Yang terpenting adalah terus belajar dan tidak menyia-nyiakan talenta yang telah diberikan Tuhan.

Namun suatu hari, Nadine justru memberikan jawaban yang membuatnya berpikir.

“Kalau mau jadi scientist, akademik itu sangat penting, Mama. Kalau hanya ingin menjadi pekerja biasa, mungkin boleh bilang akademik tidak terlalu penting.”

Theresia tersenyum mendengar jawaban putrinya. Di balik kalimat sederhana tersebut, ia melihat keyakinan yang kuat tentang pentingnya ilmu pengetahuan dan pendidikan.

Saat itulah ia menyadari bahwa meskipun tidak ingin mendewakan pendidikan formal, nilai tentang pentingnya belajar tetap mengalir kuat dalam keluarganya.

Pendidikan memang bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seseorang. Karakter, integritas, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi tetap memiliki peran yang sangat besar.

Namun pendidikan tetap menjadi salah satu langkah awal yang penting untuk membuka pintu kesempatan dan memperbaiki taraf hidup.

Mungkin itulah sebabnya, ketika melihat ribuan anak muda merayakan berakhirnya Gaokao di Chongqing, Theresia tidak hanya merasa kagum pada sistem pendidikan Tiongkok.

Momen itu juga mengingatkannya pada nilai-nilai yang telah lama hidup dalam keluarganya: bahwa belajar adalah investasi jangka panjang yang hasilnya mungkin tidak langsung terlihat hari ini, tetapi akan sangat berarti di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *